JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan Anda berjalan di pantai dan menemukan sebongkah benda abu-abu berlilin yang tampak kotor. Anda mungkin akan menendangnya begitu saja. Namun, jika Anda tahu benda itu adalah ambergris, Anda mungkin akan melompat kegirangan.
Ambergris sering dijuluki sebagai “emas terapung”. Harganya bisa menyaingi emas murni. Pada zaman kuno, zat ini sangat dipuja karena khasiat medisnya dan dipercaya sebagai afrodisiak yang ampuh jika dicampur anggur.
Dunia parfum mewah pun sangat bergantung padanya. Pasalnya, ambergris memiliki kemampuan unik sebagai zat pengikat (fixing agent). Ia membuat aroma wangi bertahan jauh lebih lama daripada bahan lainnya.
Bingung Membedakan dengan Ambar
Sejarah mencatat kebingungan massal mengenai asal-usul benda ini. Orang Arab menyebutnya ‘anbar’, yang kemudian orang Barat adopsi menjadi ‘amber’.
Akibatnya, masyarakat awam sering menyamakannya dengan batu ambar (amber) atau suksinit. Padahal, batu ambar adalah getah pohon yang memfosil dan biasanya berwarna kuning.
Penulis Herman Melville dalam novel legendaris Moby Dick (1851) sempat mengejek kebodohan ini. “Ambar adalah zat keras, transparan, dan tidak berbau untuk pipa rokok. Sedangkan ambergris itu lunak, berlilin, dan sangat harum,” tulis Melville.
Misteri Terpecahkan: Muntahan Paus Sperma
Teka-teki asal-usul ambergris akhirnya terpecahkan oleh sains. Pada 1783, botanis Joseph Banks mempresentasikan temuan dr. Franz Xavier Schwediawer ke Royal Society of London.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka membuktikan bahwa ambergris berasal dari dalam tubuh paus sperma (sperm whale). Sebelumnya, penjelajah Marco Polo pada abad ke-13 memang pernah melihat paus memuntahkan benda tersebut di Samudra Hindia. Namun, Polo salah mengira bahwa paus itu menelan ambergris dari laut, bukan memproduksinya sendiri.
Paus sperma adalah raksasa lautan yang mampu menyelam hingga kedalaman 3.000 meter. Makanan favorit mereka adalah cumi-cumi raksasa. Sayangnya, paruh cumi-cumi yang tajam sulit dicerna dan mengiritasi usus paus.
Lantas, usus paus memproduksi cairan hitam berbau busuk untuk membungkus paruh tajam tersebut. Cairan inilah yang kemudian dimuntahkan keluar.
Setelah terpapar udara dan air laut, muntahan itu mengeras, berubah warna menjadi abu-abu, dan mengeluarkan aroma wangi yang khas. Sering kali, paruh cumi masih bisa kita temukan tertanam di dalam bongkahan ambergris tersebut.
Pemburu Paus dan Larangan Perdagangan
Tingginya nilai ambergris memicu perburuan paus sperma secara gila-gilaan pada abad ke-19 dan 20. Tercatat, hampir 30.000 paus dibantai hanya dalam kurun waktu 1963-1964. Lebih dari 90 persen pasokan ambergris dunia saat itu berasal dari bangkai paus hasil buruan.
Beruntung, larangan perburuan paus pada 1984 menyelamatkan spesies ini dari kepunahan. Bahkan, Undang-Undang Perlindungan Mamalia Laut 1972 di AS sudah lebih dulu melarang perdagangan ambergris.
Kini, industri parfum mulai beralih ke bahan sintetis. Akan tetapi, seiring pulihnya populasi paus liar, pemandangan “emas terapung” yang terdampar di pantai mungkin akan kembali menjadi rezeki nomplok bagi para penyisir pantai yang beruntung di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















