TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Korps Marinir Amerika Serikat menguji kemampuan peluncur roket bergerak (HIMARS) di kaki Gunung Fuji, Jepang, pada Rabu (20/5/2026). Latihan ini meningkatkan kesiapan militer AS dalam menghadapi ancaman serangan balik di medan tempur modern.
HIMARS merupakan peluncur roket yang terpasang di atas truk militer. Oleh karena itu, pasukan dapat menyembunyikan sistem ini dengan mudah. Selanjutnya, mereka meluncurkan roket dan berpindah lokasi segera setelahnya. Taktik “tembak dan lari” ini meminimalkan risiko dari serangan balik musuh, terutama pada era maraknya penggunaan drone.
Senjata Strategis di Pasifik
Sistem ini memiliki peran krusial di kawasan Pasifik. Amerika Serikat berharap HIMARS dapat mencegah invasi China ke Taiwan. Selain itu, Beijing mengeklaim Taiwan sebagai wilayah kedaulatannya dan belum menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer.
Sistem HIMARS dengan rudal terbaru dapat mencapai sasaran di Selat Taiwan. Kondisi ini berlaku jika militer menempatkan sistem tersebut di pulau-pulau Jepang atau lokasi terdekat lainnya. Namun, latihan di Camp Fuji kali ini menggunakan proyektil tiruan sebagai langkah pencegahan.
Koordinasi dengan Pasukan Bela Diri Jepang
Latihan di Camp Fuji melibatkan koordinasi erat dengan pasukan militer Jepang. Pihak otoritas menutup akses jalan umum di dekat lokasi peluncuran demi keselamatan warga selama latihan berlangsung. Oleh sebab itu, pemerintah memastikan masyarakat tetap aman meski latihan menggunakan senjata berat.
Sebelumnya, pasukan AS telah menggunakan sistem ini dalam konflik di Irak dan Afghanistan. Baru-baru ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengonfirmasi penggunaan HIMARS dalam serangan awal terhadap Iran. Senjata ini meluncurkan roket presisi yang menjangkau target ratusan mil jauhnya.
Kesimpulan: Membangun Daya Getar Regional
Latihan ini mencerminkan dinamika keamanan terbaru di Asia-Pasifik. Singkatnya, pengoperasian HIMARS menjadi komponen penting bagi strategi pertahanan Amerika Serikat. Kolaborasi dengan Jepang menegaskan komitmen kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan demikian, masyarakat internasional kini memantau bagaimana latihan militer ini memengaruhi postur pertahanan di Laut China Selatan. Di tahun 2026 yang penuh gejolak, kesiapan aliansi menjadi faktor kunci dalam menjaga kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan paling sibuk di dunia tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












