Rusia dan Ukraina Saling Umumkan Gencatan Senjata Sepihak

Selasa, 5 Mei 2026 - 10:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Klarifikasi dari perbatasan timur. Rusia membantah keras tuduhan memaksa Belarus untuk ikut bertempur dalam perang Ukraina di tengah meningkatnya pasokan bahan bakar hulu. Dok: Istimewa.

Klarifikasi dari perbatasan timur. Rusia membantah keras tuduhan memaksa Belarus untuk ikut bertempur dalam perang Ukraina di tengah meningkatnya pasokan bahan bakar hulu. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Eskalasi di Eropa Timur memasuki babak baru yang penuh kontradiksi diplomatik. Kremlin secara resmi mendeklarasikan gencatan senjata sepihak mulai 8 hingga 9 Mei 2026 bertepatan dengan peringatan tahunan Hari Kemenangan.

Namun, pengumuman tersebut membawa pesan ancaman yang sangat keras. Kementerian Pertahanan Rusia memperingatkan akan meluncurkan serangan balasan besar-besaran ke jantung kota Kyiv jika militer Ukraina mencoba mengganggu perayaan tersebut. Otoritas Rusia bahkan mendesak warga sipil dan staf diplomatik asing untuk segera meninggalkan ibu kota Ukraina demi keselamatan mereka.

Respons Ukraina: Menolak “Sandiwara” Rusia

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menilai usulan gencatan senjata Rusia sebagai langkah yang tidak serius. Menurutnya, Rusia hanya sedang menunjukkan ketakutan terhadap potensi serangan drone Ukraina di atas Lapangan Merah saat parade militer berlangsung.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hingga hari ini, kami tidak menerima permintaan resmi mengenai modalitas penghentian permusuhan,” tegas Zelenskyy pada hari Senin. Sebagai respons, Ukraina justru mengumumkan rezim gencatan senjata versi mereka sendiri yang dimulai pada tengah malam 5-6 Mei. Di tengah dinamika ini, Zelenskyy mendarat di Bahrain guna membahas kerja sama keamanan, saat perhatian diplomatik Amerika Serikat mulai beralih ke konflik di Timur Tengah.

Baca Juga :  Diplomasi yang Retak: Marco Rubio Bantah Klaim Zelenskyy Soal Syarat Penyerahan Donbas

Serangan Berdarah di Merefa dan Vilnyansk

Meskipun narasi gencatan senjata mencuat, kenyataan di lapangan tetap brutal. Rudal balistik Rusia menghantam kota Merefa di pinggiran Kharkiv pada Senin pagi. Serangan tersebut menewaskan tujuh warga sipil dan melukai puluhan orang lainnya.

Para jurnalis di lapangan melaporkan pemandangan memilukan dengan jenazah yang bergelimpangan di jalanan di bawah tutupan kain putih. Selain itu, serangan terpisah di desa Vilnyansk, wilayah Zaporizhzhia, menewaskan sepasang suami istri berusia lanjut. Putra mereka beserta tiga orang lainnya dilaporkan mengalami luka berat akibat ledakan tersebut.

Balasan Drone Ukraina di Jantung Moskow

Ukraina tidak tinggal diam dan terus memindahkan pertempuran ke wilayah Rusia. Sebuah drone Ukraina dilaporkan menghantam gedung hunian bertingkat di lingkungan elit Moskow semalam. Walikota Moskow, Sergei Sobyanin, mengonfirmasi insiden tersebut meskipun tidak melaporkan adanya korban jiwa dalam serangan spesifik itu.

Namun, di wilayah perbatasan Belgorod, serangan drone Ukraina menewaskan satu warga sipil. Pola serangan ini menunjukkan bahwa perang drone tetap mendominasi meskipun pertempuran di garis depan secara umum mencapai titik buntu. Masalah komunikasi di internal militer Rusia dan serangan balik Ukraina yang efektif membantu Kyiv melakukan terobosan lokal di wilayah tenggara.

Baca Juga :  Menakar Remitansi dan Dilema Politik Perbatasan

Analisis Wilayah: Rusia Kehilangan Momentum pada April

Analisis terbaru dari data Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan pergeseran signifikan dalam peta kekuatan wilayah. Sepanjang April 2026, Rusia tercatat kehilangan lebih banyak wilayah daripada yang berhasil mereka rebut.

Ini merupakan kerugian neto wilayah pertama bagi Moskow sejak serangan balik Ukraina pada musim panas 2023. Rusia menyerahkan kendali atas sekitar 120 kilometer persegi lahan antara Maret hingga April. Saat ini, Moskow masih menduduki sekitar 19 persen wilayah Ukraina, di mana sebagian besar direbut pada awal invasi tahun 2022.

Menanti 9 Mei yang Menentukan

Situasi di Ukraina kini berada dalam fase stagnasi yang mematikan. Pengumuman gencatan senjata yang saling tumpang tindih lebih merupakan alat propaganda daripada upaya perdamaian yang tulus.

Masyarakat internasional kini terus memantau apakah ancaman serangan masif Rusia akan benar-benar terjadi pada peringatan Hari Kemenangan mendatang. Di tahun 2026 ini, keberhasilan militer Ukraina dalam merebut kembali wilayah kecil secara konsisten menjadi sinyal bahwa daya tahan Kyiv masih sangat kuat meski dukungan global sedang terbagi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Drone Ukraina Hantam Wilayah Rusia: 8 Orang Tewas
Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang
Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1
Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir
Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani
Israel Gempur Gaza 2 Hari Berturut-turut, 18 Warga Tewas
Bom Bunuh Diri Guncang Unjuk Rasa Anti-Militan di Pakistan

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Serangan Drone Ukraina Hantam Wilayah Rusia: 8 Orang Tewas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:40 WIB

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:18 WIB

Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani

Berita Terbaru

Serangan drone massal Ukraina menghantam sejumlah wilayah Rusia, merusak fasilitas gudang Wildberries, dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Drone Ukraina Hantam Wilayah Rusia: 8 Orang Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 15:08 WIB

Perusahaan Habita Inc. meminta maaf usai menyuruh dua karyawannya kembali ke dalam Mal Aeon Kashima pasca gempa Kumamoto hingga tewas akibat ledakan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mal Aeon Kumamoto: Perusahaan Suruh Karyawan Amankan Uang

Selasa, 4 Agu 2026 - 14:40 WIB

Pemerintah Australia memperingatkan potensi lonjakan penyebaran wabah flu burung H5N1 setelah menemukan kasus kematian massal pertama. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agu 2026 - 13:24 WIB