Auguste Comte dan Lahirnya Positivisme: Menggeser Dogma Menjadi Data

Jumat, 3 April 2026 - 12:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rasio di atas dogma. Auguste Comte merevolusi cara manusia memahami masyarakat dengan memperkenalkan Positivisme—sebuah metode ilmiah yang mengutamakan data empiris guna menciptakan keteraturan dan kemajuan sosial. Dok: Istimewa.

Rasio di atas dogma. Auguste Comte merevolusi cara manusia memahami masyarakat dengan memperkenalkan Positivisme—sebuah metode ilmiah yang mengutamakan data empiris guna menciptakan keteraturan dan kemajuan sosial. Dok: Istimewa.

PARIS, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada abad ke-19 sedang mengalami guncangan hebat. Penemuan mesin uap dan pabrik-pabrik besar mengubah lanskap ekonomi secara mendadak. Namun, kemajuan fisik tersebut tidak berbanding lurus dengan stabilitas sosial. Di tengah kekacauan inilah, Auguste Comte muncul dengan gagasan radikal: masyarakat harus kita pelajari layaknya ilmuwan mempelajari alam.

Langkah ini menandai lahirnya Positivisme. Oleh karena itu, memahami Comte berarti memahami akar dari cara kita mengambil keputusan berbasis data di era digital tahun 2026.

Latar Belakang: Revolusi Industri dan Krisis Sosial

Revolusi Industri membawa kemakmuran sekaligus kesengsaraan massal. Urbanisasi besar-besaran menciptakan pemukiman kumuh, kemiskinan, dan konflik kelas yang tajam. Dalam konteks ini, dogma agama dan renungan filsafat abstrak tidak lagi mampu memberikan solusi praktis bagi masalah sosial yang kian kompleks.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Comte melihat adanya kekosongan otoritas intelektual. Masyarakat kehilangan jangkar moral lama namun belum menemukan panduan baru. Sebagai hasilnya, ia merumuskan bahwa dunia membutuhkan “fisika sosial” atau sosiologi. Ia meyakini bahwa hanya melalui metode ilmiah—observasi, eksperimen, dan perbandingan—manusia dapat membangun kembali tatanan dunia yang retak.

Baca Juga :  Mayat Dalam Koper Dikubur Pasir di Brebes, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan

Slogan “Order and Progress”: Keteraturan dan Kemajuan

Pilar utama pemikiran Comte tertuang dalam slogan legendaris: L’amour pour principe et l’ordre pour base; le progrès pour but (Cinta sebagai prinsip, keteraturan sebagai dasar, kemajuan sebagai tujuan). Bahkan, slogan ini kini abadi pada bendera negara Brasil sebagai “Ordem e Progresso”.

Secara khusus, Comte berpendapat bahwa kemajuan (progress) tanpa keteraturan (order) hanya akan menghasilkan anarki. Sebaliknya, keteraturan tanpa kemajuan akan menyebabkan stagnasi atau ketertinggalan. Oleh sebab itu, filsafat Positivisme berupaya menyatukan keduanya. Di tahun 2026, prinsip ini relevan dalam pembangunan kota cerdas (smart cities), di mana teknologi (kemajuan) harus tetap menjaga kohesi sosial (keteraturan).

Filsafat sebagai Basis Ilmu Pengetahuan Praktis

Comte memperkenalkan “Hukum Tiga Tahap” untuk menjelaskan evolusi pemikiran manusia:

  1. Tahap Teologis: Manusia menjelaskan fenomena melalui kehendak dewa atau kekuatan gaib.
  2. Tahap Metafisis: Manusia menggunakan konsep abstrak seperti “hak alamiah” untuk memahami dunia.
  3. Tahap Positif: Manusia hanya fokus pada fakta yang dapat kita amati dan hubungan hukum antar-fenomena.
Baca Juga :  Produsen Minyak Teluk Aktifkan Jalur Lintas Darat Guna Hindari Selat Hormuz

Terlebih lagi, ia menegaskan bahwa filsafat tidak boleh lagi menjadi sekadar latihan mental yang sia-sia. Filsafat harus berfungsi sebagai basis bagi ilmu pengetahuan praktis. Dalam hal ini, para pemimpin harus membuat kebijakan berdasarkan data statistik dan bukti empiris, bukan berdasarkan intuisi atau tradisi semata. Dengan demikian, Positivisme mengubah peran intelektual dari sekadar pengamat menjadi arsitek sosial yang aktif.

Warisan Data dalam Diplomasi Modern

Masa depan tatanan dunia bergantung pada seberapa jujur kita dalam mengolah data. Pada akhirnya, Auguste Comte mengajarkan bahwa perdamaian dan kemajuan hanya mungkin tercapai jika kita berani melepaskan prasangka dogma demi kebenaran ilmiah.

Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak pendekatan positivistik dalam menangani isu global seperti perubahan iklim atau ekonomi siber di tahun 2026. Jika kita gagal mengandalkan data, maka kita akan kembali terjebak dalam kegelapan dogma yang memicu perpecahan. Comte mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya alat yang paling andal untuk menavigasi badai sejarah manusia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen
Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang
Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran
Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru
Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad
Donald Trump Jadwalkan Pertemuan dengan Kim Jong Un
PM Israel Benjamin Netanyahu Targetkan Turki di Suriah
Andy Burnham Luncurkan Program Penanganan Tunawisma

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:59 WIB

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 06:35 WIB

Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:15 WIB

Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:06 WIB

Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad

Berita Terbaru

Pengadilan Tinggi Hong Kong memvonis bersalah dua mantan pemimpin kelompok yang selama puluhan tahun menggelar peringatan tragedi Tiananmen 1989. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen

Sabtu, 22 Agu 2026 - 16:59 WIB

Game Science mendadak merilis trailer gameplay berdurasi 15 menit untuk Black Myth: Zhong Kui. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Game Science Rilis Trailer Gameplay Black Myth: Zhong Kui

Sabtu, 22 Agu 2026 - 14:30 WIB