Pengadilan Kenya Blokir Proyek Karantina Ebola AS

Rabu, 3 Juni 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan diplomatik di Afrika Timur. Pengadilan Tinggi Kenya membekukan proyek fasilitas karantina Ebola militer AS di Nanyuki menyusul bentrokan berdarah yang menewaskan dua pengunjuk rasa. Dok: REUTERS/John Muchucha

Ketegangan diplomatik di Afrika Timur. Pengadilan Tinggi Kenya membekukan proyek fasilitas karantina Ebola militer AS di Nanyuki menyusul bentrokan berdarah yang menewaskan dua pengunjuk rasa. Dok: REUTERS/John Muchucha

NANYUKI, POSNEWS.CO.ID – Pengadilan Tinggi Kenya resmi menghentikan sementara rencana pembangunan fasilitas karantina penyakit Ebola milik militer Amerika Serikat. Melalui keputusan ini, hakim melarang seluruh aktivitas pembangunan di pangkalan udara wilayah Nanyuki selama tiga minggu ke depan.

Keputusan hukum ini keluar menyusul gelombang unjuk rasa besar dari warga lokal yang menolak keras proyek tersebut. Sebab, bentrokan antara pihak kepolisian dan para demonstran telah menewaskan dua warga sipil di lapangan.

Perintah Hakim dan Tuntutan Transparansi

Hakim Pengadilan Tinggi Kenya, Patricia Nyaundi, memimpin langsung persidangan gugatan dari lembaga advokasi hukum setempat pada Selasa. Secara spesifik, ia memerintahkan pemerintah Kenya untuk membuka seluruh dokumen kesepakatan operasional dengan Washington dalam waktu tujuh hari.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pemerintah harus memaparkan protokol kesehatan secara transparan sebelum melanjutkan proyek ini,” tegas Nyaundi dalam persidangan. Selanjutnya, pengadilan menjadwalkan sidang lanjutan kasus sengketa medis internasional ini pada 23 Juni mendatang.

Baca Juga :  Tulip: Kisah Gelembung Ekonomi Pertama Dunia

Sementara itu, beberapa sumber diplomatik melaporkan bahwa pesawat militer AS tetap menerbangkan peralatan dan personel ke pangkalan. Angkatan Udara AS seolah mengabaikan perintah pembekuan sementara yang pengadilan keluarkan sejak pekan lalu.

Penolakan Warga dan Protes Berdarah

Rencana pembangunan unit karantina berkapasitas 50 tempat tidur ini memicu kemarahan publik yang sangat besar di Kenya. Sebab, warga menuduh Amerika Serikat sengaja memindahkan risiko penyebaran virus mematikan tersebut ke wilayah Afrika Timur.

Ratusan warga menggelar aksi unjuk rasa di sekitar pangkalan udara Nanyuki pada hari Senin kemarin. Akibatnya, bentrokan pecah saat aparat kepolisian melepaskan tembakan peluru tajam ke arah kerumunan massa yang emosional.

“Dua orang demonstran tewas akibat luka tembak dari senjata polisi,” ungkap koordinator aksi protes, Patrick Wahome, dengan nada geram. Namun, juru bicara kepolisian setempat mengeklaim belum menerima laporan resmi mengenai adanya korban jiwa dalam aksi tersebut.

Baca Juga :  Donald Trump Nominasikan Jay Clayton Jadi Direktur Intelijen Nasional

Pembelaan Presiden Ruto dan Kebijakan Trump

Presiden Kenya, William Ruto, segera pasang badan dan membela kebijakan kerja sama kesehatan jangka panjang dengan Amerika Serikat tersebut. Menurutnya, fasilitas karantina ini justru akan memperkuat sistem kesiapsiagaan darurat penyakit nasional di Kenya.

“Kami adalah pemerintah yang bertanggung jawab dan sangat memahami langkah ini,” ujar Ruto dalam pidato resminya. Selain itu, Washington juga telah berkomitmen memberikan bantuan dana kesiapsiagaan Ebola sebesar 13,5 juta dolar AS bagi Kenya.

Di sisi lain, seorang pejabat AS menegaskan bahwa fasilitas darurat tersebut murni hanya akan merawat warga negara Amerika. Fasilitas ini khusus menampung para relawan medis yang terpapar virus Ebola strain Bundibugyo di Kongo dan Uganda.

Pemerintahan Donald Trump berkomitmen melarang pasien terinfeksi Ebola masuk kembali ke wilayah daratan Amerika Serikat. Oleh karena itu, mereka mencari lokasi karantina alternatif di luar negeri sebelum memulangkan warga yang masih tanpa gejala (asymptomatic).

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan
Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros
Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris
Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan
Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea
9 Warga Sipil Gaza Tewas Akibat Gempuran Udara
Tensi Hormuz Membara: Gempuran Udara dan Rudal Iran
6 Warga Meninggal dan Puluhan Rumah Hancur di Chupaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:00 WIB

Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:29 WIB

Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:30 WIB

Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris

Senin, 20 Juli 2026 - 22:25 WIB

Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan

Senin, 20 Juli 2026 - 21:17 WIB

Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea

Berita Terbaru

Langkah taktis pereda ketegangan kawasan. Arab Saudi dan UEA meluncurkan pesan persaudaraan serentak di media sosial guna mengakhiri perselisihan geopolitik beberapa bulan terakhir. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan

Rabu, 22 Jul 2026 - 10:00 WIB