WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadapi gelombang skeptisisme dari anggota parlemen dalam penampilan pertamanya di hadapan Kongres sejak perang Iran bermula. Sidang Komite Angkatan Bersenjata DPR yang semula berfokus pada anggaran militer 2027 ini berubah menjadi arena debat sengit mengenai biaya dan legitimasi konflik.
Data Pentagon menunjukkan bahwa perang ini telah menghabiskan dana sebesar $25 miliar hingga saat ini. Selain itu, pemerintahan Trump mengajukan peningkatan anggaran pertahanan ke angka bersejarah $1,5 triliun. Anggota Demokrat mempertanyakan urgensi konflik yang berlangsung tanpa persetujuan resmi dari Kongres tersebut.
Debat Nuklir: Ancaman Nyata atau Klaim Palsu?
Ketegangan memuncak saat anggota DPR Adam Smith mempertanyakan konsistensi alasan perang. Hegseth mengklaim bahwa serangan AS pada tahun 2025 telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Namun, Smith membalas dengan menanyakan mengapa pemerintah menyebut nuklir Iran sebagai “ancaman mendesak” saat memulai perang 60 hari yang lalu jika fasilitas tersebut sudah hancur.
“Kami harus memulai perang ini karena senjata nuklir adalah ancaman yang nyata,” ujar Hegseth membela diri. Ia menegaskan bahwa Iran belum menyerah pada ambisi nuklirnya dan masih memiliki ribuan rudal. Sebaliknya, Smith menilai perang ini hanya meninggalkan Amerika Serikat pada posisi yang sama seperti sebelumnya tanpa kemajuan strategis yang berarti.
Pembersihan Jenderal dan “Warrior Culture”
Isu pemecatan pemimpin militer senior turut menjadi sorotan tajam. Hegseth baru-baru ini memberhentikan Jenderal Randy George dan beberapa perwira tinggi lainnya untuk membangun apa yang ia sebut sebagai “budaya prajurit” di Pentagon. Langkah ini memicu kekhawatiran lintas partai mengenai stabilitas kepemimpinan militer.
“Kami membutuhkan kepemimpinan baru,” tegas Hegseth saat menanggapi kritik dari anggota DPR Chrissy Houlahan. Sementara itu, anggota Partai Republik Don Bacon menyatakan keprihatinan meskipun ia mengakui wewenang konstitusional eksekutif dalam merombak personel. Dukungan datang dari Nancy Mace yang memuji langkah berani Hegseth untuk mengubah cara kerja Pentagon yang dianggap birokratis.
Dampak Ekonomi dan Tekanan Harga Energi
Kritik terhadap perang juga berkaitan erat dengan kondisi ekonomi domestik. Anggota Demokrat menuduh pemerintah menyesatkan publik mengenai alasan konflik sementara harga gas terus mencekik kantong jutaan warga Amerika. John Garamendi menyebut perang ini sebagai “bencana geopolitik” dan “luka yang dibuat sendiri” oleh Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hegseth menangkis kritik tersebut dengan mempertanyakan loyalitas para pengkritiknya. Ia berpendapat bahwa biaya ekonomi saat ini jauh lebih kecil daripada risiko jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir. Di samping itu, ia mengumumkan bahwa Pentagon telah mengesahkan bantuan militer senilai $400 juta untuk Ukraina guna menyeimbangkan fokus pertahanan global.
Kebuntuan di Selat Hormuz
Hingga saat ini, Amerika Serikat dan Iran tetap terjebak dalam kebuntuan diplomatik yang melumpuhkan Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini hampir sepenuhnya tertutup, memicu lonjakan harga bahan bakar dunia. Trump secara resmi menolak proposal Iran untuk membuka kembali selat tersebut sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS.
Singkatnya, penampilan Hegseth di Capitol Hill menunjukkan garis retakan yang dalam di Washington mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Selama harga energi tetap tinggi dan transparansi anggaran perang masih menjadi perdebatan, dukungan politik terhadap konflik di Iran diprediksi akan terus mengalami ujian berat di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















