Trump Tenangkan PM Jepang di Tengah Amukan China

Selasa, 25 November 2025 - 19:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meredam lonjakan biaya hidup. Pemerintah Jepang mengambil langkah proaktif untuk menstabilkan harga energi domestik setelah penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan minyak nasional. Dok: Istimewa.

Meredam lonjakan biaya hidup. Pemerintah Jepang mengambil langkah proaktif untuk menstabilkan harga energi domestik setelah penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan minyak nasional. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mendapatkan suntikan moral penting dari sekutu utamanya. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghubunginya secara langsung pada Selasa (25/11/2025).

Panggilan telepon ini terjadi di momen yang sangat krusial. Pasalnya, Tokyo sedang terlibat perselisihan diplomatik sengit dengan Beijing.

Takaichi mengungkapkan isi pembicaraan tersebut kepada wartawan dengan wajah lega. “Presiden Trump menyebutkan bahwa dia dan saya adalah teman yang sangat baik. Bahkan, dia meminta saya untuk menghubunginya kapan saja,” ujar Takaichi.

Trump mengambil inisiatif untuk menghubungi Takaichi lebih dulu. Langkah ini seolah menepis kekhawatiran publik Jepang mengenai komitmen keamanan Washington.

Buntut Komentar “Kontingensi Taiwan”

Ketegangan antara Jepang dan China bermula dari pernyataan blak-blakan Takaichi di parlemen awal bulan ini. Saat itu, ia menyebut bahwa serangan China terhadap Taiwan dapat memicu aksi militer Jepang.

Seketika, Beijing merespons dengan kemarahan luar biasa. Mereka bahkan menangguhkan perjalanan wisata ke Jepang sebagai bentuk protes keras.

Baca Juga :  Pria di Tangerang Simpan Sabu 44,83 Gram dan 100 Ekstasi di Jok Motor

China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak segan menggunakan kekuatan militer. Sebaliknya, Taiwan menolak klaim tersebut dan bersikeras menentukan nasibnya sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Trump Main Dua Kaki?

Dalam panggilan tersebut, Trump juga menceritakan pembicaraannya dengan Presiden China, Xi Jinping. Sebelumnya, Xi menegaskan kepada Trump bahwa “kembalinya” Taiwan ke China adalah visi mutlak Beijing.

Namun, Trump tampaknya memilih strategi yang hati-hati. Di media sosial Truth Social, ia memuji hubungan dagang yang kuat dengan China. Anehnya, ia sama sekali tidak menyinggung isu Taiwan secara terbuka.

Sikap diam Trump ini sempat memicu kecemasan di Tokyo. Beberapa pejabat khawatir Trump akan mengorbankan Taiwan demi kesepakatan dagang dengan China. Oleh karena itu, telepon langsung Trump ke Takaichi menjadi sinyal penenang yang sangat mereka butuhkan.

Baca Juga :  Mahkamah Agung Batalkan Tarif Global dan Rebut Kembali Wewenang Pajak

Rudal di Yonaguni dan Ketakutan Tokyo

Situasi di lapangan kian memanas. Jepang terus memperkuat militernya dengan dukungan AS. Baru-baru ini, Tokyo berencana menempatkan unit rudal permukaan-ke-udara di Pulau Yonaguni.

Pulau ini terletak sangat dekat dengan Taiwan. Tentu saja, Beijing mengecam rencana tersebut sebagai provokasi militer yang berbahaya. Sebagai respons, Jepang bahkan mengerahkan jet tempur setelah mendeteksi drone China terbang di area tersebut pada Senin lalu.

Meskipun Takaichi menolak menarik ucapannya, Tokyo tetap membuka pintu dialog. Wakil Menteri Luar Negeri Jepang telah bertemu Duta Besar China untuk meredam ketegangan.

Akan tetapi, Beijing menolak pertemuan tingkat tinggi antara Takaichi dan Perdana Menteri China Li Qiang di KTT G20 Afrika Selatan. Akibatnya, para analis memprediksi hubungan kedua raksasa Asia ini akan memasuki “musim dingin” yang panjang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Reuters

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemukim Israel Bakar Desa-Desa Palestina di Tengah Eskalasi Perang Regional
Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat
Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk
Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026
Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem
Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari
Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026
Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 20:36 WIB

Pemukim Israel Bakar Desa-Desa Palestina di Tengah Eskalasi Perang Regional

Senin, 23 Maret 2026 - 19:10 WIB

Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat

Senin, 23 Maret 2026 - 18:30 WIB

Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk

Senin, 23 Maret 2026 - 17:14 WIB

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:57 WIB

Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem

Berita Terbaru

Ilustrasi, Perebutan garis depan terakhir. Mencairnya es di Kutub Utara membuka jalur perdagangan baru dan akses energi yang memicu persaingan militer antara Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Mar 2026 - 17:14 WIB