Kolonialisme Hijau? Dampak Pajak Karbon bagi Negara Berkembang

Kamis, 27 November 2025 - 06:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Politik hijau di meja perundingan. Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan instrumen ekonomi dan diplomatik yang mendefinisikan ulang kekuatan negara di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Politik hijau di meja perundingan. Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan instrumen ekonomi dan diplomatik yang mendefinisikan ulang kekuatan negara di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Uni Eropa (UE) baru saja memperkenalkan senjata baru dalam perang melawan perubahan iklim. Senjata itu bernama Carbon Border Adjustment Mechanism atau CBAM. Singkatnya, ini adalah aturan pajak karbon lintas batas yang ketat.

Mulai tahun 2026, importir di Eropa wajib membayar sertifikat karbon. Terutama, jika mereka membeli barang dari negara yang proses produksinya menghasilkan emisi tinggi.

Sepintas, niat kebijakan ini terlihat mulia demi menekan emisi global. Namun, negara-negara berkembang mencium aroma lain yang kurang sedap. Mereka menuding kebijakan ini sebagai bentuk “Kolonialisme Hijau”.

Mekanisme Pajak: Pukulan Bagi Industri Kotor

Bagaimana CBAM bekerja? Mekanismenya cukup sederhana namun mematikan. UE akan mengenakan biaya tambahan pada komoditas impor tertentu.

Sektor yang menjadi target utama meliputi besi, baja, semen, pupuk, aluminium, dan listrik. Jika produsen di negara asal tidak bisa membuktikan bahwa mereka rendah karbon, importir Eropa harus membayar selisih harganya.

Akibatnya, produk dari negara berkembang menjadi lebih mahal dan kalah bersaing di pasar Eropa. Produk lokal Eropa yang diklaim “lebih hijau” akan mendapatkan keuntungan pasar yang besar.

Baca Juga :  Kemenag Gelar Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H pada 19 Maret 2026, Libatkan BMKG dan BRIN

Proteksionisme Berkedok Lingkungan

Kritik pedas pun berdatangan dari belahan dunia selatan (Global South). Banyak pihak menilai CBAM hanyalah bentuk proteksionisme perdagangan yang licik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Eropa membungkus hambatan dagang ini dengan kemasan isu lingkungan yang cantik. Padahal, tujuan aslinya mungkin untuk melindungi industri dalam negeri mereka dari serbuan produk murah Asia atau Afrika.

Negara maju sudah mencemari bumi selama ratusan tahun selama revolusi industri mereka. Kini, saat mereka sudah kaya, mereka menendang tangga tersebut agar negara lain tidak bisa naik. Inilah yang para kritikus sebut sebagai ketidakadilan sejarah.

Tantangan Berat bagi Ekspor Indonesia

Indonesia tidak luput dari ancaman ini. Faktanya, sektor industri besi dan baja nasional sedang tumbuh pesat. Eropa merupakan salah satu pasar tujuan ekspor yang potensial.

Baca Juga :  Kebangkitan Global South: Menuntut Tatanan Ekonomi Dunia yang Lebih Adil

Penerapan CBAM akan menjadi tembok tebal bagi eksportir kita. Pasalnya, industri pengolahan nikel dan baja di tanah air masih sangat bergantung pada energi batu bara yang murah namun kotor.

Oleh sebab itu, produk Indonesia akan terkena tarif CBAM yang tinggi. Pengusaha harus memutar otak untuk melakukan dekarbonisasi secepat mungkin atau kehilangan pangsa pasar di Benua Biru.

Ketimpangan Standar dan Keadilan Iklim

Pada akhirnya, isu ini bermuara pada satu pertanyaan mendasar tentang keadilan. Menuntut standar lingkungan yang sama rata pada semua negara adalah tindakan yang problematis.

Negara maju dan negara berkembang berada pada tahap pembangunan yang berbeda. Tentu saja, kapasitas teknologi dan finansial mereka tidak sebanding.

Maka, memaksakan aturan “satu ukuran untuk semua” justru akan memperlebar jurang ketimpangan global. Kita sepakat bumi harus selamat. Akan tetapi, beban penyelamatan itu tidak boleh menghancurkan hak negara miskin untuk maju dan sejahtera.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:20 WIB

Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:17 WIB

Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB