Slowbalization: Apakah Era Globalisasi Sudah Tamat?

Kamis, 27 November 2025 - 06:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perdagangan dunia melambat, tembok batas negara meninggi. Apakah globalisasi sudah mati atau sekadar ganti kulit? Simak fenomena

Perdagangan dunia melambat, tembok batas negara meninggi. Apakah globalisasi sudah mati atau sekadar ganti kulit? Simak fenomena "Slowbalization" yang mengubah ekonomi dunia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Puluhan tahun lamanya, dunia memuja mantra “dunia tanpa batas”. Arus barang dan uang mengalir deras melintasi samudra tanpa hambatan berarti. Namun, pesta pora globalisasi itu tampaknya mulai usai.

Data ekonomi menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sejak krisis finansial 2008, rasio perdagangan global terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia mengalami stagnasi, bahkan penurunan.

Majalah The Economist menamai fenomena ini sebagai “Slowbalization”. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana integrasi ekonomi global melambat secara signifikan. Lantas, pertanyaan besar pun muncul. Apakah era globalisasi benar-benar sudah tamat?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tembok Tarif dan Nasionalisme Ekonomi

Tanda-tanda kemunduran terlihat sangat nyata di depan mata. Pertama, tembok penghalang perdagangan makin tinggi. Perang tarif antara Amerika Serikat dan China menjadi bukti paling mencolok.

Baca Juga :  Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang

Negara-negara kini lebih mengutamakan kepentingan nasional di atas efisiensi global. Akibatnya, semangat nasionalisme ekonomi bangkit kembali. Pemimpin negara berlomba-lomba menyerukan slogan “Beli Produk Lokal” dan membatasi impor.

Selain itu, arus perpindahan manusia juga terhambat. Pembatasan imigrasi yang ketat membuat tenaga kerja tidak lagi bebas berpindah antarnegara. Oleh sebab itu, dunia terasa semakin sempit dan tertutup.

Dari Kontainer ke Kabel Optik

Meskipun demikian, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan kematian globalisasi. Faktanya, globalisasi sedang bermetamorfosis atau berubah bentuk.

Perdagangan barang fisik yang menggunakan kontainer memang melambat. Sebaliknya, perdagangan jasa dan arus data digital justru melesat bak roket.

Kita mungkin mengurangi pembelian baju dari luar negeri. Akan tetapi, kita semakin sering mengonsumsi layanan digital lintas batas. Kita menonton streaming film asing, menggunakan perangkat lunak buatan luar, atau melakukan rapat daring antarbenua. Globalisasi tidak mati, ia hanya pindah alam ke dunia maya.

Baca Juga :  JD Vance Bela Viktor Orban dan Kecam Ancaman Zelenskyy

Bangkitnya Blok Regional

Perubahan besar lainnya adalah pergeseran pola kerja sama. Perjanjian dagang global di bawah payung Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) kini mulai ditinggalkan. Pasalnya, kesepakatan multilateral terlalu rumit dan lambat.

Sebagai gantinya, negara-negara memilih membentuk blok perdagangan regional. Munculnya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Asia atau USMCA di Amerika Utara menjadi bukti nyata.

Negara lebih nyaman berdagang dengan tetangga dekat mereka. Artinya, rantai pasok global yang panjang dan rentan kini memendek menjadi rantai pasok regional yang lebih aman.

Globalisasi yang Melambat, Bukan Berhenti

Pada akhirnya, “Slowbalization” mengajarkan kita realitas baru. Globalisasi tidak akan hilang sepenuhnya selama manusia masih membutuhkan sumber daya dari tempat lain.

Ia hanya sedang mengerem lajunya dan mencari keseimbangan baru. Maka, kita harus bersiap menghadapi dunia yang lebih terkotak-kotak secara fisik, namun tetap terhubung erat secara digital.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI
Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan
Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol
Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang
AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi
Hakim AS Larang Pembongkaran Gedung Kennedy Center
Milisi Houthi Kuasai Jalur Maritim Utama Yaman

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 21:58 WIB

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 September 2026 - 20:55 WIB

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Minggu, 20 September 2026 - 20:30 WIB

Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol

Minggu, 20 September 2026 - 19:49 WIB

Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu

Minggu, 20 September 2026 - 18:42 WIB

Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang

Berita Terbaru

KPK menemukan petunjuk dugaan aliran uang dalam kasus HGB Summarecon.

NASIONAL

KPK Temukan Jejak Aliran Uang Kasus HGB Summarecon

Senin, 21 Sep 2026 - 18:13 WIB