BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Pasukan militer Israel kembali meluncurkan serangan udara secara masif ke wilayah Lebanon selatan. Langkah taktis ini memicu pertempuran sengit dengan kelompok milisi Hezbollah di perbatasan.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan serangan udara tersebut menewaskan sedikitnya 16 warga sipil. Sementara itu, militer Israel menegaskan bahwa operasi gempuran udara masih berlangsung aktif hingga hari Jumat ini.
Ancaman Nyata bagi Kesepakatan Damai AS-Iran
Eskalasi pertempuran baru ini berpotensi merusak draf kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sebab, isi perjanjian awal menuntut penghentian total operasi militer di semua front pertempuran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesepakatan tersebut juga mewajibkan semua pihak untuk menghormati kedaulatan penuh wilayah negara Lebanon. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak keras untuk menarik mundur pasukannya dari perbatasan.
Netanyahu menghadapi tekanan politik yang sangat berat menjelang pemilihan umum sela pada akhir tahun ini. Oleh karena itu, ia bersikeras mempertahankan pasukan militer di Lebanon hingga ancaman Hezbollah sirna sepenuhnya.
Penundaan Negosiasi Damai di Swiss
Ketegangan di lapangan akhirnya mengganggu jadwal pertemuan diplomatik penting antara perwakilan Washington dan Tehran di Swiss. Wakil Presiden AS JD Vance secara mendadak menangguhkan rencana keberangkatannya menuju Swiss pada hari Kamis kemarin.
Pihak Gedung Putih berdalih hambatan logistik menjadi pemicu utama dari penundaan perjalanan delegasi tersebut. Namun, stasiun televisi Al-Mayadeen menyajikan analisis yang berbeda mengenai pembatalan rencana pertemuan tersebut.
Stasiun televisi sekutu Hezbollah tersebut mengonfirmasi bahwa Iran sengaja menunda pengiriman delegasi mereka ke Swiss. Langkah boikot ini merupakan bentuk protes keras Iran atas agresi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon.
Peringatan Keras JD Vance untuk Israel
Sebelumnya, Presiden Donald Trump menandatangani kesepakatan damai awal bersama Iran di Istana Versailles Prancis pada hari Rabu. Pertemuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron tersebut menghasilkan draf kesepakatan yang langsung berlaku aktif.
Usai penandatanganan dokumen, JD Vance melayangkan peringatan lisan yang sangat keras dan serius kepada pemerintah Israel. Ia mengingatkan agar Israel menghormati proses perdamaian transisi ini dengan penuh tanggung jawab.
Vance menegaskan bahwa Donald Trump merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang masih menaruh simpati bagi Israel saat ini. Oleh karena itu, Israel harus berhati-hati agar tidak kehilangan dukungan diplomatik satu-satunya dari negara adidaya tersebut.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












