Ribuan TPA di Eropa Terancam Banjir, Air Minum dalam Bahaya

Selasa, 2 Desember 2025 - 20:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Eropa duduk di atas tumpukan racun! Ribuan tempat pembuangan sampah berisiko hanyut oleh banjir. Simak ancaman

Ilustrasi, Eropa duduk di atas tumpukan racun! Ribuan tempat pembuangan sampah berisiko hanyut oleh banjir. Simak ancaman "bahan kimia abadi" bagi air minum warga. Dok: Istimewa.

LONDON – Benua Eropa sedang duduk di atas “bom waktu” ekologis yang siap meledak kapan saja. Sebuah investigasi besar-besaran mengungkap bahwa ribuan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah berlokasi di zona rawan banjir.

Temuan ini merupakan hasil pemetaan skala benua pertama oleh The Guardian, Watershed Investigations, dan Investigate Europe. Tercatat, lebih dari 61.000 TPA teridentifikasi di seluruh Eropa.

Mengerikannya, sekitar 28 persen dari situs tersebut berada di area yang rentan terhadap banjir. Jika air bah datang, limbah beracun di dalamnya bisa hanyut dan meracuni sungai, tanah, serta ekosistem di sekitarnya.

Ancaman “Bahan Kimia Abadi”

Patrick Byrne, peneliti dari Universitas Liverpool John Moores, membunyikan alarm bahaya. Menurutnya, perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan besaran banjir serta erosi pantai.

“Risiko limbah ini hanyut ke lingkungan kita semakin besar,” tegas Byrne.

Limbah tersebut bukan hanya plastik atau puing bangunan. Lebih parah lagi, TPA menyimpan logam beracun dan bahan kimia berbahaya seperti PFAS atau “bahan kimia abadi” (forever chemicals) dan PCB. Zat-zat ini sangat sulit terurai dan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Baca Juga :  Dua Debt Collector Penusuk Advokat di Tangsel Masih Buron, Polda Metro Kejar DPO

Warisan Buruk TPA Tua

Masalah ini berakar pada sejarah pengelolaan sampah yang buruk di masa lalu. Faktanya, Uni Eropa memperkirakan total TPA mencapai 500.000 titik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sayangnya, sekitar 90 persen dari situs tersebut sudah ada sebelum peraturan pengendalian polusi yang ketat berlaku. Di Inggris saja, terdapat 22.000 situs tua semacam ini.

TPA-TPA lawas ini tidak memiliki lapisan pelindung (lining) modern. Oleh karena itu, racun dapat merembes dengan mudah ke dalam tanah dan air tanah tanpa hambatan.

Kantong Darah di Pesisir Pantai

Kate Spencer, profesor geokimia lingkungan di Queen Mary University, menemukan bukti nyata di lapangan. Ia meneliti TPA pesisir di Tilbury yang tergerus erosi.

Baca Juga :  Ridwan Kamil Akui Lega Jalani Pemeriksaan 6 Jam di KPK soal Kasus Iklan BJB

“Kami mengidentifikasi berbagai limbah, termasuk kantong darah rumah sakit,” ungkapnya.

Sementara itu, analisis data menemukan hampir 10.000 TPA berada di zona air minum di negara-negara besar seperti Prancis, Inggris, Jerman, dan Belanda.

Byrne bahkan menemukan kebocoran cairan lindi (leachate) di cagar alam Newgate, Cheshire. Hasil tes menunjukkan kadar PFAS beracun mencapai 20 kali lipat di atas batas aman air minum.

Mafia Limbah Perburuk Keadaan

Di sisi lain, pembuangan limbah ilegal memperburuk situasi. Europol mengidentifikasi aktivitas ini sebagai salah satu kejahatan terorganisir yang tumbuh paling cepat.

Di Italia selatan, mafia terlibat dalam pembuangan limbah beracun ilegal. Imbasnya, tingkat kematian dan penyakit di wilayah Campania meningkat drastis.

Pada akhirnya, Eropa menghadapi tantangan ganda yang berat. Mereka harus berpacu dengan perubahan iklim, sambil membereskan dosa masa lalu berupa tumpukan sampah beracun yang kini mengancam kesehatan jutaan warganya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global
Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig
Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global
Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:00 WIB

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB

Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:30 WIB

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Berita Terbaru

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB

Ilustrasi, Modernisasi vs Tradisi. Kyoto mengkaji rencana pelonggaran batas tinggi bangunan dari 31 meter menjadi 60 meter guna menarik investasi, memicu perdebatan mengenai identitas visual ibu kota kuno Jepang tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Mar 2026 - 18:00 WIB

Membongkar narasi perang. Perspektif Keamanan Kritis mengungkap bagaimana konstruksi maskulinitas militeristik mendominasi kebijakan luar negeri dan sering kali mengabaikan kerentanan nyata perempuan di wilayah konflik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Minggu, 29 Mar 2026 - 17:30 WIB