Oligarki dan Matinya Oposisi: Ketika Demokrasi Terjebak dalam Konsensus Elit

Sabtu, 15 November 2025 - 17:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Demokrasi prosedural berjalan, namun oposisi mati. Ketika semua elit bergabung, rakyat kehilangan pilihan substantif dan demokrasi berubah menjadi oligarki. Dok: Halo Teropong.

Ilustrasi, Demokrasi prosedural berjalan, namun oposisi mati. Ketika semua elit bergabung, rakyat kehilangan pilihan substantif dan demokrasi berubah menjadi oligarki. Dok: Halo Teropong.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Saat ini, kita menyaksikan sebuah paradoks dalam demokrasi modern. Di satu sisi, pemilihan umum (pemilu) berjalan secara rutin dan prosedural. Rakyat datang ke bilik suara, mencoblos, dan pemenang diumumkan. Akan tetapi, di sisi lain, semakin banyak warga merasa tidak memiliki pilihan kebijakan yang substantif. Mereka merasa terjebak dalam siklus yang seolah hanya mengganti wajah, bukan arah kebijakan.

Tesis utamanya adalah demokrasi sedang mengalami regresi. Ia bergeser dari “pemerintahan oleh rakyat” menjadi sekadar mekanisme pembagian kekuasaan antar-elit. Ironisnya, demokrasi justru terancam oleh “konsensus” elit itu sendiri.

Teori Partai Kartel (Cartel Party Theory)

Untuk memahami fenomena ini, kita bisa merujuk pada “Teori Partai Kartel” (Cartel Party Theory) yang para ahli politik seperti Katz & Mair populerkan. Teori ini menjelaskan fenomena di mana partai-partai politik besar tidak lagi bersaing secara ideologis (misalnya, visi ekonomi kiri vs. kanan).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaliknya, mereka secara diam-diam bekerja sama (berkolusi) mirip seperti kartel bisnis. Tujuan utama mereka bukan lagi memenangkan perdebatan ideologi, melainkan membatasi kompetisi dari partai-partai baru (pendatang) dan mengamankan akses bersama ke sumber daya negara (seperti anggaran, BUMN, dan lisensi proyek).

Baca Juga :  Rem Blong Picu Kecelakaan Maut 9 Kendaraan di Tol Cipularang KM 111, 1 Tewas 5 Luka

Akibatnya, fungsi partai bergeser drastis. Mereka tidak lagi bertindak sebagai “wakil masyarakat” (yang membawa aspirasi rakyat ke negara). Justru, mereka berubah menjadi “agen negara” (yang membawa kebijakan negara ke rakyat).

Fenomena “Koalisi Tenda Besar” (Big Tent Coalition)

Di tingkat praktis, kita sering melihat ini dalam bentuk “Koalisi Tenda Besar” (Big Tent Coalition) pasca-pemilu.

Mekanismenya terlihat mulia. Pemenang pemilu mengajak lawan-lawan politiknya untuk bergabung dengan kabinet atas nama “stabilitas nasional” atau “persatuan”. Mereka beralasan bahwa negara perlu bersatu untuk membangun.

Namun, dampak sebenarnya sangat merusak. Ketika mayoritas (atau bahkan semua) partai masuk ke dalam pemerintahan, fungsi check and balances langsung mati. Parlemen kehilangan taringnya. Alih-alih mengawasi eksekutif, parlemen justru menjadi “tukang stempel” kebijakan pemerintah, karena mereka adalah bagian dari pemerintah itu sendiri.

Bahaya Konsensus Elit

Konsensus elit yang gemuk ini menciptakan dua bahaya besar:

  1. Keseragaman Kebijakan: Pertama, ketika tidak ada oposisi yang vokal, pemerintah bisa meloloskan undang-undang kontroversial (seperti UU Cipta Kerja, revisi UU KPK, atau UU Minerba) dengan sangat cepat. Akibatnya, tidak ada lagi perdebatan publik yang memadai atau penyeimbang yang efektif.
  2. Ilusi Pilihan (Oligarki): Kedua, pemilih dihadapkan pada ilusi pilihan. Mungkin ada kandidat A, B, dan C. Akan tetapi, jika ketiganya mendapat dukungan dari kepentingan ekonomi-politik (oligarki) yang serupa, maka siapapun yang menang, kebijakan dasar (terutama di bidang ekonomi dan sumber daya alam) tidak akan berubah.
Baca Juga :  Jepang Kembali Diguncang: Gempa M 6,7 Hantam Aomori, Tsunami Kecil Terpantau

Konsekuensi Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, fenomena ini mengikis fondasi demokrasi:

  1. Krisis Representasi: Rakyat merasa suara mereka tidak lagi berarti melalui jalur formal (pemilu atau parlemen). Mereka merasa terasing dari proses politik.
  2. Apatisme & Ekstremisme: Krisis ini bermuara pada dua hal. Sebagian masyarakat menjadi apatis (misalnya, angka golput meningkat). Sementara itu, sebagian lainnya menjadi semakin ekstrem. Karena saluran formal tersumbat, satu-satunya saluran protes yang tersisa adalah gerakan jalanan (“parlemen jalanan”).

Demokrasi Membutuhkan Oposisi

Pada akhirnya, artikel ini menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan “konflik” yang terlembagakan—yaitu oposisi yang sehat, kritis, dan substantif. Konflik ideologi adalah darah dari demokrasi.

Ketika semua elit berpelukan atas nama “stabilitas”, mereka mungkin sedang menciptakan stabilitas bagi oligarki. Namun, pada saat yang sama, mereka sedang membunuh demokrasi secara perlahan. Mereka mengubahnya menjadi sekadar fasad oligarki yang terselubung.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Serangan drone massal Ukraina menghantam sejumlah wilayah Rusia, merusak fasilitas gudang Wildberries, dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Drone Ukraina Hantam Wilayah Rusia: 8 Orang Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 15:08 WIB

Perusahaan Habita Inc. meminta maaf usai menyuruh dua karyawannya kembali ke dalam Mal Aeon Kashima pasca gempa Kumamoto hingga tewas akibat ledakan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang

Selasa, 4 Agu 2026 - 14:40 WIB

Pemerintah Australia memperingatkan potensi lonjakan penyebaran wabah flu burung H5N1 setelah menemukan kasus kematian massal pertama. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agu 2026 - 13:24 WIB

Kepolisian Twin Falls mengonfirmasi insiden penembakan di restoran In-N-Out Burger, Idaho. Akibatnya, tiga orang tewas dan tujuh warga mengalami luka-luka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 11:49 WIB