POSNEWS.CO.ID, KUALA LUMPUR — Futures minyak sawit Malaysia berbalik naik pada Kamis setelah sempat mengalami kerugian di tengah hari. Kenaikan ini mengikuti kinerja minyak nabati saingan di bursa Dalian, sementara pasar masih menantikan katalis lebih lanjut.
Pergerakan Harga Kontrak Sawit
Kontrak minyak sawit acuan untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 27 ringgit, atau 0,57 persen. Angka ini mencapai 4.724 ringgit, setara $1.156,43, pada penutupan perdagangan.
Seorang trader di Kuala Lumpur memperkirakan futures akan diperdagangkan pada kisaran 4.650 hingga 4.750 ringgit. Ia menyebut pergerakan harga akan tetap mengikuti kinerja Dalian sambil menunggu perkembangan baru.
Kinerja Bursa Dalian dan Chicago
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,5 persen, sementara kontrak minyak sawitnya naik 0,4 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,06 persen.
Minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan harga minyak nabati saingan, karena keduanya bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Lonjakan Impor India dan Putusan Moratorium Brasil
Sebuah badan perdagangan melaporkan pada Kamis bahwa impor minyak sawit India melonjak sekitar 50 persen pada Juli. Angka ini mencapai 730.965 metrik ton dibanding bulan sebelumnya.
Sementara itu, Mahkamah Agung Brasil membentuk mayoritas suara pada Rabu untuk memutuskan perjanjian moratorium kedelai tetap legal. Perjanjian ini melarang perusahaan membeli kedelai dari kawasan yang mengalami deforestasi setelah 2008.
Putusan ini membebaskan pedagang dan pengolah gandum dari kewajiban membayar kompensasi yang petani tuntut. Para petani sebelumnya berargumen bahwa perjanjian tersebut merupakan bentuk kartel.
Kebijakan Ekspor Malaysia dan Faktor Harga Minyak Mentah
Malaysia menurunkan harga referensi minyak sawit mentah September ke level yang mempertahankan bea ekspor di angka 10 persen. Informasi ini tercantum dalam edaran di situs web Malaysian Palm Oil Board pada Rabu.
Harga minyak mentah dunia turun pada Kamis, seiring investor menilai prospek pelemahan permintaan global tahun ini dan kenaikan stok minyak mentah AS. Namun, harga tetap mendapat dukungan dari kebuntuan pembicaraan soal Selat Hormuz yang diblokade serta gangguan pasokan.
Penurunan harga futures minyak mentah membuat sawit menjadi bahan baku biodiesel yang kurang menarik. Sementara itu, ringgit, mata uang perdagangan sawit, melemah 0,05 persen terhadap dolar, membuat komoditas tersebut sedikit lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














