KHARTOUM, POSNEWS.CO.ID – Stabilitas di kawasan Afrika Timur kini berada dalam ancaman serius. Ethiopia dan Sudan saling lempar tuduhan pada hari Selasa. Masing-masing pihak mengeklaim bahwa lawan melanggar kedaulatan wilayah dan mendukung pemberontak.
Perang saudara melanda Sudan sejak 2023. Konflik ini kini mulai bersinggungan dengan berbagai gejolak internal di Ethiopia. Analis menilai tumpang tindih kepentingan ini menarik keterlibatan aktor eksternal. Hal ini memperumit upaya perdamaian regional pada tahun 2026.
Ethiopia Tuding Sudan Sokong Militan Tigray
Kementerian Luar Negeri Ethiopia melancarkan serangan diplomatik melalui tuduhan serius. Mereka menyebut militer Sudan menjadi markas bagi berbagai kekuatan anti-Ethiopia. Secara spesifik, Addis Ababa menyebut pasukan Sudan memberikan dukungan kepada “tentara bayaran” dari Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).
“Sudan berfungsi sebagai pusat bagi pasukan anti-Ethiopia,” tulis kementerian tersebut melalui platform X. Selain itu, Ethiopia mengeklaim militer Sudan menyuplai senjata dan dana bagi kelompok Tigray. Langkah ini bertujuan memfasilitasi serangan di perbatasan barat Ethiopia. Namun, pejabat senior TPLF, Amanuel Assefa, membantah keras tuduhan tersebut. Ia balik mengkritik pemerintah Ethiopia yang mencari kambing hitam atas kegagalan internal sendiri.
Sudan Tarik Dubes dan Ungkap Bukti Serangan Drone
Di pihak lain, pemerintah Sudan mengambil langkah drastis dengan menarik duta besarnya dari Addis Ababa. Juru bicara militer Sudan, Assim Awad, mengaku memiliki “bukti konklusif” serangan drone. Menurutnya, serangan itu meluncur dari wilayah Bandara Bahir Dar, Ethiopia.
Awad menuduh serangan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Ethiopia dan Uni Emirat Arab (UEA). Sudan memulihkan data dari drone yang jatuh di El-Obeid. Data itu menunjukkan perangkat milik UEA tersebut lepas landas dari Ethiopia timur laut. Meskipun demikian, pihak UEA membantah keras keterlibatan mereka. Abu Dhabi menyebut tuduhan Sudan sebagai propaganda untuk memperlama perang.
Dampak Kemanusiaan: Korban Sipil Berjatuhan
Eskalasi militer ini berdampak langsung pada warga sipil di kedua sisi. Pada Selasa, serangan drone menghantam SPBU di Kosti, Negara Bagian White Nile. Lokasi ini berada sekitar 300 kilometer di selatan Khartoum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sumber medis mengonfirmasi rincian korban sebagai berikut:
- Meninggal Dunia: 3 warga sipil.
- Luka-luka: 2 orang.
Selain itu, serangan di wilayah Omdurman selatan menewaskan lima warga sipil. Serangan tersebut juga merusak fasilitas rumah sakit di area Jebel Awliya. Pola ini menunjukkan kembalinya kekerasan di ibu kota. Padahal, wilayah tersebut sempat tenang selama beberapa bulan terakhir.
Menuju Konfrontasi Terbuka?
Menlu Sudan, Mohieddin Salem, menyatakan negaranya siap melakukan “konfrontasi terbuka” dengan Ethiopia. Langkah ini akan mereka ambil jika situasi memburuk. Oleh karena itu, dunia kini mendesak kedua negara untuk menahan diri. Tujuannya adalah mencegah perang besar yang dapat melumpuhkan ekonomi Afrika Timur.
Singkatnya, jalur keamanan wilayah ini akan tetap rapuh selama sengketa perbatasan belum usai. Kemampuan diplomasi Uni Afrika menghadapi ujian berat pada 2026. Mereka harus memadamkan konflik sebelum krisis kemanusiaan meluas secara dahsyat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















