NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Selebriti global kini menghadapi ancaman nyata dari kecerdasan buatan (generative AI). Taylor Swift, Matthew McConaughey, dan Jeremy Clarkson mulai mengambil langkah hukum baru. Mereka mendaftarkan merek dagang (trademark) untuk melindungi elemen identitas yang melekat pada merek mereka.
Langkah ini menjadi taktik hukum baru yang belum teruji sepenuhnya di pengadilan. Oleh karena itu, para selebriti menggunakannya untuk mengisi celah yang tidak bisa ditangani oleh hukum hak cipta konvensional.
Mengapa Selebriti Beralih ke Merek Dagang?
AI generatif menimbulkan ancaman serius bagi identitas setiap orang. Sebab, siapa pun bisa menjadi korban deepfake atau tiruan suara. Bagi selebriti, taruhannya jauh lebih tinggi karena wajah dan suara merupakan aset utama merek mereka. Selain itu, penggunaan komersial yang tidak sah dapat menimbulkan kerusakan reputasi yang sangat fatal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Amerika Serikat, hak publisitas membantu melindungi penggunaan identitas untuk tujuan komersial. Namun, cakupan hak ini bervariasi karena bergantung pada peraturan negara bagian. Oleh sebab itu, pendaftaran merek dagang federal memberikan alternatif perlindungan yang jauh lebih kuat dan mencakup wilayah yang lebih luas.
Perbedaan Mendasar: Merek Dagang vs Hak Cipta
Untuk memahami strategi ini, kita perlu membedakan antara merek dagang dan hak cipta. Merek dagang berfungsi membedakan identitas sebuah merek melalui logo, kata, slogan, atau warna. Sebaliknya, hak cipta melindungi karya kreatif seperti buku, lagu, dan video.
Selanjutnya, perlindungan hak cipta terjadi secara otomatis jika kriteria terpenuhi. Namun, cara kerja AI sering kali mempersulit hal ini. AI biasanya mensintesis materi pelatihan menjadi konten baru. Untuk membuktikan pelanggaran hak cipta, penggugat harus membuktikan bahwa konten yang dihasilkan “secara substansial mirip” dengan karya asli. Karena AI sering menggabungkan banyak potongan data, membuktikan kemiripan tersebut menjadi tantangan besar.
Strategi “Kemungkinan Kebingungan”
Penting untuk dicatat bahwa selebriti tidak mendaftarkan merek dagang atas suara atau wajah mereka secara umum. Namun, mereka mengaitkan aspek identitas tertentu dengan merek dagang tersebut. Mereka menggunakan frasa kunci, gambar, atau elemen pertunjukan sebagai bagian integral dari citra merek mereka.
Hukum merek dagang menggunakan konsep “kemungkinan kebingungan” (likelihood of confusion). Pengadilan akan menguji apakah tiruan AI tersebut membingungkan konsumen hingga mereka mengira konten itu terkait atau didukung oleh merek selebriti tersebut. Oleh karena itu, Taylor Swift bisa berargumen bahwa deepfake suara yang mirip dengan dirinya akan mengecoh konsumen karena dianggap sebagai produk resmi.
Menanti Putusan Pengadilan
Taktik ini memang masih sangat baru. Kita belum mengetahui sejauh mana frasa atau elemen pertunjukan dapat menunjukkan identitas merek secara hukum. Selain itu, pemilik merek dagang juga memiliki kewajiban untuk terus menggunakan merek mereka, yang menjadi tantangan tersendiri untuk frasa yang bersifat spontan.
Singkatnya, merek dagang bukanlah solusi instan bagi ancaman deepfake atau kloning AI. Meskipun demikian, langkah para selebriti ini membuktikan bagaimana AI terus menantang manusia untuk beradaptasi dengan hukum yang ada. Di tahun 2026 ini, kreativitas dalam beradaptasi dengan regulasi menjadi kunci utama untuk melindungi privasi di tengah arus teknologi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












