Presiden Ramaphosa Sebut Kebijakan Pengungsi Afrikaner Donald Trump

Sabtu, 7 Maret 2026 - 13:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Konfrontasi terbuka. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa melontarkan kritik langka dan keras terhadap Donald Trump, menyebut sang Presiden AS

Konfrontasi terbuka. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa melontarkan kritik langka dan keras terhadap Donald Trump, menyebut sang Presiden AS "sangat tersesat" terkait klaim palsu genosida warga kulit putih di negaranya. Dok: Ricardo Stuckert / PR

JOHANNESBURG, POSNEWS.CO.ID – Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mematahkan tradisi diplomatik. Ia meluncurkan serangan verbal langsung terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pasalnya, Ramaphosa menilai kebijakan luar negeri AS terhadap kelompok minoritas kulit putih bersumber dari ketidaktahuan dan prasangka rasial.

“Saya hanya berpikir bahwa dia sangat tidak terinformasi,” ujar Ramaphosa dalam wawancara eksklusif yang terbit pekan ini. Oleh karena itu, kritik tersebut muncul sebagai respon atas langkah agresif pemerintahan Trump. Sebab, Washington secara sepihak mengintervensi isu reformasi lahan dan status sosial ekonomi warga Afrikaner.

“Ambush” di Ruang Oval

Ramaphosa mengenang pertemuan tahun lalu di Ruang Oval sebagai sebuah “pertunjukan” yang tidak profesional. Menurutnya, Trump sempat mematikan lampu ruangan dan memutar sebuah video khusus. Video tersebut mengeklaim secara keliru bahwa Afrika Selatan sedang mengalami “genosida kulit putih”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya menyadari bahwa dia melihat Afrika Selatan melalui lensa yang berkabut,” tegas Ramaphosa. Alhasil, presiden AS itu gagal memahami bahaya nyata dari kebijakan apartheid masa lalu. Bahkan, ia menilai Trump meremehkan fakta sejarah dan kondisi sosiologis yang bangsa pelangi hadapi saat ini.

Baca Juga :  Pemprov DKI Larang Pelajar Ikut Demo, Pramono Anung Minta Sekolah Perketat Pengawasan

Kebijakan Pengungsi yang Kontroversial

Sejak menjabat kembali pada Januari 2025, Donald Trump terus menyebarkan berbagai tuduhan. Pasalnya, ia menyebut pemerintah sedang membantai minoritas kulit putih dan menyita tanah mereka secara paksa. Kemudian, pada Mei lalu, AS memperluas status pengungsi bagi warga Afrikaner secara resmi.

Langkah ini memicu kemarahan di Pretoria. Terutama, kebijakan tersebut memiliki dua alasan pemicu utama. Pertama, warga Afrikaner secara statistik tetap memiliki kekayaan berkali-kali lipat daripada warga kulit hitam. Kedua, Trump mengambil kebijakan ini saat ia justru memangkas program pengungsi perang dari negara lain.

“Saya pikir kebijakan Afrikaner ini rasis,” kata Ramaphosa. Oleh sebab itu, ia ingin mengikis perilaku rasis tersebut agar Trump bisa melihat kebenaran situasi yang ada.

Balasan Gedung Putih dan Dampak Diplomatik

Pihak Gedung Putih segera merespons kritik tersebut. Melalui pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa Presiden Trump memiliki “hati kemanusiaan”. Trump hanya ingin menyoroti kisah-kisah warga Afrikaner yang ia nilai memilukan. “Pemerintah Afrika Selatan tidak merespons, tetapi Presiden Trump akan terus menyuarakan kebenaran,” tulis pernyataan tersebut.

Baca Juga :  Thrifting & Upcycling: Gaya Sadar Lingkungan Generasi Baru

Namun demikian, ketegangan ini memberikan dampak nyata pada hubungan internasional. Trump menolak menghadiri pertemuan pemimpin G20 di Johannesburg pada November lalu. Selain itu, ia melarang delegasi Afrika Selatan datang ke pertemuan tingkat tinggi di Miami akhir tahun ini.

Penegasan Fakta Lapangan

Ramaphosa menegaskan bahwa klaim Washington sepenuhnya hampa. Sebagai catatan, ia berencana turun dari kursi kepemimpinan partai tahun depan dan dari kursi presiden pada 2029. “Tidak ada genosida kulit putih di sini,” tegasnya. Lebih lanjut, ia memastikan pemerintah tidak mengusir atau memperlakukan petani kulit putih dengan buruk.

Ia menutup pernyataannya dengan nada heran atas obsesi Trump terhadap negaranya. Pasalnya, ia takjub melihat perhatian yang ia berikan kepada negara yang kecil. “Kami bukan ancaman bagi Amerika Serikat,” pungkas Ramaphosa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Marco Rubio Tegaskan Akses Starlink Ukraina Keputusan SpaceX
Elon Musk Ancam Politisi Demokrat Terkait Rencana Penyelidikan
Rusia Bebaskan Guru Asal AS Stephen Hubbard
Macron Kecam Narasi Pemimpin Asing Atas Kerusuhan Prancis
Tahun Kedua Kepemimpinan Takaichi Hadapi Tantangan Internal
Serangan Rudal Balistik Houthi Menewaskan Puluhan Prajurit
Donald Trump Manfaatkan Kerusuhan Prancis Demi Senat
Parlemen Australia Helen Haines Kehilangan Kaki Mobil

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Marco Rubio Tegaskan Akses Starlink Ukraina Keputusan SpaceX

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:23 WIB

Elon Musk Ancam Politisi Demokrat Terkait Rencana Penyelidikan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Rusia Bebaskan Guru Asal AS Stephen Hubbard

Jumat, 23 Oktober 2026 - 07:18 WIB

Macron Kecam Narasi Pemimpin Asing Atas Kerusuhan Prancis

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:16 WIB

Tahun Kedua Kepemimpinan Takaichi Hadapi Tantangan Internal

Berita Terbaru

Pemerintah Jepang mematikan sementara situs web kementerian dan bisnis utama akibat kerentanan bahasa PHP yang terdeteksi AI. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

PHP Memaksa Penutupan Darurat Layanan Web Jepang

Sabtu, 24 Okt 2026 - 04:23 WIB

Attack Shark resmi merilis mouse gaming R5 Turbo dari bahan carbon fiber berbobot 43 gram dengan sensor PixArt 60.000 DPI dan polling rate 8.000 Hz. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Attack Shark Rilis Mouse Gaming Carbon Fiber R5 Turbo

Jumat, 23 Okt 2026 - 15:58 WIB

Nintendo meluncurkan revisi Switch 2 di Eropa dengan baterai mudah lepas. Simak pembongkaran komponen layar LCD, motherboard, dan RAM. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Nintendo Rilis Switch 2 di Eropa dengan Baterai Mudah Lepas

Jumat, 23 Okt 2026 - 14:56 WIB