Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok

Kamis, 16 April 2026 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Validasi strategi Beijing. Kelumpuhan Selat Hormuz mempercepat transisi energi global ke arah teknologi bersih, memosisikan Tiongkok sebagai penguasa tunggal. Dok: Istimewa.

Validasi strategi Beijing. Kelumpuhan Selat Hormuz mempercepat transisi energi global ke arah teknologi bersih, memosisikan Tiongkok sebagai penguasa tunggal. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Konflik militer di Timur Tengah secara tidak terduga menjadi katalisator bagi dominasi teknologi Tiongkok. Di saat sebagian besar negara Asia berebut mengamankan cadangan minyak yang menipis, Beijing justru memetik keuntungan finansial dan politik dari percepatan transisi energi global.

Dalam konteks ini, pendekatan Tiongkok terhadap pengembangan sektor energi telah mendapatkan validasi penuh melalui konflik Iran. Oleh karena itu, strategi Presiden Xi Jinping yang menyatukan keamanan energi dengan keamanan nasional sejak satu dekade lalu kini membuahkan hasil strategis yang nyata di tahun 2026.

Benturan Visi: “Dominasi Energi” vs “Kekuatan Kualitas Baru”

Sebelum perang meletus pada Februari lalu, pasar energi dunia menyaksikan perpecahan strategi antara dua kekuatan besar. Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump memfokuskan diri pada keunggulan bahan bakar fosil melalui doktrin “Drill, Baby, Drill”.

Sebaliknya, Tiongkok tetap konsisten memprioritaskan industri rendah emisi dalam Rencana Lima Tahun hingga 2030. Akibatnya, saat kerentanan energi fosil terekspos oleh blokade Selat Hormuz, Tiongkok sudah siap dengan infrastruktur energi alternatif. “Tiongkok berada di garis depan dalam hal ini, jauh melampaui negara lain, dan tentu saja jauh lebih maju daripada Amerika Serikat,” tegas Li Shuo, direktur China Climate Hub.

Lonjakan Ekspor dan Gairah Pasar Modal

Dampak ekonomi dari perang ini terlihat jelas pada kinerja industri Tiongkok. Data menunjukkan bahwa ekspor panel surya, baterai, dan mobil listrik Tiongkok mencapai rekor hampir $22,3 miliar pada akhir tahun 2025—melonjak $47 secara tahunan.

Baca Juga :  Meruntuhkan Kesombongan Induksi: Kritik Karl Popper terhadap Positivisme Logis

Lebih lanjut, kepercayaan investor terhadap sektor ini semakin menguat. Pada Maret 2026, saham CATL dan BYD di bursa Hong Kong masing-masing naik sebesar $24 dan $11. Sebagai hasilnya, para pelaku pasar modal kini bertaruh bahwa ketegangan geopolitik di Teluk akan mendorong negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk di Eropa, untuk berinvestasi lebih besar pada sistem penyimpanan baterai dan energi terbarukan asal Tiongkok.

Pakistan dan Inggris: Contoh Nyata Pergeseran Pola Konsumsi

Rumah tangga di berbagai belahan dunia mulai bereaksi terhadap lonjakan harga bensin. Pakistan menjadi contoh awal yang signifikan; negara ini mengimpor lebih dari 50 gigawatt panel surya Tiongkok guna mengurangi ketergantungan pada minyak mentah yang melewati Selat Hormuz. Dengan demikian, Pakistan diproyeksikan mampu menghemat $6,3 miliar biaya impor fosil tahun depan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara simultan, tren serupa muncul di Inggris. Permintaan penyewaan kendaraan listrik (EV) di Inggris melonjak sepertiga hanya dalam tiga pekan pertama bulan Maret. Bahkan, produsen EV asal Vietnam, VinFast, mulai menawarkan diskon besar guna merebut momentum dari guncangan harga bahan bakar konvensional ini.

Baca Juga :  Saat Miliarder dan Wisatawan Gantikan Astronaut Pemerintah

Indonesia: Rekalibrasi Sang Raksasa Batubara

Fenomena paling menarik terjadi di Indonesia. Sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, Indonesia kini justru melakukan rekalibrasi kebijakan guna menjadi pelanggan utama teknologi energi bersih Tiongkok.

Dalam hal ini, Presiden Prabowo Subianto secara agresif mendorong program elektrifikasi transportasi nasional, termasuk rencana produksi mobil listrik domestik. Terlebih lagi, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah menyepakati investasi senilai lebih dari $64 miliar dengan PLN. “Akan ada keuntungan finansial langsung bagi perusahaan Tiongkok seiring mimpi transportasi listrik Indonesia mendapatkan perhatian baru,” ujar Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute.

Tatanan Baru Geopolitik Energi

Masa depan kedaulatan ekonomi dunia kini sedang bergeser dari penguasaan sumur minyak ke penguasaan rantai pasok mineral dan teknologi hijau. Pada akhirnya, guncangan energi tahun 2026 telah membuktikan bahwa ketergantungan pada fosil merupakan risiko keamanan yang mahal.

Dengan demikian, Tiongkok telah berhasil mengamankan posisinya sebagai “pemberi solusi” bagi krisis energi dunia. Di tahun 2026 ini, keberhasilan Beijing dalam mendominasi teknologi rendah emisi bukan hanya sekadar urusan ekonomi, melainkan instrumen soft power yang paling efektif untuk memenangkan persaingan pengaruh global di abad ke-21.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir 160 Cm Rendam Kebon Pala Jaktim, Polairud Polda Metro Jaya Turun Evakuasi Warga
Tawuran Sadis Johar Baru: Korban Air Keras Terluka Parah, Pelaku Justru Tak Ditahan
Nus Kei Tewas di Bandara Kei, Pelaku Ngaku Balas Dendam Kematian Saudara Sejak 2020
Tabrakan Maut TransJakarta di Jakarta Utara, Penumpang Motor Tewas di Tempat
Kejahatan Jalanan Mengganas, HP Turis Jerman Dirampas di Pasar Baru
Tawuran Berujung Mengerikan, Remaja Disiram Air Keras hingga Buta Sebelah
Santap Kepiting Berujung Maut, 1 Tewas dan 4 Dirawat di RS ODSK Minsel
Kasus Intoleransi Marak, Hashim Desak Polisi dan Kejaksaan Bertindak Tegas

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 14:52 WIB

Banjir 160 Cm Rendam Kebon Pala Jaktim, Polairud Polda Metro Jaya Turun Evakuasi Warga

Senin, 20 April 2026 - 14:32 WIB

Tawuran Sadis Johar Baru: Korban Air Keras Terluka Parah, Pelaku Justru Tak Ditahan

Senin, 20 April 2026 - 14:11 WIB

Nus Kei Tewas di Bandara Kei, Pelaku Ngaku Balas Dendam Kematian Saudara Sejak 2020

Senin, 20 April 2026 - 12:17 WIB

Tabrakan Maut TransJakarta di Jakarta Utara, Penumpang Motor Tewas di Tempat

Senin, 20 April 2026 - 09:54 WIB

Kejahatan Jalanan Mengganas, HP Turis Jerman Dirampas di Pasar Baru

Berita Terbaru