Logam Tanah Jarang: Harta Karun Masa Depan yang Lebih Strategis dari Emas

Kamis, 18 Desember 2025 - 10:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih mahal dari emas? Logam Tanah Jarang adalah nyawa teknologi modern. Simak potensi

Ilustrasi, Lebih mahal dari emas? Logam Tanah Jarang adalah nyawa teknologi modern. Simak potensi "harta karun" ini di lumpur Lapindo dan limbah timah Bangka. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Emas dan minyak bumi mungkin pernah menjadi raja komoditas dunia. Namun, di era digital ini, takhta tersebut mulai bergeser. Dunia kini memburu sekelompok unsur kimia yang bernama Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements.

Nama ini mungkin terdengar asing di telinga awam. Padahal, kehidupan modern kita akan lumpuh total tanpanya. Ponsel pintar di saku Anda tidak akan menyala. Layar sentuh tidak akan berfungsi.

Bahkan, teknologi militer canggih seperti sistem pemandu rudal dan jet tempur F-35 sangat bergantung pada logam ini. LTJ juga menjadi jantung dari revolusi energi hijau. Turbin angin dan motor mobil listrik membutuhkan magnet permanen super kuat yang terbuat dari Neodymium, salah satu jenis LTJ.

China Memegang Kunci Dunia

Nilai strategis LTJ membuat geopolitik dunia memanas. Saat ini, China memegang kendali mutlak. Negeri Tirai Bambu itu menguasai lebih dari 80 persen rantai pasok pengolahan LTJ global.

Dominasi ini membuat negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan Eropa, ketar-ketir. Pasalnya, China bisa menggunakan LTJ sebagai senjata politik. Jika Beijing menutup keran ekspor, industri teknologi Barat akan mati suri dalam hitungan minggu.

Baca Juga :  Kasus Ijazah Jokowi Memanas, Roy Suryo Minta Uji Forensik Ulang oleh BRIN atau UI

Oleh karena itu, negara-negara maju kini berlomba mencari sumber alternatif. Mereka ingin melepaskan diri dari ketergantungan pada China. Di sinilah, Indonesia muncul sebagai pemain potensial yang diperhitungkan.

Harta Karun di Balik Limbah

Indonesia ternyata menyimpan kekayaan LTJ yang melimpah. Uniknya, harta karun ini sering kali tersembunyi di tempat yang tak terduga.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Bangka Belitung, LTJ terkandung dalam mineral monasit. Dulu, penambang menganggap monasit hanya sebagai limbah sisa penambangan timah. Mereka membuangnya begitu saja. Kini, kita tahu bahwa tumpukan “sampah” itu bernilai triliunan rupiah.

Selain itu, kejutan datang dari Sidoarjo. Badan Geologi menemukan indikasi keberadaan LTJ, termasuk Lithium dan Stronsium, di dalam lumpur Lapindo. Bencana alam yang dulu menyengsarakan warga, ternyata memuntahkan material kritis yang menjadi rebutan dunia.

Tantangan: Radioaktif dan Teknologi Rumit

Meskipun potensinya besar, jalan menuju “Raja LTJ” sangatlah terjal. Tantangan utamanya bukan pada penambangan, melainkan pada proses ekstraksi dan pemisahan.

Baca Juga :  Polisi Gadungan Todong Ojek Online di Duri Kepa, Motor Raib Dibawa Kabur

Mengolah LTJ membutuhkan teknologi yang sangat canggih dan mahal. Kita harus memisahkan 17 unsur kimia yang memiliki sifat sangat mirip satu sama lain.

Masalahnya kian pelik karena keberadaan mineral ikutan. Monasit sering kali bercampur dengan unsur radioaktif seperti Uranium dan Thorium. Akibatnya, proses pengolahan berisiko menghasilkan limbah nuklir yang berbahaya jika tidak kita tangani dengan benar.

Peluang Emas Indonesia

Pada akhirnya, Indonesia berdiri di persimpangan jalan. Kita memiliki bahan bakunya. Pertanyaannya, apakah kita mampu mengolahnya sendiri?

Kita tidak boleh mengulangi kesalahan masa lalu dengan hanya menjual tanah air mentah. Pemerintah harus serius mendorong alih teknologi dan investasi pengolahan LTJ di dalam negeri.

Jika berhasil, Indonesia akan naik kelas. Kita bukan lagi sekadar pengekspor komoditas, tetapi pemain kunci dalam rantai pasok teknologi tinggi dunia. Logam Tanah Jarang adalah tiket emas kita menuju masa depan, asalkan kita berani mengambil risiko untuk menguasainya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolri Naikkan Pangkat 47 Pati Polri, Ini Daftar Lengkap Jenderal Baru 2026
Mengapa Penurunan Populasi Burung di Amerika Serikat Kian Mempercepat?
Puncak Mudik 2026 Naik 4,26%, Korlantas Tutup Tol MBZ dan Terapkan Contraflow
Hai Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H Jatuh Pada 21 Maret 2026, Ini Penjelasan Kemenag
Fed Tahan Suku Bunga: Jerome Powell Waspadai Inflasi Energi Akibat Perang Iran
Pertemuan 2 Jam Prabowo–Megawati di Istana, Bahas Politik dan Geopolitik Global
Xi Jinping dan Berdimuhamedov Pererat Kemitraan Strategis China-Turkmenistan
IMO Usulkan Jalur Aman untuk 20.000 Pelaut yang Terjebak di Teluk

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:25 WIB

Kapolri Naikkan Pangkat 47 Pati Polri, Ini Daftar Lengkap Jenderal Baru 2026

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:10 WIB

Mengapa Penurunan Populasi Burung di Amerika Serikat Kian Mempercepat?

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:55 WIB

Puncak Mudik 2026 Naik 4,26%, Korlantas Tutup Tol MBZ dan Terapkan Contraflow

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:34 WIB

Hai Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H Jatuh Pada 21 Maret 2026, Ini Penjelasan Kemenag

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:00 WIB

Fed Tahan Suku Bunga: Jerome Powell Waspadai Inflasi Energi Akibat Perang Iran

Berita Terbaru