Ambergris dari Perut Paus yang Lebih Mahal dari Emas Murni

Rabu, 24 Desember 2025 - 13:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pernah dengar muntahan paus yang harganya selangit? Itu Ambergris! Dulu dikira getah pohon, ternyata berasal dari

Ilustrasi, Pernah dengar muntahan paus yang harganya selangit? Itu Ambergris! Dulu dikira getah pohon, ternyata berasal dari "masalah pencernaan" paus sperma. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan Anda berjalan di pantai dan menemukan sebongkah benda abu-abu berlilin yang tampak kotor. Anda mungkin akan menendangnya begitu saja. Namun, jika Anda tahu benda itu adalah ambergris, Anda mungkin akan melompat kegirangan.

Ambergris sering dijuluki sebagai “emas terapung”. Harganya bisa menyaingi emas murni. Pada zaman kuno, zat ini sangat dipuja karena khasiat medisnya dan dipercaya sebagai afrodisiak yang ampuh jika dicampur anggur.

Dunia parfum mewah pun sangat bergantung padanya. Pasalnya, ambergris memiliki kemampuan unik sebagai zat pengikat (fixing agent). Ia membuat aroma wangi bertahan jauh lebih lama daripada bahan lainnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bingung Membedakan dengan Ambar

Sejarah mencatat kebingungan massal mengenai asal-usul benda ini. Orang Arab menyebutnya ‘anbar’, yang kemudian orang Barat adopsi menjadi ‘amber’.

Akibatnya, masyarakat awam sering menyamakannya dengan batu ambar (amber) atau suksinit. Padahal, batu ambar adalah getah pohon yang memfosil dan biasanya berwarna kuning.

Baca Juga :  Teater Pikiran Bawah Sadar: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak Saat Kita Bermimpi?

Penulis Herman Melville dalam novel legendaris Moby Dick (1851) sempat mengejek kebodohan ini. “Ambar adalah zat keras, transparan, dan tidak berbau untuk pipa rokok. Sedangkan ambergris itu lunak, berlilin, dan sangat harum,” tulis Melville.

Misteri Terpecahkan: Muntahan Paus Sperma

Teka-teki asal-usul ambergris akhirnya terpecahkan oleh sains. Pada 1783, botanis Joseph Banks mempresentasikan temuan dr. Franz Xavier Schwediawer ke Royal Society of London.

Mereka membuktikan bahwa ambergris berasal dari dalam tubuh paus sperma (sperm whale). Sebelumnya, penjelajah Marco Polo pada abad ke-13 memang pernah melihat paus memuntahkan benda tersebut di Samudra Hindia. Namun, Polo salah mengira bahwa paus itu menelan ambergris dari laut, bukan memproduksinya sendiri.

Paus sperma adalah raksasa lautan yang mampu menyelam hingga kedalaman 3.000 meter. Makanan favorit mereka adalah cumi-cumi raksasa. Sayangnya, paruh cumi-cumi yang tajam sulit dicerna dan mengiritasi usus paus.

Lantas, usus paus memproduksi cairan hitam berbau busuk untuk membungkus paruh tajam tersebut. Cairan inilah yang kemudian dimuntahkan keluar.

Baca Juga :  Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Setelah terpapar udara dan air laut, muntahan itu mengeras, berubah warna menjadi abu-abu, dan mengeluarkan aroma wangi yang khas. Sering kali, paruh cumi masih bisa kita temukan tertanam di dalam bongkahan ambergris tersebut.

Pemburu Paus dan Larangan Perdagangan

Tingginya nilai ambergris memicu perburuan paus sperma secara gila-gilaan pada abad ke-19 dan 20. Tercatat, hampir 30.000 paus dibantai hanya dalam kurun waktu 1963-1964. Lebih dari 90 persen pasokan ambergris dunia saat itu berasal dari bangkai paus hasil buruan.

Beruntung, larangan perburuan paus pada 1984 menyelamatkan spesies ini dari kepunahan. Bahkan, Undang-Undang Perlindungan Mamalia Laut 1972 di AS sudah lebih dulu melarang perdagangan ambergris.

Kini, industri parfum mulai beralih ke bahan sintetis. Akan tetapi, seiring pulihnya populasi paus liar, pemandangan “emas terapung” yang terdampar di pantai mungkin akan kembali menjadi rezeki nomplok bagi para penyisir pantai yang beruntung di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Google menghentikan operasional Google Assistant di perangkat Android mulai 4 September dan mengalihkan seluruh perintah suara ke kecerdasan buatan Gemini. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:51 WIB

Tri Waluyo menerima audiensi Koalisi Santri Kota di DPRD DKI Jakarta. (Posnews/MR)

JABODETABEK

PKB DKI Dorong Perda Pesantren untuk 107 Pesantren Jakarta

Jumat, 7 Agu 2026 - 14:43 WIB

Wamendag Dyah Roro Esti membuka Sanur Fashion Week 2026 di Denpasar, Bali. (Posnews/Kemendag)

EKBIS

Sanur Fashion Week 2026 Jadi Panggung Wastra Indonesia

Jumat, 7 Agu 2026 - 14:32 WIB