Diplomasi Jebakan Utang: Mitos atau Realita di Balik Belt and Road China?

Minggu, 30 November 2025 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Visi kemitraan masa depan. Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengajak Belgia untuk mempererat tradisi kerja sama yang saling menguntungkan dan menjaga sistem perdagangan dunia yang terbuka di tengah dinamika hubungan China-Uni Eropa.  Dok: Istimewa.

Visi kemitraan masa depan. Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengajak Belgia untuk mempererat tradisi kerja sama yang saling menguntungkan dan menjaga sistem perdagangan dunia yang terbuka di tengah dinamika hubungan China-Uni Eropa. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — China sedang menggambar ulang peta perdagangan dunia lewat ambisi raksasanya, Belt and Road Initiative (BRI). Jalur sutra modern ini membentang dari Asia hingga Afrika lewat pembangunan pelabuhan, jalan tol, dan rel kereta.

Banyak negara berkembang menyambut hangat kucuran dana segar dari Beijing. Namun, di balik kemegahan beton dan aspal, muncul tuduhan serius dari negara Barat.

Mereka menyebut strategi ini sebagai “Diplomasi Jebakan Utang” atau Debt-Trap Diplomacy. Intinya, China dituduh sengaja meminjamkan uang ke negara yang tidak mampu membayar. Tujuannya, Beijing bisa menyita aset strategis negara tersebut saat gagal bayar terjadi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mimpi Buruk Hambantota

Narasi ini menemukan contoh paling nyata di Sri Lanka. Negara pulau tersebut meminjam dana besar untuk membangun Pelabuhan Hambantota yang megah. Sayangnya, proyek tersebut sepi kapal dan merugi.

Sri Lanka akhirnya gagal membayar cicilan utang mereka. Akibatnya, pada tahun 2017, pemerintah Kolombo terpaksa menyerahkan pengelolaan pelabuhan tersebut kepada perusahaan China selama 99 tahun.

Baca Juga :  Milisi Kurdi Siapkan Serangan Darat ke Iran dengan Restu AS dan Israel

Kasus ini menjadi “poster” peringatan bagi dunia. Seketika, ketakutan akan hilangnya kedaulatan nasional menyebar ke negara-negara penerima utang lainnya, mulai dari Pakistan hingga Kenya.

Mitos atau Kelalaian Peminjam?

Meskipun demikian, banyak ekonom berpendapat bahwa narasi “jebakan” ini terlalu menyederhanakan masalah. Kita perlu melihat data dengan lebih jernih.

Studi dari Chatham House menunjukkan fakta menarik. Masalah utang Sri Lanka sebenarnya bukan hanya karena China. Faktanya, porsi utang Sri Lanka ke pasar modal Barat dan bank pembangunan multilateral justru jauh lebih besar.

China sering kali datang sebagai pemberi pinjaman terakhir saat negara tersebut sudah “sakit” secara fiskal. Selain itu, kita tidak boleh melupakan peran agensi negara peminjam.

Korupsi domestik dan perencanaan proyek yang buruk oleh elit politik lokal sering kali menjadi biang kerok utama. Jadi, menyalahkan China sepenuhnya mungkin kurang tepat.

Baca Juga :  BSN Desak Percepatan Akreditasi Keberlanjutan Kelapa Sawit

Infrastruktur vs Krisis Fiskal

Dampak ekonomi dari BRI memang bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, negara miskin sangat membutuhkan infrastruktur untuk memacu pertumbuhan ekonomi. China menawarkan solusi cepat tanpa syarat politik yang rumit seperti IMF.

Namun, risiko krisis fiskal jangka panjang sangatlah nyata. Suku bunga pinjaman komersial China sering kali lebih tinggi daripada pinjaman lunak lembaga dunia.

Jika proyek infrastruktur tersebut tidak menghasilkan keuntungan ekonomi (seperti kasus Hambantota), negara peminjam akan terjebak dalam lubang defisit yang dalam.

Transparansi adalah Kunci

Pada akhirnya, perdebatan ini mengajarkan satu hal krusial. Negara berkembang harus cerdas dalam mengelola utang. Transparansi kontrak menjadi harga mati.

Pemerintah tidak boleh menandatangani kesepakatan rahasia yang merugikan anak cucu. Sebaliknya, mereka harus memastikan studi kelayakan proyek berjalan objektif.

Utang bisa menjadi alat pembangunan yang ampuh jika kita mengelolanya dengan benar. Tetapi, utang akan berubah menjadi tali gantungan jika kita menggunakannya secara serampangan, entah pemberi pinjamannya dari Timur atau Barat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer
Hamas Sepakati Peta Jalan Pelucutan Senjata di Gaza
Hakim Hukum Robert Bush 20 Tahun Penjara Akibat Penipuan
Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis
Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya
14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 09:30 WIB

Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 08:48 WIB

Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:41 WIB

Hamas Sepakati Peta Jalan Pelucutan Senjata di Gaza

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 06:37 WIB

Hakim Hukum Robert Bush 20 Tahun Penjara Akibat Penipuan

Berita Terbaru

Rampungnya proses syuting Elden Ring. Sutradara Alex Garland dan studio A24 menyelesaikan tahapan pengambilan gambar film adaptasi game bernilai 100 juta dolar AS. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring

Sabtu, 1 Agu 2026 - 13:24 WIB