BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Suasana tenang di ibu kota Lebanon mendadak pecah oleh dentuman ledakan. Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Beirut untuk pertama kalinya sejak kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada bulan April lalu.
Pemerintah Israel mengonfirmasi bahwa serangan tersebut secara spesifik menargetkan seorang komandan dari pasukan elit Radwan milik Hezbollah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz merilis pernyataan bersama yang menegaskan tindakan militer tersebut. Media lokal Israel melaporkan bahwa sang komandan tewas di lokasi, meskipun Hezbollah belum memberikan konfirmasi resmi mengenai status pemimpin mereka tersebut.
Ancaman Terhadap Stabilitas Kawasan
Serangan di Beirut ini memberikan tekanan besar pada kesepakatan damai yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Pasalnya, Teheran selama ini menjadikan penghentian serangan Israel di Lebanon sebagai syarat kunci dalam perundingan nuklir dan ekonomi dengan Washington.
Meskipun demikian, pasukan Israel tetap mempertahankan kehadiran militer di wilayah selatan Sungai Litani. Israel bahkan mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga di beberapa desa di utara sungai tersebut. Langkah ini mengindikasikan adanya potensi perluasan zona operasi militer Israel di tahun 2026 yang kian tidak menentu.
Saling Balas di Wilayah Selatan
Hezbollah merespons agresi udara tersebut dengan meluncurkan gelombang serangan drone bersenjata dan roket ke arah posisi tentara Israel. Akibatnya, dua tentara Israel dilaporkan mengalami luka-luka dalam pertempuran di Lebanon Selatan.
Tragedi kemanusiaan juga melanda kota Zelaya. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan udara Israel menewaskan empat orang, termasuk dua wanita dan seorang pria lanjut usia. Selain itu, militer Israel mengeklaim telah mencegat sebuah pesawat asing yang mencoba memasuki wilayah udara mereka sebelum menghancurkan sejumlah infrastruktur milik Hezbollah di beberapa titik strategis.
Diplomasi Lebanon: “Damai Bukan Normalisasi”
Di tengah desing peluru, jalur diplomasi sebenarnya tetap berjalan di tingkat duta besar di Washington. Namun, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menegaskan bahwa wacana pertemuan tingkat tinggi antara Lebanon dan Israel masih terlalu dini untuk dibahas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Lebanon tidak mencari normalisasi dengan Israel, melainkan mencapai perdamaian yang adil,” tegas Salam pada hari Rabu. Ia merinci rincian tuntutan minimal Lebanon sebagai berikut:
- Penyusunan jadwal penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah kedaulatan Lebanon.
- Implementasi rencana pembatasan senjata hanya di bawah kendali negara (pelucutan senjata Hezbollah).
- Penguatan kesepakatan keamanan sebagai landasan perundingan masa depan.
Posisi Presiden Joseph Aoun dan Kebuntuan Politik
Presiden Lebanon Joseph Aoun turut memperkuat sikap pemerintah. Ia menyatakan bahwa waktu saat ini tidak tepat bagi dirinya untuk bertemu dengan Netanyahu. Menurut Aoun, prioritas utama saat ini adalah tercapainya kesepakatan keamanan yang solid dan penghentian total serangan agresif Israel sebelum membahas isu-isu politik lainnya.
Sejak Hezbollah memicu perang pada 2 Maret lalu guna mendukung kepentingan Iran, Lebanon menghadapi perpecahan internal yang dalam. Faksi-faksi politik di Beirut kini terbelah antara pendukung resistensi bersenjata dan mereka yang menuntut penguatan otoritas negara di seluruh wilayah nasional.
Menghitung Biaya Perang
Konflik yang meletus sejak awal Maret 2026 ini telah menelan biaya kemanusiaan yang sangat besar. Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 2.700 orang tewas di pihak Lebanon. Singkatnya, serangan terbaru ke Beirut ini membuktikan bahwa gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Donald Trump masih sangat rapuh dan dapat runtuh kapan saja.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












