PRAIA, POSNEWS.CO.ID – Kapal pesiar mewah MV Hondius akhirnya meninggalkan posisi labuh jangkarnya pada hari Rabu. Kapal pembawa hampir 150 penumpang ini kini mengarahkan haluan menuju Tenerife, Spanyol.
Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, mengonfirmasi kedatangan kapal dalam waktu tiga hari. Hingga saat ini, penumpang yang tersisa tidak menunjukkan gejala penyakit. Spanyol berencana mengarantina 14 warga negaranya di rumah sakit militer Madrid. Penumpang asing lainnya akan segera pulang ke negara masing-masing setibanya di pelabuhan.
Evakuasi Medis dan Kendala Lintas Udara
Drama penyelamatan pasien kritis sempat mewarnai keberangkatan kapal. Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan tiga pasien evakuasi sedang menuju Belanda. Para pasien tersebut terdiri dari warga negara Belanda, Jerman, dan Inggris.
Operasi evakuasi udara ini sempat menghadapi rintangan diplomatik. Maroko menolak izin mendarat pesawat pengangkut pasien yang hendak mengisi bahan bakar. Akibatnya, pesawat terpaksa mengalihkan rute ke Gran Canaria. Di sana, sistem pendukung hidup pasien sempat mengalami gangguan teknis. Beruntung, bandara setempat segera memberikan bantuan pasokan listrik darurat.
Karakteristik Virus: Mengenal “Andean Strain”
Otoritas kesehatan Afrika Selatan mengonfirmasi temuan krusial bagi investigasi ini. Mereka mengidentifikasi keberadaan hantavirus strain Andean pada para korban. Strain ini merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang dapat menular antarmanusia.
“Penularan ini sangat jarang dan hanya mungkin melalui kontak fisik dekat,” jelas Maria Van Kerkhove dari WHO. Hal ini mencakup aktivitas berbagi kamar atau pemberian perawatan medis langsung. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa virus ini berbeda dengan COVID-19. Hantavirus tidak menyebar semudah influenza melalui udara.
Tragedi dalam Pelayaran Remot
Wabah ini tercatat telah menelan tiga korban jiwa. Korban meliputi sepasang suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman. Investigasi menunjukkan virus mulai menyebar sebelum kapal mencapai Saint Helena.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekitar 40 orang sempat turun di pulau terpencil tersebut. Salah satunya adalah warga Swiss yang kini dirawat di Zurich karena menunjukkan gejala. Selain itu, otoritas Afrika Selatan kini melacak 65 orang yang pernah berkontak dengan pasien. Langkah ini bertujuan memutus rantai penyebaran lebih luas. Mengingat masa inkubasi mencapai 45 hari, pengawasan ketat akan terus berlangsung.
Kehidupan di Atas Kapal: Tenang di Tengah Karantina
Meskipun situasi tampak mencekam, suasana di dalam dek tetap terkendali. Salah satu penumpang, Kasem Hato, menceritakan rutinitas di dalam kabin. Kapten kapal rutin memberikan informasi terbaru kepada seluruh penghuni.
“Hari-hari kami berjalan hampir normal,” ujar Hato. Penumpang menyibukkan diri dengan membaca atau menonton film sambil menunggu solusi. Meskipun demikian, para penumpang tetap disiplin menerapkan jarak sosial. Mereka juga rajin menggunakan pembersih tangan dan mengenakan masker sesuai protokol kapal.
Kesimpulan: Ujian Protokol Kesehatan Maritim
Insiden MV Hondius ini menjadi pelajaran berharga bagi industri pelayaran global. Penanganan penyakit langka di rute terpencil kini menjadi perhatian utama. Keberhasilan evakuasi lintas negara diharapkan mampu mencegah jatuhnya korban jiwa tambahan.
Singkatnya, keberhasilan penanganan krisis ini bergantung pada kecepatan deteksi dini. Kepatuhan terhadap masa karantina yang panjang juga sangat menentukan. Dunia kini menanti kedatangan kapal di Tenerife guna memastikan seluruh penumpang pulang dalam kondisi sehat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia











