JAKARTA, POSNEWS.CO.ID β Vanny Birungi, seorang relawan Palang Merah di Kongo Timur, menghadapi ancaman ganda setiap hari. Ia bertugas meningkatkan kesadaran warga mengenai wabah Ebola yang kini mendekati angka 1.000 kasus suspek.
Selain ancaman virus jenis Bundibugyo yang belum memiliki vaksin, Birungi kerap menghadapi kemarahan warga. Sejumlah penduduk di Bunia bahkan sering melempari tim relawan dengan batu. Oleh karena itu, tugas kemanusiaan ini menjadi sangat berisiko bagi keselamatan mereka.
Ketidakpercayaan Warga dan Mitos Penyakit
“Kami terus memberi tahu warga mengenai keberadaan penyakit ini. Sebagian menerima, namun sebagian lainnya menolak,” ungkap Birungi saat berbicara dengan warga di lingkungan kelas pekerja di bawah terik matahari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak penduduk lokal menyimpan rasa curiga yang mendalam terhadap pihak luar. Pierre Basola (56), seorang warga Bunia, secara terbuka mengekspresikan kemarahannya. “Orang-orang ini harus berhenti mengganggu kami. Mereka hanya ingin kaya. Jangan lupa, Ebola adalah penemuan orang kulit putih,” tegas Basola.
Serangan Terhadap Fasilitas Medis
Kemarahan warga berujung pada aksi kekerasan terhadap fasilitas kesehatan dalam sepekan terakhir. Pada hari Minggu, massa menyerbu sebuah rumah sakit yang merawat pasien Ebola. Gunfire terdengar saat staf medis berupaya mengevakuasi para pasien.
Sebelumnya, sekelompok warga membakar tenda perawatan pasien suspek Ebola milik Doctors Without Borders di Mongbwalu pada hari Sabtu. Lebih dari selusin orang yang diduga terinfeksi virus pun melarikan diri dari lokasi tersebut. Oleh karena itu, ketegangan ini menciptakan hambatan besar bagi tim medis dalam memutus rantai penularan.
Mekanisme Penularan dan Tantangan Konflik
Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien yang sakit atau meninggal, seperti keringat, darah, atau muntah. Pekerja medis dan keluarga yang merawat pasien menghadapi risiko infeksi tertinggi.
Selain ancaman virus, konflik bersenjata di wilayah tersebut mempersulit upaya penanganan. Kelompok bersenjata menguasai banyak wilayah di Provinsi Ituri. Tim bantuan harus mengambil risiko tinggi untuk menempuh perjalanan lebih dari 1.000 kilometer dari ibu kota Kinshasa ke wilayah yang sedang bergejolak.
Data Wabah dan Peringatan WHO
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan pada hari Senin bahwa wabah telah menyebabkan lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian. Namun demikian, pakar kesehatan memperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi. “Kita kini sedang mengejar epidemi yang bergerak sangat cepat,” ujar Tedros.
Institut analisis penyakit menular berbasis di London, MRC Centre, memprediksi jumlah kasus sebenarnya sudah melampaui 1.000 orang. Maka dari itu, ketidakpastian besarnya wabah ini menjadi tantangan serius bagi otoritas kesehatan setempat.
Kebutuhan Mendesak akan Kepercayaan
Tingkat skeptisisme warga yang tinggi mempersulit respon kesehatan. Action Aid, salah satu kelompok kemanusiaan di lokasi, melaporkan rendahnya pemahaman warga terhadap risiko virus.
Singkatnya, keberhasilan penanganan wabah ini bergantung pada pendekatan berbasis komunitas. Tanpa keterlibatan warga secara aktif, bantuan medis tidak akan menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, koordinasi internasional yang cepat menjadi satu-satunya cara untuk membendung laju epidemi yang bergerak makin masif.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












