Junta Cari Legitimasi di Tengah Perang, PBB dan Barat Sebut Palsu

Jumat, 26 Desember 2025 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pesta demokrasi atau sandiwara militer? Myanmar gelar pemilu pertama pasca-kudeta di tengah boikot dan perang. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pesta demokrasi atau sandiwara militer? Myanmar gelar pemilu pertama pasca-kudeta di tengah boikot dan perang. Dok: Istimewa.

NAYPYIDAW, POSNEWS.CO.ID – Myanmar tengah bersiap menuju kotak suara pada Minggu (28/12/2025). Ini adalah pemilihan umum pertama sejak militer merebut kekuasaan lewat kudeta berdarah tahun 2021. Namun, alih-alih pesta demokrasi, banyak pihak menyebutnya sebagai sandiwara belaka.

Para jenderal berharap pemungutan suara ini akan melegitimasi cengkeraman kekuasaan mereka. Tujuannya, mereka ingin memperbaiki citra sebagai pariah internasional.

Padahal, realitas di lapangan sangat kontras. Mantan pemimpin Aung San Suu Kyi masih mendekam di balik jeruji besi. Sementara itu, partai politiknya yang paling sukses, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), telah dibubarkan paksa karena menolak mendaftar ke komisi pemilihan bentukan junta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini bukan untuk rakyat, ini untuk mereka sendiri,” ujar Pai (25), warga yang melarikan diri dari rezim militer.

China Dukung, Barat Mengecam

Dunia internasional terbelah menyikapi pemilu ini. Banyak pemerintah Barat dan PBB telah menolak pemilu ini sebagai penipuan (sham). Sebaliknya, sekutu terpenting junta, China, justru memberikan dukungan penuh.

Baca Juga :  Pukulan Telak Intel: Petinggi AI Sachin Katti Membelot ke OpenAI

Beijing memandang pemungutan suara ini sebagai jalan terbaik bagi negara itu untuk kembali ke stabilitas. Bahkan, bantuan China telah membantu militer bangkit kembali dari kekalahan di medan perang melawan pemberontak etnis.

Juru bicara junta, Zaw Min Tun, menepis kritik asing dengan dingin. “Apakah komunitas internasional puas atau tidak, itu tidak relevan,” tegasnya.

Teror Wajib Militer dan Serangan Udara

Situasi keamanan justru semakin memburuk jelang hari pencoblosan. Data konflik menunjukkan eskalasi kekerasan yang tajam.

Serangan udara dan drone militer meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu. Parahnya lagi, penculikan terkait wajib militer melonjak 26 persen. Tentara menculik orang dari jalanan dan rumah untuk menutupi kekurangan pasukan yang menipis.

Akibatnya, banyak anak muda melarikan diri dari wilayah yang dikuasai militer seperti Yangon. Mereka takut dipaksa menjadi tameng hidup di garis depan perang saudara.

Kritik Berujung Penjara

Paranoia rezim militer terlihat jelas dari aturan hukum baru. Mereka mengesahkan undang-undang perlindungan pemilu yang kejam. Siapa pun yang mengkritik pemilu bisa menghadapi hukuman penjara minimal tiga tahun hingga hukuman mati.

Baca Juga :  Diplomasi Identitas: Mengapa Kedekatan Budaya Lebih Kuat daripada Persekutuan Militer?

Tercatat, lebih dari 200 orang telah ditangkap sejak Juli hanya karena menyukai postingan kritik di media sosial. Di Yangon, warga melaporkan aparat mendatangi rumah-rumah untuk memaksa orang memilih.

“Siapa pun yang terlihat tidak menyetujui pemilu palsu junta berada dalam risiko yang sangat tinggi,” peringat Khin Ohmar, aktivis pro-demokrasi.

Wilayah Konflik Dikecualikan

Pemilu ini juga tidak mencakup seluruh negeri. Militer membatalkan pemungutan suara di 56 dari 330 kota praja. Artinya, sekitar sepertiga wilayah Myanmar tidak akan ikut serta.

Wilayah-wilayah tersebut berada di bawah kendali kelompok pemberontak atau menjadi medan tempur aktif. Meskipun militer telah merebut kembali beberapa wilayah berkat bantuan China, mereka masih menghadapi perlawanan sengit dari Pasukan Pertahanan Rakyat dan kelompok etnis bersenjata.

Pada akhirnya, pemilu hari Minggu nanti hanyalah upaya junta untuk memperkuat posisi taktis mereka. Analis memperingatkan bahwa perdamaian sejati masih jauh dari jangkauan selama militer terus menggunakan kekerasan untuk membungkam aspirasi rakyat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Direktur FBI Kash Patel Bela Kebijakan Rekrutmen Korban
Dewan Kennedy Center Setujui Penutupan Gedung
Senat AS Gagal Meloloskan RUU Kripto Clarity Act
PM Kanada Mark Carney Pangkas Pajak Investasi
Putera Mahkota Arab Saudi Temui Presiden Mesir
Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS
Donald Trump Kecam Mahkamah Agung AS
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 13 Orang

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 10:21 WIB

Direktur FBI Kash Patel Bela Kebijakan Rekrutmen Korban

Kamis, 17 September 2026 - 08:10 WIB

Senat AS Gagal Meloloskan RUU Kripto Clarity Act

Kamis, 17 September 2026 - 07:03 WIB

PM Kanada Mark Carney Pangkas Pajak Investasi

Kamis, 17 September 2026 - 06:00 WIB

Putera Mahkota Arab Saudi Temui Presiden Mesir

Rabu, 16 September 2026 - 17:39 WIB

Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS

Berita Terbaru

HKC meluncurkan monitor ultrawide Tianqi 43H180C 43,8 inci berasio 24:9 180Hz pertama di dunia. Simak spesifikasi lengkap dan analisis performa GPU di sini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HKC Luncurkan Monitor Ultrawide 43,8 Inci Tianqi 43H180C

Kamis, 17 Sep 2026 - 13:30 WIB

iPhone 18 Pro, 18 Pro Max, dan Duo resmi mengantongi sertifikasi TKDN Kemenperin 40%. Simak rincian nomor model dan prospek tanggal rilisnya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

iPhone 18 Pro, 18 Pro Max Resmi Kantongi Sertifikasi TKDN

Kamis, 17 Sep 2026 - 12:44 WIB

Direktur FBI Kash Patel membela kebijakan rekrutmen korban prostitusi di sidang Senat AS. Simak rincian perdebatan dan pengawasan pemilu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Direktur FBI Kash Patel Bela Kebijakan Rekrutmen Korban

Kamis, 17 Sep 2026 - 10:21 WIB