Supervolcano Yellowstone: Fakta Sains di Balik Mitos Kiamat

Minggu, 28 Desember 2025 - 08:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih besar dari dugaan! Ilmuwan temukan reservoir magma raksasa di bawah Yellowstone. Apakah kita harus panik? Simak fakta siklus

Ilustrasi, Lebih besar dari dugaan! Ilmuwan temukan reservoir magma raksasa di bawah Yellowstone. Apakah kita harus panik? Simak fakta siklus "kematian" gunung berapi ini. Dok: Istimewa.

WYOMING – Taman Nasional Yellowstone terkenal dengan geyser dan keindahan alamnya. Namun, di bawah permukaan tanah yang tenang itu, bersemayam raksasa tidur yang menakutkan: sebuah supervolcano.

Istilah ini merujuk pada pusat vulkanik yang pernah meletus dengan kekuatan magnitudo 8 pada Indeks Eksplosifitas Vulkanik (VEI). Letusan semacam itu memuntahkan lebih dari 1.000 kilometer kubik material.

Profesor George Peters menggambarkan skenario terburuknya. “Letusan besar akan melenyapkan sekelilingnya dalam radius ratusan kilometer dan menutupi sisa Amerika Serikat serta Kanada dengan abu tebal,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dampaknya bisa mematikan pertanian dan memicu pendinginan iklim global selama satu dekade. Meskipun terdengar mengerikan, ahli geologi Tony Masters menenangkan publik.

“Semua letusan VEI 8 terjadi puluhan ribu hingga jutaan tahun lalu. Letusan lain mungkin terjadi, tetapi sangat tidak mungkin dalam sejuta tahun ke depan,” jelas Masters.

Mitos Penemuan Satelit dan Fakta Lapangan

Kontroversi sempat menyelimuti sejarah penemuan kaldera raksasa ini. Media pernah menuduh Survei Geologi AS (USGS) lalai karena baru mengidentifikasi supervolcano tersebut setelah melihat foto satelit NASA.

Baca Juga :  Bagaimana Tanaman Saling Membunuh?

Juru bicara USGS, Alice Wheeler, membantah keras klaim itu. Faktanya, ilmuwan USGS telah memetakan batas kaldera jauh sebelum era antariksa.

“Dia melacak batas kaldera melalui kerja lapangan kuno, berjalan dengan palu dan lensa tangan,” tegas Wheeler. NASA pun sepakat bahwa rumor tersebut tidak berdasar.

Penemuan Reservoir Magma Raksasa

Kecemasan publik kembali memuncak setelah penemuan terbaru. Seismolog Universitas Utah menggunakan teknik tomografi seismik untuk memindai isi perut bumi.

Mahasiswa pascasarjana Julia Grey menjelaskan hasilnya. “Kami menemukan bahwa ada dua reservoir magma, satu dangkal dan satu dalam. Ternyata, ukurannya jauh lebih besar dari yang diyakini sebelumnya.”

Reservoir dangkal sudah diketahui sebelumnya. Namun, reservoir dalam adalah temuan baru yang mengejutkan. Reservoir ini membentang dari kedalaman 20 hingga 50 kilometer. Volumenya sekitar 4,5 kali lebih besar daripada kantong magma dangkal di atasnya.

Meskipun ukurannya masif, reservoir ini hanya mengandung sekitar 2 persen lelehan batuan (melt). Padahal, magma biasanya tidak akan meletus kecuali kandungan lelehannya melebihi 50 persen.

Baca Juga :  Pemerintah Verifikasi Pendaftar Upacara 17 Agustus di Istana, Kuota Tambahan Segera Diumumkan

Siklus Kematian: Gunung yang Menua

Media massa dengan cepat mendramatisasi temuan ini. Sebaliknya, ilmuwan taman nasional Amy Brent menanggapi dengan tenang.

“Temuan ini tidak meningkatkan penilaian bahaya vulkanik. Justru, riset ini memberikan gambaran yang lebih baik tentang sistem magmatik,” katanya.

Banyak laporan independen mendukung pandangan bahwa Yellowstone mungkin sedang sekarat. Geolog pemerintah AS, Andrea Haller, menjelaskan bahwa aktivitas saat ini menunjukkan tanda-tanda siklus akhir.

“Kami mengamati banyak material di kamar magma yang mewakili batuan vulkanik daur ulang,” ungkap Haller.

Artinya, gunung ini mendaur ulang sisa-sisa letusan lama alih-alih memproduksi magma segar dari kerak bumi. Potensi pelelehan kerak di masa depan semakin menipis. Yellowstone diyakini sedang berada pada siklus kaldera ketiga dan terakhirnya menuju kematian geologis.

Pada akhirnya, meskipun statusnya “sekarat”, Yellowstone tetaplah entitas geologis yang aktif. Penutupan taman akibat aktivitas vulkanik minor mungkin masih akan terjadi, namun skenario kiamat supervolcano tampaknya masih jauh dari kenyataan di masa hidup kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang
Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan
Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak
AS Persiapkan Pasukan Tempur Luar Angkasa
DPR AS Sahkan RUU Sanksi dan Tarif Rusia
Bank of Japan Bersiap Naikkan Suku Bunga Utama
Direktur FBI Kash Patel Bela Kebijakan Rekrutmen Korban
Dewan Kennedy Center Setujui Penutupan Gedung

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 12:23 WIB

Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang

Jumat, 18 September 2026 - 11:16 WIB

Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan

Jumat, 18 September 2026 - 10:12 WIB

Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak

Jumat, 18 September 2026 - 09:09 WIB

AS Persiapkan Pasukan Tempur Luar Angkasa

Jumat, 18 September 2026 - 07:06 WIB

DPR AS Sahkan RUU Sanksi dan Tarif Rusia

Berita Terbaru

Runtuhnya tambang emas al-Zara di Sudan tewaskan 82 orang dan puluhan lainnya hilang. Simak rincian evakuasi dan dampaknya di sini. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang

Jumat, 18 Sep 2026 - 12:23 WIB

Arab Saudi kehabisan stok rudal pencegat dan meminta bantuan pertahanan udara sekutu. Simak rincian ancaman serangan Houthi dan krisis pasokan minyak global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan

Jumat, 18 Sep 2026 - 11:16 WIB

Uni Eropa wacanakan larangan penggunaan media sosial untuk anak di bawah 13 tahun. Simak rincian usulan Ursula von der Leyen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak

Jumat, 18 Sep 2026 - 10:12 WIB

Ilustrasi, AS bersiap menghadapi potensi konflik hingga kawasan cislunar Bulan. Simak rincian doktrin Space Force dan respons Tiongkok di sini. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

AS Persiapkan Pasukan Tempur Luar Angkasa

Jumat, 18 Sep 2026 - 09:09 WIB