LONDON, POSNEWS.CO.ID – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mendesak perusahaan kecerdasan buatan untuk merilis data emisi karbon.
Selain emisi karbon, Guterres meminta perusahaan mempublikasikan konsumsi air dan pemakaian lahan untuk operasional pusat data. Ia menyampaikan seruan penting ini saat berpidato pada acara Pekan Aksi Iklim London hari Selasa.
Dalam pidatonya, Guterres mengusulkan pembentukan Inisiatif Transparansi Lingkungan Kecerdasan Buatan untuk memantau efek teknologi itu. Langkah ini bertujuan mengukur efek nyata dari tingginya permintaan teknologi pintar pada iklim bumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tuntutan Transparansi Pusat Data
Masyarakat lokal dan pemerintah kini gencar menekan perusahaan pengembang untuk memberikan laporan secara transparan. Sebab, pembangunan pusat data berskala raksasa kerap memicu protes warga karena menguras sumber daya alam sekitar.
Guterres juga meminta perusahaan menggunakan pasokan energi bersih dari angin dan surya mulai tahun 2030. “Kita tidak boleh menyembunyikan biaya operasional nyata,” tegas pemimpin tertinggi organisasi dunia itu di London.
Beberapa perusahaan besar seperti Amazon dan Google berkomitmen memanfaatkan energi bersih dan nuklir untuk operasional. Namun, persaingan ketat merilis produk kecerdasan buatan justru melipatgandakan emisi gas rumah kaca global saat ini. Masalah ini kian parah karena regulasi setempat sering menghambat pembangunan proyek ramah lingkungan.
Lonjakan Konsumsi Energi Global
Data Badan Energi Internasional menunjukkan batu bara masih menyokong 30 persen kebutuhan listrik pusat data global. Sementara itu, energi ramah lingkungan hanya menyuplai 27 persen dari total kebutuhan energi pusat data bumi.
Sisa kebutuhan energi berasal dari pasokan gas alam sebesar 26 persen dan energi nuklir 15 persen. Padahal, laporan lembaga dunia mencatat konsumsi energi dan pencemaran akibat kecerdasan buatan bakal melonjak dua kali lipat.
Proyeksi kenaikan tajam ini akan berlangsung dalam kurun waktu empat tahun ke depan secara akumulatif. Pusat data kecerdasan buatan menyerap sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia pada tahun 2025 lalu. Jumlah penyerapan ini memicu kekhawatiran karena berisiko menyentuh angka 3 persen pada tahun 2030 mendatang.
Komitmen Batas Pemanasan Global
Guterres mendesak para pemimpin dunia untuk mempercepat aksi penyelamatan lingkungan pada pertemuan puncak di Turki nanti. Ia ingin memastikan bumi tetap berada di bawah ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celsius.
Batas aman itu merupakan hasil kesepakatan bersama dalam Perjanjian Paris pada tahun 2015 silam. Sayangnya, suhu rata-rata bumi selama tiga tahun belakangan ini telah menembus ambang batas aman itu.
Oleh karena itu, Guterres mendesak pemotongan emisi gas metana yang menyumbang sepertiga pemanasan global saat ini. Ia juga meminta dunia segera mengurangi ketergantungan pada pemakaian batu bara, minyak bumi, dan gas.
Dampak Perang Energi AS dan Iran
Di sisi lain, transisi energi bersih dunia menghadapi hambatan besar akibat kebijakan baru Amerika Serikat. Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat gencar meningkatkan produksi minyak bumi dan batubara secara masif.
Langkah Trump ini berjalan bersamaan dengan keputusan memotong dukungan anggaran untuk proyek energi ramah lingkungan. Kebijakan ini memperparah krisis energi global setelah pecahnya perang Amerika Serikat melawan pihak Iran saat ini.
Guterres bahkan menyebut konflik senjata itu sebagai guncangan pasokan energi paling besar dalam sejarah dunia. Ia menyamakan situasi sulit ini dengan judul novel klasik populer karya sastrawan Inggris Charles Dickens.
“Bagi agenda iklim dunia, saat ini merupakan masa paling baik sekaligus masa paling buruk,” pungkasnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












