MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Rusia membantah tuduhan memaksa Belarus untuk ikut bertempur dalam perang Ukraina.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan laporan itu tidak sesuai kenyataan.
Peskov menyebut Belarus sebagai sekutu paling dekat bagi Rusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, menteri pertahanan Belarus Viktor Khrenin menuduh pihak Barat sengaja memicu ketegangan.
Khrenin menilai negara-negara NATO terus memperkuat pasukan sepanjang perbatasan Belarus.
Sengketa Stasiun Transmisi dan Sikap Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meyakini Moskow ingin menyeret Belarus menuju pertempuran fisik.
Zelenskyy sempat menuding militer Rusia menggunakan stasiun transmisi Belarus untuk memandu serangan drone.
Ia memberikan waktu satu minggu bagi Presiden Alexander Lukashenko untuk mematikan stasiun itu.
Kini, pihak Kyiv mengonfirmasi stasiun transmisi itu sudah tidak beroperasi lagi.
Komitmen Militer dan Penempatan Rudal Nuklir
Lukashenko memang tidak mengirimkan tentara Belarus secara langsung menuju medan tempur.
Namun, ia mengizinkan Presiden Vladimir Putin meluncurkan invasi dari wilayah Belarus.
Masyarakat Belarus juga harus merelakan wilayahnya menjadi lokasi penempatan rudal nuklir taktis Rusia.
Kedua negara tetangga ini juga sering menggelar latihan militer bersama secara rutin.
Ketergantungan Rusia pada Kilang Minyak Belarus
Rusia sangat bersandar pada dua kilang minyak raksasa milik Belarus saat ini.
Sebab, serangan drone Ukraina sukses melumpuhkan banyak kilang minyak area Rusia.
Kondisi ini memicu kelangkaan bahan bakar minyak yang parah bagi warga Rusia.
Oleh karena itu, Rusia mengimpor bensin dan solar dari Belarus secara besar-besaran.
Data mencatat pengiriman bensin Belarus ke Rusia melonjak hampir 13 kali lipat tahun ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












