Iran Akui Dampak Ekonomi Perang, Tegaskan Tetap Kuasai

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Iran mengakui dampak ekonomi berat akibat perang dengan AS, namun tetap menolak mundur soal kendali Selat Hormuz di tengah sanksi yang terus meningkat. Dok: Istimewa.

Iran mengakui dampak ekonomi berat akibat perang dengan AS, namun tetap menolak mundur soal kendali Selat Hormuz di tengah sanksi yang terus meningkat. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, TEHERAN — Para pemimpin Iran mengakui dampak ekonomi berat akibat perang dengan AS. Pemimpin tertinggi mendesak pemerintah menangani kesulitan hidup, sementara presiden mengungkap perdagangan luar negeri menyusut sepertiga akibat sanksi dan blokade Amerika.

Fokus Pemerintah Atasi Tekanan Ekonomi

Teheran menandakan tidak akan mundur pada Sabtu, bertekad bertahan dari tekanan AS sambil mengejar diplomasi. Pemerintah menegaskan tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang memberi Iran daya tawar lewat kemampuannya mengganggu pasar energi global.

Pemerintah menyatakan lewat media negara bahwa mengatasi tekanan ekonomi akibat sanksi dan perang menjadi fokus utama. Fokus ini mencakup penekanan inflasi, pengelolaan pasar, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan bertahap ketergantungan pada dolar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Enam bulan sejak AS dan Israel melancarkan perang, negosiasi kini menemui jalan buntu. Pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan upaya menghukum Iran secara finansial lewat apa yang mereka sebut sebagai “D-Day ekonomi”.

Baca Juga :  Pasukan Houthi Kuasai Wilayah Strategis Yaman

Sanksi Memperberat Beban Ekonomi Iran

Washington memperingatkan negara lain agar memutus hubungan dagang dengan Iran atau menghadapi sanksi sekunder. Namun, Departemen Keuangan AS belum menjatuhkan sanksi terhadap mitra dagang besar Iran seperti China dan India.

Departemen Keuangan menjatuhkan sanksi terhadap Banque Misr Mesir karena berbisnis dengan Teheran. Mereka mengusulkan aturan yang memutus cabang bank tersebut di Uni Emirat Arab dari transaksi dolar.

Bank sentral Mesir menyatakan pihaknya berkomunikasi dengan pejabat AS soal masalah ini. Banque Misr menegaskan pada Sabtu bahwa cabangnya di UEA tetap melayani nasabah seperti biasa.

AS juga menjatuhkan sanksi terhadap entitas berbasis Hong Kong dan individu terkait Bank Melli Iran. Dorongan sanksi ini memperberat dampak perang terhadap ekonomi Iran, dengan inflasi tahunan mencapai 66 persen bulan lalu.

Seruan Khamenei dan Pengakuan Pezeshkian

Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang belum tampil di publik sejak terluka dalam serangan awal 28 Februari, mendesak pemerintah menangani kesulitan ekonomi. Ia menekankan perlunya penanganan serius terhadap inflasi, pengangguran, dan pengelolaan harga barang.

Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan kepada media negara bahwa ekspor dan impor Iran anjlok hampir 35 persen akibat sanksi AS dan blokade laut. Namun, ia menyebut Iran berhasil menjual sekitar 90 juta barel minyak selama nota kesepahaman singkat AS-Iran pada Juni.

Baca Juga :  Kebakaran Hutan Hebat Terjang Spokane Washington

Pezeshkian kemudian menyerukan pemulihan kesepakatan sementara tersebut lewat TV negara. Ia menegaskan kesepahaman itu dapat menyelesaikan masalah Iran sekaligus memperoleh kembali hak-haknya, termasuk pelonggaran sanksi dan pembekuan aset.

Iran Tegaskan Diplomasi dan Pertahanan Berjalan Beriringan

Sementara AS fokus pada kampanye tekanan ekonomi, pihak lain berupaya menghidupkan kembali upaya diplomatik mengakhiri perang. PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani bertemu pemimpin Iran di Teheran pada Kamis.

Ia menegaskan pentingnya kembali ke status pelayaran terbuka pra-perang di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menggambarkan pembicaraan dengan Al Thani sebagai kreatif.

Dalam pernyataan Sabtu, Iran menegaskan diplomasi dan pertahanan sebagai dua sayap saling melengkapi untuk melindungi kepentingan nasional. Sebelum perang, Selat Hormuz mengangkut 20 persen minyak dan LNG dunia. Trump berulang kali menyatakan selat tersebut terbuka, namun Garda Revolusi Iran menegaskan klaim itu kebohongan nyata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Mulai Kembali Bekerja Dan Menunjukkan Pemulihan
Dua Wanita Menggugat Mantan Anggota DPR AS Matt Gaetz
Jerman Dan Inggris Memperingatkan Upaya Normalisasi Rusia
Sekolah Swasta Runtuh Di Peshawar Menewaskan Puluhan Anak
Kelompok Houthi Menggempur Istana Kepresidenan Aden
Donald Trump Membatalkan Rencana Siaran Eksekusi Mati
Ukraina Akhiri Gencatan Senjata Dan Gempur Kilang Minyak
Penembakan Di Sekolah Dasar Oregon Menewaskan Lima Orang

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:35 WIB

Paus Leo XIV Mulai Kembali Bekerja Dan Menunjukkan Pemulihan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Dua Wanita Menggugat Mantan Anggota DPR AS Matt Gaetz

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:22 WIB

Jerman Dan Inggris Memperingatkan Upaya Normalisasi Rusia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Sekolah Swasta Runtuh Di Peshawar Menewaskan Puluhan Anak

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Kelompok Houthi Menggempur Istana Kepresidenan Aden

Berita Terbaru

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Udara Jakarta Memburuk, Pramono Siagakan 367 Fasilitas Kesehatan

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:15 WIB