Fenomena Brainrot: Ketika Otak Kita Membusuk Akibat Konten Sampah

Sabtu, 22 November 2025 - 18:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Video looping tanpa makna dan humor absurd kini menjajah layar. Waspada, kemampuan fokus kita sedang dipertaruhkan oleh konten

Ilustrasi, Video looping tanpa makna dan humor absurd kini menjajah layar. Waspada, kemampuan fokus kita sedang dipertaruhkan oleh konten "Brainrot". Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Pernahkah Anda terjebak menonton video orang memotong sabun selama berjam-jam? Atau mungkin Anda tertawa melihat video gameplay acak dengan suara latar bising tanpa makna?

Selamat datang di era “Brainrot”. Istilah gaul internet ini menggambarkan jenis konten yang rendah kualitas, repetitif, dan sangat absurd. Sayangnya, kita sering mengonsumsinya secara berlebihan hingga otak rasanya seolah “membusuk”.

Video-video ini membanjiri lini masa TikTok, Reels, dan Shorts. Tanpa sadar, kita menatap layar kosong sambil membiarkan algoritma menyuapi kita dengan sampah digital. Fenomena ini tampak sepele, namun menyimpan bahaya kognitif yang serius.

Krisis Atensi dan Kematian “Deep Reading”

Dampak “Brainrot” terhadap otak manusia sangatlah nyata. Pasalnya, rentang perhatian atau attention span kita menyusut drastis. Otak kita terbiasa mendapatkan stimulasi instan setiap 15 detik sekali.

Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama. Dulu, kita sanggup membaca buku tebal atau artikel panjang. Kini, membaca satu paragraf utuh saja rasanya sangat menyiksa.

Baca Juga :  Jasad Danu Warta Saputra Ditemukan dalam Karung, Polisi Temukan Luka Sadis di Leher

Kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan punah. Kita menjadi malas berpikir kritis dan hanya memindai informasi di permukaan saja. Akhirnya, otak kita menjadi tumpul dan sulit memproses informasi kompleks.

Algoritma Pemangsa Waktu

Siapa dalang di balik krisis ini? Tentu saja, algoritma media sosial memegang peran besar. Platform digital memprioritaskan engagement di atas kualitas informasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tujuannya jelas, mereka ingin pengguna terus menatap layar selama mungkin. Oleh karena itu, algoritma sengaja menyuguhkan konten-konten “Brainrot”.

Video jenis ini terbukti ampuh memicu dopamin cepat. Lantas, kita terus menggulir layar (scrolling) tanpa henti. Kita menjadi mangsa empuk bagi mesin yang memangsa waktu dan atensi kita demi keuntungan iklan.

Guru Mengeluh, Siswa Gagal Fokus

Dampak buruk ini mulai merembet ke ruang kelas. Guru-guru di berbagai sekolah mulai menyuarakan keluhan serupa. Faktanya, siswa zaman sekarang semakin sulit fokus pada pelajaran.

Baca Juga :  Persaingan Senyap: Adu Strategi India dan Tiongkok di Samudra Hindia

Mereka gelisah jika harus mendengarkan penjelasan guru lebih dari sepuluh menit. Parahnya lagi, kemampuan komunikasi mereka juga terganggu.

Banyak siswa berbicara menggunakan istilah internet yang aneh dan tidak nyambung dalam percakapan nyata. Mereka melempar kata-kata viral tanpa memahami konteks. Alhasil, komunikasi tatap muka menjadi canggung dan terputus-putus.

Diet Digital Demi Kesehatan Otak

Pada akhirnya, kita harus segera mengambil tindakan tegas. Kesehatan kognitif generasi ini sedang berada di ujung tanduk. Kita perlu melakukan “diet digital” yang ketat.

Batasi waktu layar secara disiplin. Selanjutnya, paksa diri untuk kembali ke aktivitas analog. Membaca buku fisik, berolahraga, atau sekadar melamun tanpa ponsel bisa membantu memulihkan fokus.

Jangan biarkan algoritma mengubah otak kita menjadi bubur. Ingatlah, atensi adalah aset paling berharga yang kita miliki. Gunakanlah untuk hal-hal yang benar-benar bermakna.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis
Iran Ancam Serangan Panjang dan Menyakitkan Terhadap Posisi AS
He Lifeng Serukan Penguatan Kerja Sama China-Belgia
Bocah 4 Tahun di Rokan Hilir Meninggal Diduga Diperkosa, Polisi Usut Tuntas

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:58 WIB

Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:29 WIB

101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Menepis spekulasi. Pejabat senior Iran menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dalam kondisi kesehatan yang prima dan tetap menjalankan tugas negara secara aktif, membantah laporan mengenai cedera akibat serangan udara. Dok: Xinhua.

INTERNASIONAL

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB