MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Duta besar Prancis, Jerman, dan Britania Raya menggelar pertemuan penting dengan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia. Langkah taktis ini bertujuan untuk mengecam eskalasi perang terbaru dan mendukung perundingan damai antara Kyiv dan Moskow. Sebab, ketegangan di garis depan Ukraina kian memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Komitmen Bersama Pertemuan London
Pertemuan darurat di Moskow ini berlangsung setelah para pemimpin Eropa merampungkan diskusi bersama di London. Oleh karena itu, utusan Eropa ingin menyelaraskan hasil kesepakatan tersebut langsung kepada pihak Kremlin.
Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada hari Minggu kemarin. Dalam pertemuan itu, koalisi mendukung penuh seruan Zelenskyy untuk menghentikan pertempuran secara permanen. Selain itu, mereka sepakat menggunakan garis kontak pasukan saat ini sebagai titik awal negosiasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tuduhan Kebijakan Destruktif Kremlin
Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin menolak keras desakan para diplomat Eropa tersebut. Sebab, ia menuduh negara-negara Barat sengaja menjalankan kebijakan destruktif untuk memperpanjang peperangan.
Kementerian Luar Negeri Rusia menilai pasokan senjata Barat hanya akan memperburuk situasi di lapangan hulu. Sementara itu, juru bicara kementerian luar negeri Prancis Pascal Confavreux menyampaikan pandangan yang berbeda. Ia menegaskan bahwa para duta besar memprotes keras kampanye manipulasi informasi oleh pemerintah Rusia.
Jaminan Keamanan dan Aset Rusia
Dengan demikian, koalisi Eropa tetap berkomitmen memberikan jaminan keamanan hukum bagi kedaulatan Ukraina. Langkah ini mencakup kemungkinan pengiriman pasukan multinasional untuk menjaga perdamaian di masa depan.
Selain itu, Uni Eropa akan terus membekukan aset keuangan Rusia di bank luar negeri. Akibatnya, Rusia tidak dapat mencairkan dana tersebut sebelum membayar ganti rugi kerusakan perang.
Presiden Vladimir Putin sendiri tetap mempertahankan posisi kerasnya terhadap konflik bersenjata tersebut. Meskipun begitu, ia melihat adanya peluang damai melalui proposal usulan Presiden AS Donald Trump. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah jalur komunikasi tertutup ini mampu meredakan badai perang.











