SANTIAGO, POSNEWS.CO.ID – Tragedi melanda Chili tengah-selatan. Presiden Gabriel Boric dengan berat hati mengumumkan pada hari Selasa (20/1) bahwa kebakaran hutan yang mengamuk di wilayah Bio-Bio dan Nuble telah merenggut setidaknya 18 nyawa.
Kekhawatiran masih menghantui, sebab otoritas memprediksi jumlah korban tewas bisa terus bertambah seiring tim penyelamat menyisir lokasi yang hangus.
Merespons krisis yang memburuk, Presiden Boric segera mendeklarasikan “keadaan bencana” (state of catastrophe) untuk kedua wilayah tersebut melalui media sosial. Langkah ini memberikan wewenang penuh untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang diperlukan guna memerangi api yang kian ganas.
24 Titik Api Tak Terkendali
Data dari Korporasi Kehutanan Nasional Chili melukiskan situasi yang genting. Hingga pukul 09.30 pagi waktu setempat, petugas pemadam kebakaran belum berhasil menaklukkan 24 titik api aktif.
Sembilan titik api berada di wilayah Nuble, sementara tiga lainnya berkobar di Bio-Bio. Kebakaran terbesar terjadi di kota Ranquil, Nuble, yang telah melahap sekitar 2.200 hektare lahan—sebuah area yang luas dan terus meluas.
Eksodus 30.000 Warga
Komunitas Penco, wilayah Bio-Bio, merasakan dampak kemanusiaan paling parah. Alicia Sefrian, direktur Layanan Pencegahan dan Respons Bencana Nasional Chili, memberikan laporan situasi yang mencekam kepada media.
“Kami harus mengevakuasi setidaknya 30.000 penduduk di Penco,” ungkap Sefrian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga harus meninggalkan rumah mereka di tengah kepanikan untuk menghindari jilatan api. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penilaian menyeluruh terhadap kerusakan properti, namun mereka memperkirakan kehancuran infrastruktur sangat masif.
Pemerintah Chili kini berpacu dengan waktu dan angin kencang untuk menyelamatkan sisa wilayah sebelum api melahapnya, sembari menyalurkan bantuan bagi ribuan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















