Ilmuwan Rela Menggantung di Balon dan Derek Raksasa?

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokter tak bisa mengobati pasien hanya dengan melihat kakinya. Begitu pula hutan, kita tak bisa memahaminya hanya dengan berdiri di tanah.

Dokter tak bisa mengobati pasien hanya dengan melihat kakinya. Begitu pula hutan, kita tak bisa memahaminya hanya dengan berdiri di tanah.

PANAMA CITY, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan seorang dokter mencoba mendiagnosis penyakit pasien hanya dengan memeriksa telapak kakinya. Terdengar konyol? Namun, itulah yang selama ini manusia lakukan terhadap hutan.

Andrew Mitchell, Direktur Eksekutif Global Canopy Programme (GCP), menggunakan analogi menohok tersebut untuk menggambarkan ketidaktahuan kita. Hampir semua informasi yang kita miliki tentang hutan berasal dari ketinggian dua meter di atas tanah. Padahal, kita berurusan dengan pohon raksasa yang menjulang hingga 60 meter, bahkan 112 meter.

Di atas sana, di “atap hutan” atau kanopi, tersimpan rahasia biologis terbesar bumi. Para ilmuwan memperkirakan area ini menampung hingga 40 persen dari seluruh spesies, dengan 10 persen di antaranya unik hanya ada di sana.

“Kita berhadapan dengan habitat terkaya, paling sedikit diketahui, dan paling terancam di Bumi,” ujar Mitchell. Faktanya, sekitar 70-90 persen kehidupan di hutan hujan justru berlangsung di pepohonan, bukan di tanah.

Dari Sir Francis Drake hingga Balon Prancis

Upaya menaklukkan ketinggian ini memiliki sejarah panjang. Sir Francis Drake mungkin adalah orang Inggris pertama yang memanjat pohon tinggi di Panama pada 1573 untuk melihat Pasifik. Akan tetapi, upaya ilmiah serius baru dimulai pada 1929 oleh Ekspedisi Universitas Oxford.

Baca Juga :  Pramono Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 27 Januari, Jakarta Siaga Hujan Ekstrem

Inovasi sesungguhnya datang dari Prancis. Pada pertengahan 1980-an, Francis Halle menggunakan balon udara untuk mendekati kanopi dari atas. Langkah ini memicu lahirnya alat-alat unik seperti Radeau (rakit) dan Luge (kereta luncur).

Radeau adalah jaring kevlar raksasa yang mengapung di atas pucuk pohon, menciptakan pulau buatan bagi peneliti untuk bekerja. Meskipun efektif, metode ini sangat mahal dan bergantung pada cuaca. Dr. Wilfried Morawetz dari Universitas Leipzig mencatat bahwa dalam satu minggu, mereka kadang hanya bisa terbang tiga kali.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Revolusi Derek Konstruksi

Keterbatasan balon mendorong lahirnya solusi yang lebih pragmatis: derek (crane). Smithsonian Tropical Research Institute di Panama memelopori penggunaan derek konstruksi statis untuk mengangkat ilmuwan ke tengah dedaunan.

Baca Juga :  Sistem Pemilu Dunia: Mana yang Paling Representatif untuk Demokrasi Kita?

Profesor Christian Korner dari Universitas Basel memuji metode ini. “Derek mengalahkan mode akses lainnya. Mereka murah, andal, dan cepat,” tegasnya. Bahkan, Korner menggunakan derek statis di Swiss untuk eksperimen pengayaan karbon dioksida yang unik, mencoba memprediksi respons hutan terhadap perubahan iklim global.

Beberapa ilmuwan, seperti Dr. Morawetz di Venezuela, bahkan memasang derek di atas rel sepanjang 150 meter untuk memperluas jangkauan studi.

Masa Depan di Atas Awan

Awalnya, komunitas ilmiah menganggap ide stasiun lapangan di atas pohon sebagai kegilaan. Namun, pandangan itu kini berubah total.

Meg Lowman, seorang “kanopis” ternama, menegaskan bahwa kombinasi metode adalah jalan terbaik. Oleh karena itu, kolaborasi antara penggunaan balon untuk jangkauan luas dan derek untuk studi jangka panjang menjadi kunci.

Dengan alat-alat canggih ini, kita akhirnya mulai memetakan “benua ke-8” biologi. Memahami kanopi bukan sekadar sensasi petualangan, melainkan langkah krusial untuk memahami paru-paru dunia yang sedang terancam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov
Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:43 WIB

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Berita Terbaru