Jejak Kayu Shihuahuaco dan Ancaman Deforestasi di Peru

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ironi jalur ekonomi. Jalan raya yang awalnya bertujuan membantu petani lokal kini menjadi jalur utama pengiriman kayu

Ilustrasi, Ironi jalur ekonomi. Jalan raya yang awalnya bertujuan membantu petani lokal kini menjadi jalur utama pengiriman kayu "keystone" Amazon menuju pabrik-pabrik mewah di China. Dok: Istimewa.

PUCALLPA, PERU – Sebuah jalan raya utama di pedalaman Peru kini menyimpan cerita ironis. Awalnya, dana bantuan Amerika Serikat membangun jalan ini sebagai program insentif bagi warga lokal. Pemerintah berharap infrastruktur ini membantu petani beralih dari panen koka—bahan baku kokain—ke alternatif ekonomi yang legal.

Namun, empat tahun kemudian, jalan tersebut berubah menjadi jalur pengisap sumber daya global. Truk-truk besar mengangkut kayu dari hutan hujan Peru menuju pelabuhan untuk dikirim ke China. Pabrik-pabrik di Shanghai dan Beijing akan menyulap kayu tersebut menjadi lantai parket mewah. Sebagian besar produk akhirnya juga akan memenuhi pasar furnitur di Amerika Utara dan Eropa.

Shihuahuaco: Pohon Penjaga Ekosistem

Di sepanjang jalan yang berlumpur, terbentang hutan tua yang warga sebut sebagai Monte Alto. Di sini, para petani lokal memanfaatkan sinar matahari yang masuk lewat kanopi hutan untuk menanam singkong, ubi jalar, dan pisang. Hasil panen ini sangat krusial untuk membiayai kebutuhan dasar seperti sekolah dan rumah sakit.

Baca Juga :  Takaichi: Pintu Dialog Tak Pernah Tertutup

Namun, fokus utama riset ekologi saat ini tertuju pada spesies Dipteryx atau Shihuahuaco. Dalam perdagangan internasional, kayu ini terkenal dengan nama Cumaru. Para ekolog menyebutnya sebagai pohon “keystone” atau spesies kunci. Biji besarnya menjadi sumber pangan bagi herbivora hutan saat musim kemarau. Selain itu, lubang di batangnya menjadi tempat bersarang yang aman bagi burung beo dan macaw.

Perjalanan Menuju Esperanza

Penyelidikan berlanjut ke kota penggergajian kayu di Pucallpa. Perjalanan dua hari menembus hutan berakhir di sebuah komunitas bernama Esperanza atau “Harapan”. Di tengah lahan pertanian tradisional (Chacra), terdapat sebuah kamp penebangan kayu sementara.

Keluarga Medinas di sana menjalankan bisnis yang unik. Mereka mengelola perlindungan bagi burung, babi hutan, dan primata yang selamat dari area penebangan. Meskipun mereka hidup dari hasil hutan, kepedulian terhadap satwa tetap menjadi prioritas. Dari titik ini, jalur penebangan meluas hingga ke dalam hutan primer yang akan segera tumbang.

Baca Juga :  Mencicipi Kata, Mendengar Warna: Menguak Dunia Sinestesia

Krisis Regenerasi di Hutan Primer

Kondisi pohon-pohon dewasa di hutan ini sungguh luar biasa. Ketinggiannya mencapai 50 meter dengan diameter batang mencapai 1,3 meter. Akar banirnya yang raksasa menyebar hingga lima meter di sekeliling batang utama. Ironisnya, hampir semua pohon raksasa ini masuk dalam daftar panen untuk pelayaran jauh melintasi Pasifik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Data lapangan menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Peneliti menemukan sekitar 250 bibit dan anakan pohon, namun hanya ada dua pohon muda yang berhasil mencapai kanopi. Minimnya jumlah pohon muda yang tumbuh menjadi dewasa menandakan krisis regenerasi. Tanpa intervensi, hutan Amazon berisiko kehilangan pohon pelindung ini selamanya akibat eksploitasi yang tidak seimbang dengan pertumbuhan alaminya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pungli Oknum Polisi di Grobogan, Minta Uang ke Emak-emak – Kini Diperiksa Propam
Brimob X-Treme 2026, Ajang Menembak Internasional – Bukti Indonesia Siap Bersaing Global
Polisi Hadir untuk Semua, Penumpang Disabilitas Diprioritaskan di Dermaga Kali Adem
James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar
JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan
Kapsul Artemis II Mendarat Sempurna Setelah Jelajahi Sisi Jauh Bulan
PBB Ungkap Kegagalan Komitmen Negara Kaya dalam Menutup Kesenjangan Global
Gempur Narkoba Tanpa Henti, Polri Jaga Masa Depan Bangsa dari Ancaman Mematikan

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 17:05 WIB

Pungli Oknum Polisi di Grobogan, Minta Uang ke Emak-emak – Kini Diperiksa Propam

Minggu, 12 April 2026 - 16:39 WIB

Brimob X-Treme 2026, Ajang Menembak Internasional – Bukti Indonesia Siap Bersaing Global

Minggu, 12 April 2026 - 16:23 WIB

Polisi Hadir untuk Semua, Penumpang Disabilitas Diprioritaskan di Dermaga Kali Adem

Minggu, 12 April 2026 - 15:34 WIB

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar

Minggu, 12 April 2026 - 14:29 WIB

JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan

Berita Terbaru

Mengejar keadilan bagi penyintas. Ketua Komite Oversight DPR AS James Comer secara resmi menyetujui desakan Ibu Negara Melania Trump untuk mengadakan sidang terbuka bagi korban Jeffrey Epstein guna memberikan kesaksian di bawah sumpah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

James Comer Pastikan Sidang Kongres Jeffrey Epstein Segera Digelar

Minggu, 12 Apr 2026 - 15:34 WIB

Taruhan kedaulatan di Islamabad. Wakil Presiden AS JD Vance memulai misi diplomatik kritis guna mengakhiri perang enam pekan, di tengah tuntutan keras Teheran dan lonjakan inflasi Amerika Serikat di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

JD Vance Pimpin Perundingan Hidup-Mati dengan Iran di Pakistan

Minggu, 12 Apr 2026 - 14:29 WIB