Ribuan Aksi ICE Out for Good Siap Lumpuhkan AS

Minggu, 11 Januari 2026 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rekaman penembakan fatal Renee Nicole Good beredar. Gedung Putih klaim bela diri, pejabat lokal Minneapolis tuduh narasi pusat menyesatkan. Dok: Istimewa.

Rekaman penembakan fatal Renee Nicole Good beredar. Gedung Putih klaim bela diri, pejabat lokal Minneapolis tuduh narasi pusat menyesatkan. Dok: Istimewa.

MINNEAPOLIS, POSNEWS.CO.ID – Akhir pekan ini, jalanan Amerika Serikat akan membara oleh amarah. Merespons penembakan fatal terhadap Renee Good (37) oleh agen imigrasi federal, penyelenggara protes mengumumkan rencana lebih dari 1.000 unjuk rasa di seluruh negeri pada Sabtu dan Minggu.

Di bawah panji slogan “ICE, Out for Good”, demonstran menargetkan badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE). Badan ini menghadapi gelombang penolakan yang kian membesar atas pelaksanaan kebijakan deportasi keras Presiden Donald Trump.

Kematian Good di Minneapolis pada hari Rabu telah menyulut emosi kuat, tidak hanya di basis Demokrat tersebut, tetapi juga merembet hingga ke Washington D.C., Philadelphia, dan Los Angeles. Gerakan sayap kiri “No Kings”, yang tahun lalu menggelar demonstrasi nasional melawan Trump, kini turut mengamplifikasi seruan aksi ini.

Ponsel di Tangan Kiri, Pistol di Tangan Kanan

Kontroversi utama kini beralih ke teknis penembakan itu sendiri. Pemerintahan Trump bersikeras melabeli Good sebagai “teroris domestik” dan mengklaim agen bertindak membela diri. Namun, rekaman video justru memunculkan pertanyaan fatal mengenai kompetensi agen tersebut.

Baca Juga :  Rekor Baru: IEA Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak untuk Redam Krisis Teluk

Video ponsel yang agen itu rekam sendiri memperlihatkan dia mendekati dan mengelilingi mobil Good. “Saya tidak marah padamu,” ujar Good tenang dalam rekaman itu.

Akan tetapi, situasi berubah dalam hitungan detik. Saat Good mencoba melaju, agen itu berteriak “Woah”. Dengan ponsel masih tergenggam erat di satu tangan untuk merekam, ia menarik pistol dengan tangan lainnya dan menembak ke arah mobil.

Para ahli penegak hukum yang meninjau insiden tersebut memberikan kritik tajam. Keputusan agen untuk terus merekam saat melepaskan tembakan mematikan dinilai menghambat kemampuannya merespons situasi secara efektif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jika Anda begitu khawatir tentang keselamatan Anda… lantas mengapa Anda mengikat tangan dan perhatian Anda pada ponsel?” tanya seorang mantan pejabat penegak hukum senior kepada CNN. “Jelas mereka tidak merasa terancam.”

Baca Juga :  The Guardian Sebut IKN Jadi Kota Hantu, DPR Ngamuk “Buktikan Dengan Progres Nyata”

Krisis Kepercayaan pada FBI

Di tingkat lokal, ketegangan antara warga dan aparat federal kian meruncing. Pejabat dan penduduk Minnesota menyuarakan kekhawatiran karena FBI menutup akses badan penegak hukum lokal dalam investigasi ini.

Patrick O’Shaughnessy, seorang warga berusia 43 tahun, mengungkapkan keresahannya. “Ketika FBI dan badan federal mengatakan mereka tidak akan membagi bukti dengan otoritas lokal, publik tidak bisa percaya bahwa ini akan menjadi investigasi yang benar dan transparan,” ujarnya.

Sebagai bentuk protes awal, ratusan orang berkumpul pada Jumat malam di depan hotel-hotel Minneapolis yang diduga menampung agen ICE. Mereka membawa peluit, pengeras suara, dan alat musik untuk mengganggu ketenangan aparat.

Menurut The Trace, Renee Good adalah orang keempat yang tewas oleh agen imigrasi federal sejak peluncuran kebijakan deportasi baru Trump. Sementara itu, insiden terpisah di Portland, Oregon, juga melaporkan dua orang terluka akibat tembakan polisi perbatasan pada hari Kamis.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto
Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional
Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut
Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional
Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz
Gubernur Jakarta Minta Warga Tak Iming-imingi Kerabat Datang ke Ibu Kota
Napi Kabur Lapas Wamena Ditangkap di Yahukimo, Terafiliasi KKB dan Pembunuh Polisi

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:03 WIB

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:53 WIB

Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:40 WIB

Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:35 WIB

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:37 WIB

Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional

Berita Terbaru

Menyeimbangkan energi dan konstitusi. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk guna menjamin keselamatan navigasi tanpa melanggar prinsip pasifisme Jepang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Mar 2026 - 14:35 WIB