Lonjakan Harga Dunia Picu Kerusakan Hutan dan Krisis Merkuri

Rabu, 6 Mei 2026 - 14:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tragedi di paru-paru dunia. Lonjakan harga emas memicu gelombang penambangan ilegal masif di hutan Amazon, Brasil, yang mengakibatkan deforestasi di wilayah lindung dan kontaminasi merkuri berbahaya bagi ribuan nyawa. Dok: (AP Photo/Edmar Barros, File)

Tragedi di paru-paru dunia. Lonjakan harga emas memicu gelombang penambangan ilegal masif di hutan Amazon, Brasil, yang mengakibatkan deforestasi di wilayah lindung dan kontaminasi merkuri berbahaya bagi ribuan nyawa. Dok: (AP Photo/Edmar Barros, File)

BRASÍLIA, POSNEWS.CO.ID – Lonjakan harga emas di pasar internasional memicu krisis lingkungan dan kemanusiaan yang parah di hutan hujan Amazon, Brasil. Para ahli memperingatkan bahwa “demam emas” ini mempercepat deforestasi di area yang seharusnya terlindungi oleh hukum.

Laporan terbaru dari organisasi non-pemerintah, Amazon Conservation, menunjukkan bahwa situs tambang ilegal kini merusak tiga kawasan konservasi utama di wilayah Xingu. Wilayah ini merupakan salah satu hamparan hutan lindung terbesar di dunia yang melintasi negara bagian Para dan Mato Grosso.

Ekspansi Tambang di Wilayah Lindung

Analisis berbasis citra satelit dan riset lapangan menemukan fakta yang mengkhawatirkan. Stasiun Ekologi Terra do Meio mencatat kasus penambangan ilegal pertamanya pada September 2024. Selanjutnya, kerusakan hutan akibat tambang di sana telah mencapai 30 hektare pada akhir 2025.

Kondisi di Hutan Nasional Altamira bahkan lebih buruk, dengan akumulasi deforestasi mencapai 832 hektare. Selain itu, pemantauan satelit mendeteksi adanya landasan pacu rahasia di Cagar Biologi Nascentes da Serra do Cachimbo. Fasilitas ilegal ini mempermudah logistik para penambang untuk memperluas area operasi mereka di jantung hutan.

Keterlibatan Kartel Kriminal dan Logika Pasar

Penegakan hukum menghadapi tantangan berat karena keterlibatan organisasi kriminal raksasa seperti Red Command dan First Capital Command (PCC). Jaksa federal André Luiz Porreca menjelaskan bahwa kartel-kartel ini menyediakan modal besar untuk mendanai operasional tambang.

Baca Juga :  Gunung Merapi Semburkan Awan Panas 9 Kali, BPBD Sleman Siagakan Barak dan 12.000 Masker

“Mereka memiliki uang untuk membiayai operasi ini. Beberapa kapal keruk bahkan memiliki harga mencapai 15 juta reais (sekitar Rp46 miliar),” ujar Porreca. Menurutnya, sistem kontrol ekspor mineral Brasil yang lemah memungkinkan skema pencucian uang, sehingga emas ilegal terlihat sah di pasar internasional. Oleh karena itu, selama permintaan global terhadap aset aman seperti emas tetap tinggi, eksploitasi di Amazon akan terus berlanjut.

Krisis Kesehatan: Ancaman Merkuri pada Anak-Anak

Dampak lingkungan dari tambang ini melampaui kerusakan pohon. Operasi tambang ilegal membuang merkuri ke sungai, yang kemudian menumpuk di dalam tubuh ikan. Hal ini menjadi ancaman maut bagi komunitas sungai dan masyarakat adat yang mengandalkan ikan sebagai sumber protein utama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Laporan penelitian dari institusi Fiocruz menunjukkan data yang mengerikan:

