POSNEWS.CO.ID, RIYADH — Serangan baru melanda kawasan Teluk dan jalur pipa minyak utama Arab Saudi. Peristiwa ini memicu kekhawatiran krisis pasokan energi global secara meluas.
Eskalasi Serangan Militer dan Jalur Minyak
Kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap jalur pipa minyak sepanjang 1.200 kilometer. Fasilitas ini menjadi jalur utama ekspor minyak Arab Saudi tanpa melintasi Selat Hormuz.
Selain itu, serangan proyektil merusak kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Kelompok Houthi juga berhasil menguasai Pulau Perim di Selat Bab El-Mandeb. Oleh karena itu, gangguan lalu lintas laut mengancam keamanan rantai pasok minyak dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak Harga Minyak dan Stok Ekspor
Harga minyak dunia melonjak melampaui 100 Dolar AS per barel. Sementara itu, harga bahan bakar diesel di Amerika Serikat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Arab Saudi hanya memiliki cadangan minyak di pelabuhan Yanbu untuk kurun lima hingga tujuh hari. Penutupan jalur pipa berisiko menghentikan empat persen dari total pasokan minyak global. Pasokan minyak dunia berpotensi mengalami kelangkaan parah jika perbaikan berlangsung lama.
Penundaan Diplomasi dan Dilema Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Oman mengumumkan penundaan pertemuan diplomatik kawasan secara mendadak. Pihak Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz sebelum tuntutan mereka dipenuhi.
Sementara itu, Pangeran Mohammed bin Salman meminta bantuan militer langsung dari Presiden Donald Trump. Namun, pemerintah Amerika Serikat saat ini hanya memberikan dukungan data intelijen. Dengan demikian, ketegangan politik dan ekonomi di kawasan Timur Tengah diprediksi terus memanas.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













