SLEMAN, POSNEWS.CO.ID – Penantian panjang siswa, guru, dan wali murid SDN Nglarang, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, akhirnya berujung manis. Rencana relokasi sekolah yang terdampak proyek strategis nasional Jalan Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 kini telah menemui titik terang.
Pihak kontraktor dan pemerintah daerah memastikan bahwa mereka akan memulai pembangunan gedung baru bulan depan, Februari 2026. Kepastian ini menjadi angin segar setelah sebelumnya nasib sekolah sempat terkatung-katung akibat kendala perizinan lahan.
Pejabat Humas PT Adhi Karya, penggarap proyek Jalan Tol Jogja-Solo paket 2.2, Agung Murhandjanto, menyatakan optimisme timnya dalam mengeksekusi proyek ini.
“Kalau pertengahan tahun ini optimis bisa dibangun. Pokoknya bulan depan bisa lah (dibangun),” ujar Agung, Rabu (14/1/2026).
Lahan Baru: Lebih Luas dan Strategis
Pemerintah desa dan pengembang menetapkan lokasi pengganti SDN Nglarang di lahan Tanah Kas Desa (TKD) seluas kurang lebih 4.000 meter persegi di Kalurahan Tlogoadi. Lokasi ini berada sekitar 300 meter di sisi timur bangunan lama.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Agung Armawanta, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi ini adalah solusi final setelah opsi sebelumnya terbentur aturan.
“Rekomendasi dari Kementerian ATR/BPN meminta agar mencari alternatif lahan pengganti selain Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) atau Lahan Sawah Dilindungi (LSD),” jelas Agung Armawanta. Tim teknis menilai pemindahan ke lokasi timur ini paling strategis dan memungkinkan percepatan proses konstruksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tantangan Konstruksi: Menimbun Cekungan 7 Meter
Pekan ini, proses di lapangan telah memasuki tahap krusial. Tim kontraktor mulai melakukan survei dan pengukuran menggunakan theodolite untuk memastikan batas lahan secara permanen.
Agung Murhandjanto mengungkapkan tantangan teknis di lokasi baru. Lahan tersebut sebagian berupa kolam atau cekungan dengan kedalaman 5 hingga 7 meter.
“Minggu depan pekerja akan segera membersihkan lahan (clearing) dan melakukan penimbunan. Kami juga akan menghitung elevasi lahan untuk menentukan proses pengurukan nanti,” ungkapnya.
Fasilitas Lengkap dan Tuntutan Wali Murid
Kabar baiknya, desain gedung baru tidak hanya sekadar mengganti bangunan lama, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan komunitas sekolah. Pihak terkait telah memusyawarahkan dan menyetujui siteplan atau rencana tapak bangunan, meskipun saat ini Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Sleman sedang merevisi bagian minor.
Revisi tersebut berkaitan dengan tata letak ruangan untuk keamanan aset, seperti posisi laboratorium komputer dan gudang. Selain itu, pihak proyek juga mengakomodasi permintaan wali murid terkait fasilitas publik.
“Termasuk permintaan wali murid terkait fasilitas publik seperti ruang tunggu orangtua saat menjemput siswa,” tambah Agung Murhandjanto.
Terkait pendanaan, Agung menegaskan tidak ada masalah. “Dari Jasa Marga katanya sudah tersedia,” tegasnya. Pelaksana proyek jalan tol bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya pembangunan gedung baru sebagai bentuk ganti rugi.
Akhir dari Polemik “Shelter”
Kepastian pembangunan ini sekaligus mengakhiri keresahan wali murid yang sempat menolak opsi penggunaan shelter atau bangunan sementara. Sebelumnya, debu, kebisingan, dan getaran alat berat proyek tol yang beroperasi hanya beberapa meter dari kelas sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa.
Dengan keputusan ini, para siswa SDN Nglarang akan tetap melangsungkan kegiatan belajar di gedung lama sembari menunggu gedung baru siap huni.
“Untuk sementara proses belajar mengajar para siswa masih di gedung yang lama,” pungkas Agung Armawanta.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















