BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Bea Cukai Tiongkok mencatat volume impor minyak nabati mencapai 500.000 ton pada Mei 2026.
Angka itu melonjak 8,2 persen daripada periode yang sama tahun lalu.
Akumulasi impor sepanjang Januari hingga Mei menyentuh angka 2,93 juta ton.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pencapaian ini mencetak kenaikan sebesar 17,5 persen secara tahunan.
Sawit Mendominasi Pasar Impor
Komoditas minyak sawit memimpin pertumbuhan impor secara luar biasa sepanjang tahun ini.
Tiongkok mengimpor 220.000 ton minyak sawit pada Mei, naik 25,2 persen.
Total impor sawit selama lima bulan awal melesat 54,8 persen menjadi 1,11 juta ton.
Permintaan kuat industri makanan dan pasokan lancar Asia Tenggara menyokong lonjakan besar ini.
Impor Kedelai dan Kanola yang Lambat
Sebaliknya, impor minyak kedelai berjalan lambat dengan volume hanya 10.000 ton pada Mei.
Total impor minyak kedelai selama lima bulan pertama hanya menyentuh 30.000 ton.
Industri penghancuran kedelai lokal tetap memegang peran utama sebagai pemasok pasar domestik.
Sementara itu, impor minyak kanola menyusut 5,6 persen menjadi 970.000 ton.
Penurunan Impor Biji Kedelai
Tiongkok juga memotong impor biji kedelai sebesar 15,3 persen menjadi 11,79 juta ton pada Mei.
Total impor biji kedelai selama lima bulan pertama mencapai 36,94 juta ton.
Analis memproyeksikan penurunan pasokan biji kedelai ini akan membatasi produksi minyak kedelai masa depan.
Pengaruh Damai AS-Iran
Pada sisi lain, harga energi dunia merosot setelah kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran.
Penurunan harga minyak bumi mengurangi proyeksi permintaan biodiesel secara global.
Pasar spot juga memperlihatkan pergerakan harga yang bervariasi bagi setiap komoditas.
Harga minyak sawit tetap kuat karena penurunan stok pelabuhan pada Tiongkok.
Sebaliknya, harga minyak kanola merosot akibat penumpukan pasokan dan permintaan yang lemah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












