Demo BEM UI di Bundaran HI Diadang Aparat, Koalisi Sipil Protes Pengerahan TNI dan Komcad

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ribuan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi bertajuk Menuju Indonesia Bangkrut di kawasan Bundaran HI dan Tosari, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026), dengan pengawalan ketat aparat gabungan Polri dan TNI. (Posnews/Ist)

Ribuan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi bertajuk Menuju Indonesia Bangkrut di kawasan Bundaran HI dan Tosari, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026), dengan pengawalan ketat aparat gabungan Polri dan TNI. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Aksi demonstrasi mahasiswa bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026), memicu polemik baru.

Selain membawa lima tuntutan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, aksi tersebut juga menuai kritik dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan terkait keterlibatan TNI dan dugaan pengerahan Komponen Cadangan (Komcad).

Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus, termasuk BEM UI, sempat tertahan di kawasan Tosari setelah aparat gabungan Polri dan TNI membatasi pergerakan massa menuju Bundaran HI.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski demikian, aksi berlangsung dengan pengawalan ketat aparat keamanan.

Di tengah jalannya demonstrasi, Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari sejumlah organisasi seperti LBH Jakarta, LBH Pers, AJI Jakarta, PBHI, ICJR, ELSAM, Imparsial, YLBHI, KontraS, dan Walhi, melayangkan protes keras terhadap pengerahan unsur TNI dalam pengamanan aksi.

Koalisi menyoroti surat Kementerian Pertahanan Nomor B/752/VI/2026/BACADNAS tertanggal 11 Juni 2026 yang memerintahkan sekitar 500 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tergabung dalam Komponen Cadangan mengikuti Apel Siaga Komcad pada 12 Juni 2026.

Baca Juga :  Bareskrim Segel THM New Zone Medan, Dugaan TPPU Narkoba, Ini Kronologinya

Menurut koalisi, pemerintah seharusnya menjadikan pelibatan militer sebagai opsi terakhir dalam negara demokrasi, terutama ketika aparat sipil masih mampu mengendalikan situasi keamanan.

“Mobilisasi TNI dan Komcad dalam menghadapi aksi demonstrasi mahasiswa merupakan kebijakan yang keliru dan berpotensi menimbulkan persoalan serius terkait fungsi pertahanan negara,” tulis koalisi dalam pernyataan resminya.

Soroti Fungsi Komcad

Koalisi menegaskan pemerintah membentuk Komcad untuk memperkuat pertahanan negara saat menghadapi ancaman militer atau keadaan darurat, bukan untuk menghadapi aksi penyampaian pendapat di muka umum.

Koalisi menegaskan pemerintah harus mengerahkan Komcad secara akuntabel, proporsional, transparan, dan berdasarkan parameter ancaman yang jelas sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (UU PSDN).

Karena itu, koalisi mempertanyakan alasan pemerintah mengerahkan Komcad di tengah situasi nasional yang dinilai tidak sedang menghadapi perang maupun ancaman pertahanan negara.

“Ancaman apa yang sedang dihadapi negara sehingga membutuhkan pengerahan Komcad?” tulis koalisi.

Koalisi juga mengingatkan bahwa Polri memiliki kewenangan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sementara TNI berfungsi sebagai komponen utama pertahanan negara.

Baca Juga :  Roy Suryo,Cs Diperiksa Sebagai Tersangka, Polda Metro Pastikan Proses Hukum Berimbang

Lebih lanjut, koalisi menilai mobilisasi Komcad pada 12 Juni 2026 berpotensi bertentangan dengan ketentuan UU PSDN.

Mereka merujuk Pasal 63 ayat (1) yang memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menetapkan mobilisasi saat seluruh atau sebagian wilayah Indonesia berada dalam keadaan perang atau darurat militer.

Selain itu, Pasal 63 ayat (2) mengatur bahwa Presiden harus memperoleh persetujuan DPR sebelum menetapkan mobilisasi.

Mahasiswa Bawa Lima Tuntutan

Sementara itu, mahasiswa tetap menyuarakan lima tuntutan utama dalam aksi tersebut, yakni:

  1. Menghentikan pemborosan APBN.
  2. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
  3. Menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
  4. Mengakhiri militerisme di ranah sipil.
  5. Mendesak Presiden Prabowo mengakui kesalahan pemerintah atas berbagai persoalan nasional.

Aksi serupa tidak hanya berlangsung di Jakarta. Aksi serupa juga berlangsung di Bandung dan Solo dengan tuntutan terkait ekonomi, lapangan kerja, dan kebijakan pemerintah.

Hingga Jumat malam, situasi di Bundaran HI dan Jalan MH Thamrin tetap kondusif dengan pengamanan aparat. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Korupsi Motor Listrik BGN, Kejagung Tahan Pengendali PT Yasa Arta Trimanunggal
Natalius Pigai Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak HAM Berlandaskan Nilai Pancasila
Demo ‘Menuju Indonesia Bangkrut’ Digelar di Bundaran HI, 4.151 Aparat Disiagakan
BGN Pastikan Anak Keluarga Mampu Dicoret dari Program Makan Bergizi Gratis
Bos Jaringan Narkoba Australia Ditangkap di Bali, Angelo Pandeli Masuk Interpol Blue Notice
Mahasiswa Kepung Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan untuk Pemerintah Prabowo
Aksi Tolak Kenaikan BBM di Jakarta Pusat Disorot, Potensi Gejolak Politik Menguat
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:29 WIB

Demo BEM UI di Bundaran HI Diadang Aparat, Koalisi Sipil Protes Pengerahan TNI dan Komcad

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:43 WIB

Kasus Korupsi Motor Listrik BGN, Kejagung Tahan Pengendali PT Yasa Arta Trimanunggal

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:17 WIB

Natalius Pigai Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak HAM Berlandaskan Nilai Pancasila

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:44 WIB

Demo ‘Menuju Indonesia Bangkrut’ Digelar di Bundaran HI, 4.151 Aparat Disiagakan

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:12 WIB

BGN Pastikan Anak Keluarga Mampu Dicoret dari Program Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Keiko Fujimori Unggul Tipis Atas Roberto Sánchez

Jumat, 12 Jun 2026 - 17:09 WIB