Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade

Selasa, 14 April 2026 - 11:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alarm ekonomi dunia. Harga minyak mentah melonjak 8 persen dan bursa saham Asia memerah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap pelabuhan Iran di tengah kegagalan kesepakatan damai tahun 2026. Dok: Istimewa.

Alarm ekonomi dunia. Harga minyak mentah melonjak 8 persen dan bursa saham Asia memerah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap pelabuhan Iran di tengah kegagalan kesepakatan damai tahun 2026. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Stabilitas ekonomi internasional kembali berada di titik kritis pada Senin pagi. Para investor bereaksi cepat terhadap pengumuman terbaru Presiden Donald Trump mengenai operasi blokade pelabuhan Iran.

Dalam konteks ini, Trump menyatakan melalui media sosial bahwa militer AS akan mulai mencegat kapal di pelabuhan Iran. Langkah drastis ini bertujuan untuk melumpuhkan ekonomi Teheran secara total di tahun 2026. Akibatnya, kekhawatiran akan gangguan pasokan energi permanen memicu kepanikan di bursa komoditas dunia.

Lonjakan Minyak di Atas $\$100$ per Barel

Pasar energi langsung mencatatkan kenaikan signifikan sesaat setelah pasar dibuka. Berdasarkan data Market Watch, kontrak berjangka minyak mentah WTI dan Brent melonjak sekitar $$$8 persen.

Sebagai hasilnya, harga kedua jenis minyak tersebut kembali merangkak naik di atas angka $$$100 per barel. Lonjakan ini memberikan tekanan inflasi tambahan bagi negara-negara importir energi. Oleh karena itu, para analis memperingatkan bahwa harga bahan bakar di tingkat konsumen akan segera mengalami penyesuaian tajam dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga :  Iran di Ujung Tanduk: Pezeshkian Tawarkan Gula-Gula Ekonomi

Koreksi Bursa Saham dan Penguatan Dolar

Sentimen negatif juga merambah ke pasar modal global. Di Amerika Serikat, indeks berjangka S&P 500 mengalami penurunan sebesar $0,5$ persen. Terlebih lagi, bursa saham di kawasan Asia mencatatkan rapor merah pada penutupan perdagangan hari ini.

Daftar penurunan bursa utama meliputi:

  • Nikkei 225 (Jepang): Turun 0,74 persen.
  • KOSPI Composite (Korea Selatan): Turun 0,86 persen.

Di sisi lain, nilai tukar dolar Amerika Serikat menunjukkan tren penguatan yang solid. Investor secara masif memindahkan aset mereka ke instrumen safe-haven guna menghindari risiko geopolitik. Kondisi pasar yang tidak menentu ini mencerminkan rendahnya kepercayaan pelaku ekonomi terhadap resolusi konflik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selat Hormuz: Status “Terkendali dan Tidak Stabil”

Laporan dari perusahaan analisis maritim Inggris, Windward, memberikan gambaran suram mengenai keamanan laut. Tindakan terbaru Amerika Serikat ini menciptakan lapisan kontrol ganda di Selat Hormuz. Dalam hal ini, wilayah tersebut kini berada dalam status “terkendali namun tidak stabil”.

Baca Juga :  Aksi Main Hakim Sendiri Viral, Pegawai Ritel Babak Belur di Jakarta Selatan

Lebih lanjut, Windward memperingatkan adanya peningkatan risiko konflik langsung antar-negara di jalur energi tersebut. Keberadaan armada laut yang saling berhadapan menciptakan situasi bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Oleh sebab itu, industri pelayaran internasional kini memberlakukan premi risiko perang yang jauh lebih tinggi bagi kapal yang melintas.

Kegagalan Diplomasi Islamabad: Tanpa Kesepakatan

Guncangan pasar ini dipicu oleh konfirmasi kegagalan jalur diplomasi di Pakistan. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa tim negosiasi AS kembali ke Washington “tanpa kesepakatan” pada hari Minggu. Menurutnya, terdapat perbedaan pandangan yang sangat fundamental pada beberapa isu kunci keamanan nasional.

Ketua Perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, merespon kebijakan blokade tersebut dengan nada menantang. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah bisa ditekan oleh ancaman militer maupun ekonomi. Pada akhirnya, kebuntuan di Islamabad dan eskalasi di pelabuhan Iran menempatkan ekonomi dunia dalam ketidakpastian yang sangat berbahaya di sisa tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Senior Aniaya Junior hingga Tewas di Batam, Propam Tetapkan Bripda AS Tersangka
Bareskrim Gerebek Gudang Selundupan di Penjaringan, Ribuan HP Ilegal Disita
Tawuran Picu Kericuhan, Mobil Polisi Jadi Sasaran Lemparan Warga
Polisi Gerebek Pabrik Zenith di Semarang, Oknum Anggota Diduga Terlibat
Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS
Prabowo dan Putin Pererat Kerja Sama Energi serta Konsolidasi Kekuatan di BRICS
Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum
China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 18:36 WIB

Polisi Senior Aniaya Junior hingga Tewas di Batam, Propam Tetapkan Bripda AS Tersangka

Selasa, 14 April 2026 - 18:21 WIB

Bareskrim Gerebek Gudang Selundupan di Penjaringan, Ribuan HP Ilegal Disita

Selasa, 14 April 2026 - 18:05 WIB

Tawuran Picu Kericuhan, Mobil Polisi Jadi Sasaran Lemparan Warga

Selasa, 14 April 2026 - 17:34 WIB

Polisi Gerebek Pabrik Zenith di Semarang, Oknum Anggota Diduga Terlibat

Selasa, 14 April 2026 - 14:27 WIB

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS

Berita Terbaru

Duka di perbatasan. Pemerintah Meksiko meluncurkan protes diplomatik keras setelah seorang warganya tewas di penjara Louisiana, menyoroti kegagalan standar hak asasi manusia di pusat penahanan Amerika Serikat tahun 2026. Dok: VCG.

INTERNASIONAL

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS

Selasa, 14 Apr 2026 - 14:27 WIB