WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Partai Republik di Senat menunda proposal dana keamanan senilai $1 miliar untuk Gedung Putih. Mereka gagal mengumpulkan dukungan yang cukup di Capitol Hill. Sejumlah anggota parlemen meragukan besaran biaya serta detail penggunaan dana tersebut.
Pemerintahan Trump berupaya memasukkan dana ini ke dalam rancangan undang-undang anggaran sebesar $70 miliar. RUU tersebut bertujuan memulihkan pendanaan bagi badan penegakan imigrasi dan Patroli Perbatasan. Namun, proposal keamanan ini menghadapi penolakan keras dari beberapa legislator Republik.
Kontroversi Pengamanan “Ruang Dansa”
Direktur Secret Service, Sean Callan, membahas proposal tersebut dalam jamuan makan siang tertutup. Dalam hal ini, dana sebesar $220 juta rencananya akan memperkuat ruang dansa baru di Sayap Timur. Pengamanan meliputi kaca antipeluru, teknologi deteksi drone, serta sistem filtrasi ancaman kimia.
Senator Republik dari Louisiana, John Kennedy, menyebut pembahasan anggaran ini kembali ke titik nol. Ia menyatakan bahwa mereka tidak memiliki suara yang cukup untuk meloloskan aturan tersebut. Selanjutnya, Senator Thom Tillis dari North Carolina menyebut paket keamanan ini sebagai “ide buruk” meskipun nilainya dikurangi.
Dana Kompensasi: “Slush Fund” atau Keadilan?
Di sisi lain, Demokrat dan beberapa anggota Republik mempertanyakan legalitas dana kompensasi sebesar $1,776 miliar. Dana ini bertujuan memberi ganti rugi kepada sekutu Trump yang mengeklaim diri sebagai korban politisasi hukum.
Senator Demokrat Chris Coons bersumpah akan memblokir pendanaan tersebut melalui amandemen rancangan undang-undang pengeluaran. Bahkan, dua petugas polisi yang mempertahankan Capitol pada 6 Januari mengajukan gugatan pada Rabu untuk menghentikan distribusi dana tersebut. Mereka melabeli program ini sebagai “dana siluman” (slush fund) yang melegalkan kekerasan terhadap aparat.
Gejolak Internal Partai Republik
Ketegangan di Senat bertambah setelah Presiden Trump memberikan dukungan kepada Jaksa Agung Texas, Ken Paxton. Langkah ini memicu amarah di kalangan senator Republik karena Paxton menjadi lawan bagi petahana Senat John Cornyn dalam pemilihan utama pekan depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tentu saja ada konsekuensi jika menantang senator Amerika Serikat,” ujar Pemimpin Mayoritas Senat, John Thune. Oleh karena itu, agenda pemerintahan di Capitol Hill kini menjadi jauh lebih rumit. Pemimpin Republik harus menyeimbangkan antara loyalitas kepada presiden dan kepentingan strategis partai untuk memenangkan pemilihan November mendatang.
Menanti Kepastian Agenda Legislatif
Situasi di Capitol Hill menunjukkan keretakan serius dalam faksi Republik. Singkatnya, tuntutan dana keamanan $1 miliar kini terancam gagal karena kurangnya dukungan internal serta perlawanan gigih dari pihak Demokrat.
Dengan demikian, masyarakat kini memantau apakah pimpinan Republik mampu menyatukan suara untuk mengamankan agenda presiden. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, perselisihan terkait anggaran keamanan simbol kekuasaan tersebut menjadi ujian bagi soliditas kepemimpinan Donald Trump di Kongres.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












