Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setelah Iran dan Venezuela, kini Kuba. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk

Setelah Iran dan Venezuela, kini Kuba. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk "mengambil alih" Kuba, saat negara kepulauan tersebut lumpuh total akibat blokade minyak dan kegagalan jaringan listrik. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertajam retorika agresifnya terhadap Kuba pada hari Senin. Ia mengharapkan “kehormatan” untuk mengambil alih Kuba dan mengeklaim kekuasaan penuh atas negara tetangganya itu.

“Saya benar-benar percaya bahwa saya akan mendapatkan kehormatan untuk mengambil Kuba. Itu adalah kehormatan besar. Mengambil Kuba dalam beberapa bentuk,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office. Pernyataan ini muncul saat krisis energi hebat sedang melanda pulau tersebut.

Tuntutan Mundur Presiden Diaz-Canel

Menyusul pernyataan Trump, laporan New York Times mengungkapkan bahwa Amerika Serikat menjadikan penggulingan Presiden Miguel Diaz-Canel sebagai tujuan utama pembicaraan bilateral. Laporan tersebut menyebut perwakilan AS telah memberi sinyal kepada para negosiator Kuba agar Diaz-Canel segera melepaskan jabatannya.

Namun, pemerintah Kuba menolak segala bentuk campur tangan asing dalam urusan internal mereka. Presiden Diaz-Canel (65) menuntut agar pembicaraan dengan AS menjunjung tinggi prinsip kesetaraan, kedaulatan, serta penentuan nasib sendiri. Kuba memandang tuntutan Washington agar pemimpin mereka mundur sebagai penghambat besar bagi tercapainya kesepakatan damai.

Baca Juga :  Kasus Matel Tewas di Kalibata: Enam Polisi Yanma Mabes Polri Jadi Tersangka, Terancam Dipecat

Blokade Minyak dan Kolapsnya Jaringan Listrik

Kebijakan Trump meningkatkan tekanan terhadap Kuba setelah ia menghentikan seluruh pengiriman minyak dari Venezuela. Penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, memicu sanksi strategis ini dari pihak Amerika Serikat. Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif tinggi terhadap negara mana pun yang nekat menjual minyak ke Kuba.

Akibatnya, Kuba tidak menerima pasokan minyak sama sekali selama tiga bulan terakhir. Krisis energi yang parah ini memaksa pemerintah untuk menetapkan penjatahan listrik yang sangat ketat. Jaringan listrik nasional Kuba kolaps total pada hari Senin dan memutus aliran listrik bagi 10 juta orang. Kejadian ini melumpuhkan seluruh aktivitas ekonomi di negara tersebut.

Baca Juga :  Cuaca Hari Ini Sabtu 7 Maret 2026: Hujan Mengguyur Sejak Siang, Waspada Angin Kencang

Melanggar Janji Sejarah 1962?

Retorika Trump yang menyebut Kuba sebagai target “berikutnya” memicu kekhawatiran diplomatik di tingkat global. Selama puluhan tahun, pemerintah Amerika Serikat selalu menaati janji untuk tidak menginvasi Kuba. Perjanjian tahun 1962 dengan Uni Soviet guna menyelesaikan Krisis Rudal Kuba mendasari sikap menahan diri ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga detik ini, Gedung Putih belum menjelaskan dasar hukum untuk melakukan intervensi militer ke Kuba. “Kami sedang berbicara dengan Kuba, tapi kami akan menyelesaikan urusan Iran sebelum Kuba,” ujar Trump saat berada di Air Force One. Kawasan Karibia kini menghadapi ketidakpastian keamanan yang sangat tinggi akibat situasi genting ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pabrik Uang Palsu di Purwakarta Digerebek, Pelaku Ditangkap di Warung Nasi Goreng
Pukulan Telak bagi RFK Jr.: Hakim AS Blokir Perombakan Kebijakan Vaksin Nasional
Serangan Udara Pakistan Tewaskan 400 Orang, Islamabad Bantah Target Sipil
Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto
Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut
Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional
Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pabrik Uang Palsu di Purwakarta Digerebek, Pelaku Ditangkap di Warung Nasi Goreng

Selasa, 17 Maret 2026 - 19:17 WIB

Pukulan Telak bagi RFK Jr.: Hakim AS Blokir Perombakan Kebijakan Vaksin Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 18:10 WIB

Serangan Udara Pakistan Tewaskan 400 Orang, Islamabad Bantah Target Sipil

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:03 WIB

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:40 WIB

Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut

Berita Terbaru