Era De-influencing: Matinya Kepercayaan pada Review Berbayar

Sabtu, 22 November 2025 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Influencer kini justru menyuruh kita untuk TIDAK membeli barang viral. Apakah ini akhir dari era

Ilustrasi, Influencer kini justru menyuruh kita untuk TIDAK membeli barang viral. Apakah ini akhir dari era "endorse" palsu? Simak fenomena De-influencing yang sedang mengguncang dunia marketing. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Lini masa media sosial kita sedang mengalami perubahan drastis. Dulu, kita selalu mendengar kalimat sakti: “TikTok made me buy it!”. Para influencer berlomba-lomba membujuk kita untuk membeli produk terbaru.

Namun, angin segar kini berembus dari arah sebaliknya. Muncul gelombang konten kreator baru yang justru berteriak lantang: “Jangan beli barang ini!”.

Fenomena ini memiliki nama: De-influencing. Tren ini mengajak audiens untuk berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang. Seketika, video-video yang membongkar kualitas buruk barang viral pun meledak di pasaran. Mereka tidak lagi memuja produk, melainkan mengkritiknya dengan pedas dan jujur.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Muak dengan Kebohongan “Endorse”

Penyebab utama fenomena ini sangat sederhana. Audiens mulai merasa muak. Pasalnya, mereka lelah dengan konten flexing dan gaya hidup konsumtif yang berlebihan (over-consumption).

Baca Juga :  Rudal Balistik Jadi Andalan Terakhir Putin: Zelenskyy Desak Trump

Kita sering melihat influencer memuji setinggi langit sebuah produk. Padahal, kita tahu mereka melakukannya hanya karena bayaran “endorse”. Ulasan mereka terasa palsu dan penuh kepura-puraan.

Akibatnya, tingkat kepercayaan publik terhadap influencer menurun tajam. Penonton tidak lagi menelan mentah-mentah rekomendasi berbayar tersebut. Mereka merindukan kejujuran di tengah lautan iklan yang menyesatkan.

Berburu Barang Tiruan dan Menahan Dompet

Dampak ekonomi dari tren ini cukup signifikan. Konsumen kini menjadi jauh lebih kritis. Alih-alih membeli kosmetik mahal yang viral, mereka justru mencari dupe atau barang tiruan dengan kualitas serupa namun harga miring.

Selain itu, banyak orang memilih untuk menahan belanja mereka. Mereka menyadari bahwa mereka tidak membutuhkan sepuluh jenis pelembap wajah sekaligus.

Gerakan ini juga sejalan dengan kesadaran lingkungan. Oleh karena itu, menolak membeli barang sampah menjadi bentuk protes nyata terhadap limbah industri fast fashion dan kecantikan.

Baca Juga :  Lisa Marian Dicecar 5 Jam di Bareskrim, Kasus Fitnah RK Makin Panas

Brand Wajib Ubah Strategi

Perubahan perilaku ini memaksa brand untuk memutar otak. Tentu saja, strategi hard selling yang agresif tidak lagi mempan. Konsumen bisa mencium aroma ketidakjujuran dari jarak jauh.

Maka, perusahaan harus beralih ke nilai autentisitas. Mereka harus berani menghadapi ulasan jujur, meskipun itu menyakitkan. Kini, nilai guna produk menjadi jauh lebih penting daripada sekadar wajah cantik influencer yang mempromosikannya.

Koreksi Pasar yang Sehat

Pada akhirnya, era de-influencing bukanlah lonceng kematian bagi industri konten kreator. Sebaliknya, ini adalah koreksi pasar yang sangat sehat.

Industri influencer sudah terlalu jenuh dengan kepalsuan. Lantas, tren ini hadir untuk menyaring siapa yang benar-benar jujur dan siapa yang hanya mengejar uang. Kita sedang memasuki era baru di mana kredibilitas adalah mata uang yang paling berharga.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Capcom Menguji Monster Hunter Wilds di Nintendo Switch 2

Sabtu, 8 Agu 2026 - 12:19 WIB

Kelompok pemberontak Houthi melancarkan serangan rudal dan drone di Marib serta Hadramaut yang menewaskan puluhan prajurit pemerintah Yaman. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agu 2026 - 11:07 WIB

PM Kanada Mark Carney menyebut perundingan dagang dengan AS semakin sengit usai Donald Trump mengancam kenaikan tarif 50 persen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agu 2026 - 09:01 WIB