Kesenjangan yang Membakar: Bagaimana Ketimpangan Ekonomi Melahirkan Ekstremisme Politik

Sabtu, 8 November 2025 - 08:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Jurang si kaya dan si miskin yang melebar adalah bahan bakar utama kebangkitan politisi ekstrem. Mengapa ketimpangan ekonomi adalah ancaman terbesar bagi demokrasi? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Jurang si kaya dan si miskin yang melebar adalah bahan bakar utama kebangkitan politisi ekstrem. Mengapa ketimpangan ekonomi adalah ancaman terbesar bagi demokrasi? Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID — Di seluruh dunia, dari Amerika Serikat hingga Eropa, dari Asia hingga Amerika Latin, kita menyaksikan sebuah pola yang mengkhawatirkan: politik menjadi semakin terpolarisasi, kasar, dan ekstrem. Di saat yang sama, data ekonomi global menunjukkan tren yang paralel: jurang antara 1% terkaya dan 99% sisanya melebar ke tingkat yang tidak pernah terlihat dalam satu abad terakhir.

Ini bukanlah dua fenomena yang terpisah. Kenaikan ekstremisme politik dan melebarnya ketimpangan ekonomi adalah dua sisi mata uang yang saling terkait erat. Kesenjangan yang membakar ini adalah bahan bakar utama bagi api populisme.

Perasaan Ditinggalkan oleh Sistem

Ini bukan sekadar masalah “iri hati”. Ini adalah masalah perasaan bahwa sistem telah “meninggalkan” dan “mengkhianati” mereka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika ketimpangan menjadi ekstrem, sebagian besar masyarakat merasa bahwa sistem yang ada—baik itu demokrasi maupun kapitalisme—telah “mencurangi” mereka. Mereka bekerja lebih keras dengan upah yang stagnan, sementara sekelompok kecil elit ekonomi di puncak menikmati keuntungan yang melesat secara eksponensial.

Baca Juga :  AS-Iran Sepakati Perundingan di Oman Saat Eskalasi Militer

Mereka mulai percaya bahwa para elit ekonomi telah “membajak” (state capture) demokrasi untuk kepentingan mereka sendiri. Ketika sistem yang ada tidak lagi memberikan harapan perbaikan hidup, kepercayaan terhadap institusi (pemerintah, parlemen, media) runtuh.

Lahan Subur Retorika Kambing Hitam

Masyarakat yang merasa frustrasi, terhina, dan terpinggirkan secara ekonomi ini menjadi lahan paling subur bagi retorika populis dan ekstremisme.

Kemudian, datanglah seorang pemimpin populis. Mereka tidak menawarkan analisis kebijakan yang rumit (yang seringkali gagal). Sebaliknya, mereka menawarkan dua hal yang jauh lebih kuat: solusi instan dan “kambing hitam”.

Para politisi ini menyalurkan kemarahan ekonomi yang abstrak menjadi kebencian yang konkret. Mereka berkata, “Sistem ini curang bukan karena struktur pajaknya, tapi karena para imigran mencuri pekerjaan Anda!” atau “Ekonomi Anda hancur bukan karena kegagalan kebijakan, tapi karena elit global dan minoritas tertentu yang berkonspirasi!”

Baca Juga :  Xi Jinping dan Utusan Laos Sahkan Visi Masa Depan Bersama

Mereka membelokkan kemarahan ekonomi yang sah menjadi kemarahan identitas dan rasial. Ini adalah strategi politik klasik: ketika rakyat lapar, beri mereka musuh untuk mereka benci.

Demokrasi Butuh Keadilan Ekonomi

Kita tidak mungkin menjaga stabilitas demokrasi di atas fondasi ekonomi yang timpang. Kita tidak bisa mengharapkan masyarakat untuk percaya pada nilai-nilai moderasi, toleransi, dan proses demokrasi, jika proses tersebut secara konsisten gagal memberi mereka bagian yang adil dari kemakmuran.

Ketimpangan yang membakar pada akhirnya akan selalu menemukan politisi ekstrem yang siap menyiramkan bensin ke dalam api tersebut. Oleh karena itu, perjuangan untuk keadilan ekonomi distributif bukan hanya perjuangan ekonomi; itu adalah perjuangan untuk menyelamatkan demokrasi itu sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang
Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi
Donald Trump Desak Rusia Akhiri Perang Pasca-Pertemuan
Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen
Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo
Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital
Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:01 WIB

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America

Rabu, 17 Juni 2026 - 09:54 WIB

Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:49 WIB

Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:14 WIB

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:51 WIB

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Berita Terbaru

Menghalau senapan mesin siber. SoftBank dan OpenAI meluncurkan layanan keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) guna melindungi sistem infrastruktur vital Jepang. Dok: (AP Photo/Hiro Komae)

TEKNOLOGI

Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:54 WIB

Menyambut perubahan zaman. CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan pentingnya adaptasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di tengah kekhawatiran krisis energi nasional. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Rabu, 17 Jun 2026 - 08:49 WIB