AI Elon Musk Tersandung Skandal Pornografi Anak dan Deepfake

Minggu, 4 Januari 2026 - 16:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Fitur baru Grok dituding mempermudah pembuatan gambar tak senonoh dari foto anak-anak dan perempuan, memicu penyelidikan kriminal di Prancis. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Fitur baru Grok dituding mempermudah pembuatan gambar tak senonoh dari foto anak-anak dan perempuan, memicu penyelidikan kriminal di Prancis. Dok: Istimewa.

SAN FRANCISCO, POSNEWS.CO.ID – Ambisi Elon Musk di dunia kecerdasan buatan (AI) kembali menabrak tembok etika yang keras. Pada hari Jumat, Grok—alat AI besutan xAI—mengumumkan bahwa mereka sedang berjuang memperbaiki celah keamanan fatal dalam sistem mereka. Langkah darurat ini menyusul laporan pengguna bahwa alat tersebut mengubah foto anak-anak atau perempuan menjadi gambar erotis.

“Kami telah mengidentifikasi kelalaian dalam perlindungan dan sedang memperbaikinya dengan segera,” tulis akun resmi Grok di platform X (sebelumnya Twitter). Mereka menegaskan bahwa Materi Pelecehan Seksual Anak (CSAM) adalah ilegal dan terlarang.

Tombol “Edit” yang Menelanjangi

Badai kritik mulai menghantam X setelah Grok meluncurkan tombol “edit image” pada akhir Desember lalu. Fitur ini memungkinkan pengguna memodifikasi gambar apa pun di platform tersebut. Sayangnya, sejumlah pengguna menyalahgunakannya untuk menghapus sebagian atau seluruh pakaian dari foto perempuan dan anak-anak secara digital.

Respons perusahaan terhadap krisis ini terkesan defensif. Saat AFP meminta konfirmasi, xAI—perusahaan yang Musk jalankan—hanya memberikan balasan otomatis yang ketus: “media arus utama berbohong.”

Baca Juga :  Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars

Namun, chatbot Grok memberikan jawaban berbeda saat seorang pengguna X menanyainya langsung. AI tersebut mengakui bahwa perusahaan di Amerika Serikat dapat menghadapi tuntutan pidana jika secara sadar memfasilitasi atau gagal mencegah pembuatan pornografi anak.

Tekanan Hukum Global: Dari New Delhi hingga Paris

Kontroversi ini memicu alarm internasional. Pejabat pemerintah di India menuntut X memberikan rincian konkret mengenai rencana mereka mencegah pembuatan konten “cabul, telanjang, tidak senonoh, dan menjurus secara seksual” oleh Grok.

Sementara itu, situasi di Eropa lebih genting bagi Musk. Kantor kejaksaan umum di Paris, Prancis, telah memperluas penyelidikan mereka terhadap X. Mereka menambahkan tuduhan baru bahwa alat AI tersebut menjadi sarana pembuatan dan distribusi pornografi anak. Langkah ini menyusul penyelidikan awal pada bulan Juli terkait dugaan manipulasi algoritma untuk campur tangan asing.

Baca Juga :  Apartemen Cisauk Disulap Jadi Pabrik Sabu, 2 Pelaku Raup Rp1 Miliar

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peringatan yang Diabaikan

Para ahli yang memantau kebijakan X menyebut skandal ini sebagai bencana yang sudah terprediksi. Reuters melaporkan bahwa perusahaan telah mengabaikan peringatan keras dari masyarakat sipil dan kelompok keselamatan anak tahun lalu.

Tyler Johnston, direktur eksekutif The Midas Project, kelompok pengawas AI, mengungkapkan kekecewaannya. “Pada bulan Agustus, kami memperingatkan bahwa pembuatan gambar xAI pada dasarnya adalah alat penelanjangan (nudification tool) yang menunggu untuk dijadikan senjata,” ujarnya. “Itulah yang pada dasarnya terjadi sekarang.”

Selanjutnya, Dani Pinter, direktur hukum Pusat Nasional Eksploitasi Seksual, menambahkan kritik tajam. Menurutnya, X gagal menyaring gambar-gambar kasar dari materi pelatihan AI mereka. Seharusnya, X memblokir pengguna yang meminta konten ilegal sejak awal.

“Ini adalah kekejaman yang sepenuhnya dapat diprediksi dan dihindari,” tegas Pinter.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terbaru

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB