Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Sebuah ledakan gas dahsyat mengguncang tambang batu bara Liushenyu di Provinsi Shanxi, China, pada Jumat malam. Peristiwa ini merenggut setidaknya 90 nyawa pekerja. Kantor berita Xinhua melaporkan bencana ini sebagai insiden pertambangan paling mematikan di China dalam 17 tahun terakhir.

Saat ledakan terjadi pada pukul 19.29 waktu setempat, terdapat 247 pekerja di dalam terowongan tambang. Sebagian besar pekerja berhasil selamat setelah tim penyelamat membawa mereka ke permukaan pada Sabtu pagi. Namun, jumlah korban tewas terus meningkat seiring penemuan jenazah di lokasi kejadian.

Operasi Penyelamatan Besar-besaran

Pemerintah mengerahkan 345 personel darurat ke lokasi tambang. Sebelumnya, tim penyelamat mencari sembilan orang yang sempat hilang secara intensif. Mereka bekerja tanpa henti di tengah kondisi lokasi tambang yang berbahaya pasca-ledakan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rekaman video dari penyiar negara CCTV menunjukkan petugas penyelamat mengenakan helm sambil membawa tandu. Ambulans terlihat bersiaga di latar belakang area tambang yang porak-poranda. Oleh karena itu, tim medis langsung memberikan pertolongan pertama bagi para korban yang berhasil selamat.

Baca Juga :  Tambang Ilegal: Lingkaran Setan Kemiskinan, Mafia, dan Racun Merkuri

Arahan Presiden Xi Jinping

Presiden Xi Jinping memberikan instruksi tegas setelah menerima laporan tragedi tersebut. Ia meminta otoritas terkait melakukan segala upaya untuk merawat korban luka. Selain itu, ia menuntut investigasi menyeluruh guna mengungkap penyebab pasti ledakan.

“Setiap wilayah dan departemen harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini,” tulis Xinhua mengutip arahan Xi. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan konstan terhadap keselamatan kerja. Maka dari itu, pemerintah bertekad mencegah terjadinya bencana besar serupa di masa depan melalui pengawasan yang jauh lebih ketat.

Penegakan Hukum dan Keamanan Kerja

Polisi segera bertindak setelah insiden tersebut. Xinhua melaporkan bahwa otoritas telah menahan orang yang bertanggung jawab atas perusahaan tersebut. Langkah hukum ini diambil sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku di China.

Baca Juga :  Trump Tolak Proposal Iran Saat Harga Minyak Dunia Melonjak

Sebelumnya, media negara melaporkan adanya lonjakan kadar karbon monoksida yang melebihi batas aman di tambang tersebut. Hal ini menjadi indikasi awal mengapa ledakan gas bisa terjadi dengan sangat cepat. Beberapa pekerja yang terjebak di bawah tanah sempat berada dalam kondisi kritis sebelum akhirnya ditemukan oleh tim evakuasi.

Catatan Kelam Keselamatan Tambang

Kecelakaan ini kembali mencoreng catatan keselamatan industri pertambangan China. Meskipun standar keselamatan telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, kecelakaan fatal masih kerap terjadi karena protokol yang sering kali lemah.

Singkatnya, bencana di Shanxi menjadi peringatan keras bagi seluruh industri berat di China. Dengan demikian, pemerintah harus segera memperbarui protokol keselamatan demi menjamin nyawa para pekerja tambang tidak lagi menjadi harga mahal atas kebutuhan energi negara yang terus meningkat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk
DPRD DKI Usul CCTV dan Patroli Rutin untuk Redam Kriminalitas
BMKG: Hujan Meluas di Jabodetabek dan Sejumlah Kota Besar Indonesia

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:37 WIB

Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna

Berita Terbaru

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ilustrasi, Jamaah haji Indonesia di Makkah.  (Posnews/Ist)

NASIONAL

Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:37 WIB