60.000 Orang Super Kaya Kuasai Kekayaan Setara Separuh Penduduk Bumi

Rabu, 10 Desember 2025 - 16:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Mobil mewah yang biasanya menjadi simbol kekayaan bagi para konglomerat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Mobil mewah yang biasanya menjadi simbol kekayaan bagi para konglomerat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia sedang menghadapi krisis ketimpangan yang mencapai titik ekstrem. Sebuah laporan otoritatif terbaru, World Inequality Report 2026, menampar kita dengan data statistik yang mencengangkan.

Laporan yang disusun oleh 200 peneliti ini mengungkap konsentrasi kekayaan yang tidak masuk akal. Tercatat, kurang dari 60.000 orang—atau hanya 0,001 persen populasi dunia—memegang kendali atas harta yang luar biasa besar.

Nilai kekayaan kelompok elit super kecil ini setara dengan tiga kali lipat gabungan kekayaan seluruh separuh penduduk terbawah di bumi. Artinya, segelintir orang memiliki kuasa finansial yang jauh melampaui miliaran manusia lainnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Piramida Terbalik: 10% Kuasai 75%

Struktur ekonomi global kini menyerupai piramida terbalik yang rapuh. Faktanya, 10 persen orang terkaya di dunia menguasai 75 persen dari total kekayaan global.

Sebaliknya, nasib miris menimpa separuh populasi termiskin. Mereka harus berebut sisa kue ekonomi yang sangat kecil, yakni hanya 2 persen dari total kekayaan dunia.

Baca Juga :  Dua Kerangka Hangus di Gedung ACC Kwitang, Keluarga Hilag Tes DNA di Labfor Polri

Ricardo Gómez-Carrera, peneliti dari Paris School of Economics, memimpin penyusunan laporan ini. “Hasilnya adalah dunia di mana minoritas kecil memegang kekuatan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis tim penulis.

Sementara itu, miliaran orang lainnya tersingkir. Mereka bahkan tidak memiliki stabilitas ekonomi paling dasar sekalipun.

Tumbuh Dua Kali Lebih Cepat

Kesenjangan ini tidak menyusut, melainkan melebar dengan kecepatan tinggi. Kekayaan para multijutawan telah tumbuh sekitar 8 persen setiap tahunnya sejak 1990-an.

Padahal, laju pertumbuhan kekayaan 50 persen penduduk terbawah hanya setengah dari angka tersebut. Akibatnya, yang kaya berlari kencang meninggalkan yang miskin jauh di belakang.

Ekonom Prancis ternama, Thomas Piketty, turut memberikan peringatan keras. Menurutnya, ketimpangan pada tahun 2025 telah mencapai level yang menuntut perhatian mendesak. Hal ini bukan lagi sekadar fitur ekonomi, tetapi ancaman bagi stabilitas demokrasi.

Ketimpangan Peluang dan Pajak Miliarder

Laporan tersebut juga menyoroti akar masalah lain, yakni ketimpangan peluang. Contohnya, pengeluaran pendidikan per anak di Eropa dan Amerika Utara mencapai 40 kali lipat lebih tinggi daripada di Afrika Sub-Sahara.

Baca Juga :  Jepang Sukses Luncurkan Roket H3 Tanpa Booster

Oleh karena itu, para peneliti mengajukan solusi konkret. Mereka mendesak penerapan pajak global sebesar 3 persen bagi centi-milioner dan miliarder.

Jika diterapkan pada kurang dari 100.000 orang super kaya, pajak ini bisa menghasilkan dana segar $750 miliar per tahun. Jumlah tersebut setara dengan anggaran pendidikan seluruh negara berpendapatan rendah dan menengah.

Jejak Karbon Si Kaya

Di sisi lain, ketimpangan juga terjadi dalam perusakan lingkungan. Kelompok kaya memegang peran utama dalam krisis iklim melalui investasi mereka.

Data global menunjukkan fakta pahit. Separuh penduduk termiskin hanya menyumbang 3 persen emisi karbon dari kepemilikan modal. Sebaliknya, 10 persen teratas bertanggung jawab atas 77 persen emisi tersebut.

Pada akhirnya, mengurangi ketimpangan adalah pilihan politik. Joseph Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, menyerukan pembentukan panel internasional untuk melacak masalah ini. Tujuannya, agar dunia bisa bergerak dari sekadar wacana menuju redistribusi yang adil.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal
Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot
Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Berita Terbaru

Langkah taktis raksasa teknologi. Apple menunjuk Samsung Display sebagai pemasok tunggal panel OLED touchscreen untuk MacBook OLED dan iPhone Ultra. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Apple Tunjuk Samsung Display Garap Panel MacBook OLED

Minggu, 2 Agu 2026 - 14:06 WIB

Inovasi gawai modular dua fungsi. HoverAir merilis konsep Versa yang menggabungkan kamera gimbal genggam dan drone terbang pintar dalam satu perangkat. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HoverAir Memperkenalkan Perangkat Modular Versa

Minggu, 2 Agu 2026 - 13:00 WIB

Peta baru industri hiburan interaktif. Krisis memori RAM global, kebijakan tarif impor, serta inflasi mengakhiri era konsol gaming murah 500 dolar AS secara permanen. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Krisis Memori dan Tarif Global Dorong Harga Gawai Gaming

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:00 WIB