  • Kontaminasi Ikan: 21,3% ikan yang terjual di pasar umum Amazon melebihi batas merkuri WHO.
  • Paparan pada balita: Anak-anak usia 2 hingga 4 tahun mengonsumsi merkuri dengan kadar hingga 31 kali lebih tinggi dari rekomendasi maksimum.
Baca Juga :  Bukti Baru Kejahatan Perang Jepang: Rusia Serahkan Arsip Unit 731 ke China

Respons Pemerintah dan Tantangan “Kucing-Kucingan”

Kementerian Masyarakat Adat menyatakan bahwa pemberantasan tambang ilegal di tanah adat merupakan prioritas utama pemerintahan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Pemerintah berupaya membongkar rantai ekonomi dan logistik yang mendukung invasi ini.

Namun, Porreca menggambarkan upaya penegakan hukum ini seperti permainan “kucing dan tikus”. Sering kali, para penambang segera kembali ke lokasi semula atau pindah ke wilayah baru sesaat setelah petugas meninggalkan area tersebut. Wilayah adat Kayapo kini menjadi titik paling kritis, di mana tambang ilegal telah menggunduli sekitar 7.940 hektare hutan.

Menyelamatkan Regulator Iklim Global

Keberlanjutan hutan Amazon sangat krusial bagi pengaturan iklim global. Kerusakan yang terus berlanjut berisiko mempercepat pemanasan global secara permanen. Singkatnya, memerangi tambang ilegal bukan hanya soal penegakan hukum domestik, melainkan upaya menyelamatkan masa depan planet.

Masyarakat internasional kini mendesak adanya pengawasan ketat terhadap rantai pasok emas global. Tanpa adanya transparansi asal-usul mineral, emas yang berkilau di perhiasan dunia akan terus memakan korban jiwa dan menghancurkan ekosistem vital di Brasil.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Komputasi Ini Bisa Mengubah Segalanya?
Sopir Angkot Disiram Bensin Lalu Dibakar di Tanah Abang, Pelaku Akhirnya Dibekuk
Raja Charles III Temui Donald Trump di Gedung Putih
Bea Cukai Marunda Santuni Yatim dan Lansia di Cilincing, Aksi Nyata Kepedulian Sosial
Laboratorium Narkoba di Apartemen Salemba Digerebek, 5 Kg Tembakau Sintetis Disita
Medan Ekstrem Hambat Evakuasi 8 Korban Helikopter Jatuh di Sekadau Kalimantan Barat
Ragunan Diserbu 80 Ribu Pengunjung di H+2 Lebaran 2026, Motor Dominasi
Stok Beras Nasional Melimpah, Mentan Amran Pastikan Aman hingga 2026

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 08:37 WIB

Mengapa Komputasi Ini Bisa Mengubah Segalanya?

Rabu, 6 Mei 2026 - 14:58 WIB

Lonjakan Harga Dunia Picu Kerusakan Hutan dan Krisis Merkuri

Kamis, 30 April 2026 - 14:27 WIB

Sopir Angkot Disiram Bensin Lalu Dibakar di Tanah Abang, Pelaku Akhirnya Dibekuk

Selasa, 28 April 2026 - 11:46 WIB

Raja Charles III Temui Donald Trump di Gedung Putih

Jumat, 24 April 2026 - 09:43 WIB

Bea Cukai Marunda Santuni Yatim dan Lansia di Cilincing, Aksi Nyata Kepedulian Sosial

Berita Terbaru

Kompensasi bagi

INTERNASIONAL

Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:47 WIB

Diplomasi penuh ancaman. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi damai dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memberikan ultimatum serangan militer. Kebuntuan ini terus memicu volatilitas harga minyak global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB

Ilustrasi, Kepatuhan digital menjadi pertaruhan. Pengadilan Federal Australia menjatuhkan denda A$650.000 kepada X Corp karena gagal memberikan informasi mengenai penanganan konten eksploitasi seksual anak kepada otoritas keamanan daring. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengadilan Australia Denda X Corp: Kegagalan Transparansi

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:40 WIB