NTT, POSNEWS.CO.ID – Penanganan gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berjalan. Terbaru, BNPB mencatat 192.303 orang mengungsi di tujuh daerah terdampak.
Jumlah tersebut bertambah 16.394 orang setelah BNPB melakukan pembaruan serta validasi data di lapangan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kenaikan terbesar terjadi di Kabupaten Ngada.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Data pengungsi di Ngada yang sebelumnya tercatat 3.259 orang kini menjadi 21.552 orang. Sementara itu, Kabupaten Nagekeo menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 52.284 orang.
Data Pengungsi Bertambah karena Validasi
BNPB menegaskan perubahan jumlah pengungsi tidak serta-merta menunjukkan adanya perpindahan warga secara besar-besaran.
Penambahan tersebut terjadi setelah petugas memperbarui dan memvalidasi data terdampak.
Langkah validasi penting agar bantuan pemerintah tepat sasaran. Data yang akurat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan makanan, air bersih, obat-obatan, tempat tinggal sementara, hingga distribusi logistik.
Hingga 29 Agustus 2026, BNPB juga melaporkan korban meninggal akibat gempa mencapai 111 orang.
Aktivitas gempa susulan masih terjadi sehingga penanganan dan pemantauan di wilayah terdampak terus diperkuat.
Tanggap Darurat Diperpanjang hingga 12 September
Di tengah kebutuhan penanganan yang masih tinggi, Pemerintah Provinsi NTT memperpanjang masa tanggap darurat gempa selama 14 hari.
Status yang sebelumnya berakhir pada 28 Agustus 2026 kini diperpanjang mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026.
Keputusan tersebut ditetapkan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena setelah mempertimbangkan kondisi lapangan dan aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung.
Perpanjangan status ini bukan sekadar administrasi. Kebijakan tersebut diperlukan agar distribusi bantuan, pelayanan kepada korban, evakuasi, serta penanganan kebutuhan dasar dapat berlangsung tanpa hambatan.
Berton menjelaskan, status tanggap darurat memberikan ruang bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk mempercepat penyaluran logistik serta bantuan kepada masyarakat terdampak.
Bantuan Harus Mengikuti Data Lapangan
Lonjakan angka pengungsi menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan data yang terus diperbarui.
Karena itu, pemerintah tidak hanya dituntut bergerak cepat, tetapi juga harus memastikan setiap data diverifikasi.
Dengan begitu, bantuan tidak menumpuk di satu lokasi sementara wilayah lain masih kekurangan kebutuhan dasar.
BNPB sebelumnya juga melakukan pemantauan udara untuk memetakan wilayah terdampak hingga Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Nagekeo.
Pemetaan tersebut membantu menentukan jalur serta titik distribusi bantuan, termasuk bagi warga yang tinggal di kawasan sulit dijangkau kendaraan.
Perpanjangan tanggap darurat sekaligus menjadi pengingat bahwa pemulihan pascagempa tidak selesai hanya setelah guncangan berhenti.
Evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan akses, pendataan kerusakan, dan perlindungan warga harus berjalan beriringan.
Pemerintah bersama BNPB dan seluruh unsur terkait kini menghadapi pekerjaan besar: memastikan 192.303 pengungsi mendapatkan kebutuhan dasar sekaligus mempercepat pemulihan wilayah terdampak. **
Editor : Hadwan














