Bagaimana Sistem Listrik Melindungi Kita dari Sambaran Petir?

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Satu sambaran petir bisa menghasilkan 1 miliar volt listrik. Tanpa sistem pelindung yang canggih, lonjakan arus ini bisa membakar kota dan mematikan jaringan nasional dalam sekejap. Dok: Unsplash.

Ilustrasi, Satu sambaran petir bisa menghasilkan 1 miliar volt listrik. Tanpa sistem pelindung yang canggih, lonjakan arus ini bisa membakar kota dan mematikan jaringan nasional dalam sekejap. Dok: Unsplash.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di era digital ini, miliaran perangkat terhubung ke jaringan listrik dunia. Ketergantungan ini membawa risiko besar. Tanpa perlindungan yang memadai, gangguan layanan listrik dapat berdampak katastrofik bagi individu, kota, bahkan seluruh negara.

Dalam kondisi normal, pelanggan menerima arus listrik yang stabil dengan variasi minimal. Namun, musuh utama sistem ini adalah “arus berlebih” atau overcurrent.

Prinsipnya sederhana namun krusial: semakin tinggi besaran lonjakan arus, semakin cepat sistem harus memutusnya. Jika tidak, peralatan elektronik akan rusak, atau lebih buruk lagi, memicu kebakaran akibat penyalaan termal pada sirkuit yang kelebihan beban.

Ancaman 1 Miliar Volt dari Langit

Penyebab lonjakan arus sangat beragam, mulai dari trafo yang baru menyala hingga terlalu banyak beban pada satu sirkuit. Namun, ancaman terbesar datang dari alam: badai listrik.

Di Amerika Serikat saja, badai jenis ini membunuh 67 orang setiap tahun. Arus intens dari pelepasan petir menciptakan medan magnet yang sangat kuat, meski hanya sesaat.

Faktanya mencengangkan. Satu sambaran petir dapat menghasilkan hingga satu miliar volt listrik. Jika petir menyambar rumah, ia dapat dengan mudah menghancurkan semua peralatan elektronik di dalamnya dan merusak sistem distribusi yang terhubung ke rumah tersebut.

Baca Juga :  Pemerintah Yaman Serbu Separatis Selatan di Hadramout

Analogi Banjir Sungai

Ketika arus berlebih terjadi di titik pasokan utama seperti pembangkit listrik, dampaknya bisa menjalar seperti air bah. Bayangkan sebuah sungai yang menjebol tanggulnya: air membanjiri sungai-sungai kecil, yang kemudian membanjiri jalanan dan rumah-rumah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Demikian pula dengan listrik. Tegangan ekstra mengalir liar melalui jaringan kabel hingga ia bisa melepaskan energi berlebihnya ke bumi.

Inilah mengapa insinyur melengkapi setiap peralatan dalam sistem distribusi dengan mekanisme “pembumian” (grounding). Mekanisme ini membiarkan kelebihan listrik terbuang langsung ke tanah, alih-alih merusak jaringan lebih jauh.

Relay Cerdas dan Risiko Blackout

Di dalam gardu distribusi, perlindungan lonjakan arus bertumpu pada alat bernama “relay arus lebih”. Ini adalah sakelar cerdas yang memantau tegangan. Jika sumber lonjakan dekat, relay akan mati seketika.

Namun, ada dilema teknis. Saat satu sirkuit mati, listrik mungkin beralih ke sirkuit sebelah. Hal ini bisa menyebabkan sirkuit tetangga kelebihan beban (overloaded). Pada titik ekstrem, efek domino ini bisa memicu pemadaman total (blackout) pada seluruh jaringan.

Baca Juga :  RSUD Bekasi Tangani Korban Tabrakan Kereta, Mayoritas Patah Tulang - 17 Pasien Dirawat

Untuk mencegahnya, insinyur merancang relay dengan respons tunda waktu (time-delay). Jika gangguan terjadi jauh, relay akan menunda sedikit sebelum mematikan aliran. Strategi ini memungkinkan sebagian arus lewat ke sirkuit berikutnya sehingga tidak ada sirkuit tunggal yang menanggung beban berlebih sendirian.

Benteng Terakhir di Rumah Anda

Di tingkat rumah tangga, pertahanan kita bergantung pada sekering (fuse) dan pemutus arus (circuit breaker). Biasanya, alat ini tersembunyi di dalam kotak meteran listrik.

Cara kerjanya mirip penjaga pintu: mereka mengizinkan arus normal lewat, tetapi segera “menjegal” atau memutus aliran jika arus yang masuk terlalu besar.

Meskipun banyak perangkat modern memiliki pelindung lonjakan internal, para ahli tetap menyarankan penggunaan perangkat pelindung tambahan untuk barang sensitif seperti komputer dan televisi.

Dunia modern tidak bisa eksis tanpa listrik yang andal. Meskipun kita tidak bisa sepenuhnya menghindari lonjakan arus, perlindungan berlapis dari pembangkit hingga kotak sekering rumah memastikan kita tetap aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:20 WIB

Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:17 WIB

Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB