Afrika Selatan Kerahkan Pasukan ke Cape Town Lawan Teror Geng Kriminal

Kamis, 2 April 2026 - 17:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

CAPE TOWN, POSNEWS.CO.ID – Sirene kendaraan lapis baja memecah keheningan di Mitchells Plain pada Rabu pagi. Pasukan militer Afrika Selatan dengan perlengkapan tempur lengkap dan senapan serbu mulai merangsek masuk ke pemukiman-pemukiman padat yang selama ini menjadi medan tempur geng kriminal.

Dalam konteks ini, pengerahan tentara terjadi hampir 50 hari setelah Presiden Cyril Ramaphosa menandatangani perintah operasi. Langkah drastis ini diambil tepat saat dua orang tewas dalam aksi kekerasan terbaru yang melanda wilayah pesisir tersebut.

Tragedi Subuh: Dua Nyawa Melayang di Hanover Park

Kekerasan geng tidak menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun militer telah bersiaga di perbatasan kota. Pada pukul 05.00 waktu setempat, dua pria berusia 25 dan 33 tahun tewas ditembak di kawasan Hanover Park. Bahkan, beberapa jam sebelumnya, seorang pria berusia 27 tahun juga menderita luka tembak serius dalam insiden terpisah di Mitchells Plain.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini menciptakan suasana horor bagi warga setempat. Seorang nenek berusia 65 tahun mengungkapkan rasa takutnya yang mendalam. “Saya tidak bisa tidur sepanjang malam. Anak perempuan saya harus berangkat kerja pukul empat pagi, dan itu membuat saya sangat cemas,” ujarnya kepada media tanpa menyebutkan identitas demi keamanan.

Baca Juga :  Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun

Operasi Prosper: 2.200 Prajurit dan Mandat Satu Tahun

Presiden Ramaphosa meluncurkan “Operasi Prosper” sebagai respon atas status Afrika Selatan sebagai salah satu negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia (di luar zona perang). Oleh karena itu, militer memiliki mandat khusus untuk mendukung polisi dalam menumpas kejahatan terorganisir dan penambangan ilegal.

Secara khusus, operasi ini mencakup:

  1. Personel: Mobilisasi lebih dari 2.200 tentara nasional.
  2. Durasi: Kontrak operasional selama satu tahun penuh.
  3. Cakupan Wilayah: Lima dari sembilan provinsi, termasuk pusat keuangan Gauteng (Johannesburg).

Malvin Gordan, seorang pensiunan berusia 69 tahun, menyambut baik kehadiran militer tersebut. Menurutnya, hanya dengan keberadaan fisik tentara di sudut-sudut jalan, para anggota geng mulai mundur dan tidak berani melakukan konfrontasi terbuka secara sembarangan.

Rekam Jejak Intervensi Militer di Afrika Selatan

Penggunaan tentara untuk urusan keamanan domestik bukanlah hal baru di Afrika Selatan. Terlebih lagi, pemerintah telah berulang kali beralih ke angkatan darat saat menghadapi krisis nasional. Sejarah mencatat keterlibatan militer dalam penegakan lockdown COVID-19 tahun 2020 dan penanganan kerusuhan mematikan pasca-pemenjaraan Jacob Zuma pada 2021.

Baca Juga :  Bareskrim dan BI Musnahkan 466 Ribu Lembar Uang Palsu, 1.241 Tersangka Ditangkap

Selain itu, militer juga turun tangan pada tahun 2023 setelah gelombang pembakaran truk memicu ketakutan akan kerusuhan massal. Pada tahun 2019, sebanyak 1.300 tentara juga pernah ditempatkan di Cape Flats guna memberikan bantuan serupa bagi kepolisian setempat. Pengulangan pola ini menunjukkan bahwa ketergantungan pemerintah terhadap militer semakin kuat akibat kegagalan reformasi kepolisian sipil yang berkelanjutan.

Mengharap Kedamaian Permanen

Masa depan keamanan di Cape Town kini bergantung pada seberapa efektif koordinasi antara SANDF dan polisi dalam membongkar struktur kepemimpinan geng. Pada akhirnya, kehadiran tentara dipandang sebagai solusi sementara untuk menghentikan pertumpahan darah secara cepat.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah Operasi Prosper mampu menurunkan angka pembunuhan yang mencapai 60 jiwa per hari tersebut di tahun 2026. Tanpa adanya perbaikan ekonomi dan penghapusan kemiskinan sistemik di wilayah Cape Flats, kehadiran senjata api di jalanan akan tetap menjadi ancaman permanen bagi generasi mendatang Afrika Selatan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga
Andy Burnham dan Macron Gelar Pertemuan Resmi Pertama

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Minggu, 6 September 2026 - 13:30 WIB

USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan

Berita Terbaru

PM Yunani Kyriakos Mitsotakis janjikan pemangkasan pajak dan kenaikan gaji jelang pemilu, di tengah protes buruh atas biaya hidup tinggi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 Sep 2026 - 17:25 WIB

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. (Posnews/NET)

DAERAH

Penumpang Merak-Bakauheni Turun Imbas Erupsi Anak Krakatau

Minggu, 6 Sep 2026 - 16:39 WIB